ROTI PASKAH

Awalnya, Paskah (Passover, Pesach, Pesah, Pesakh) adalah hari raya Umat Yahudi. Paskah adalah hari pembebasan Bani Israel dari status mereka sebagai budak di Mesir. Dibawah pimpinan Nabi Musa, Umat Yahudi meninggalkan Mesir. Sebelumnya, Firaun selalu mengingkari janji membebaskan mereka, meski Allah telah berulangkali menunjukkan kekuasaanNya. Pada malam sebelum meninggalkan Mesir, seluruh Bani Israel harus memotong anak domba jantan, mengoleskan darahnya di Continue reading

PUPUK ORGANIK UNTUK JAGUNG

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Blora, Jawa Tengah, telah mencanangkan program pemupukan seimbang untuk tanaman jagung. Pada musim tanam kali ini, urea tetap digunakan, tetapi dikombinasi dengan pupuk organik gratis yang disediakan pemerintah, bagi 1.800 hektar lahan percontohan garapan 19 kelompok tani.  

Lahan pertanian, baik lahan kering maupun sawah, akan rusak kalau terus-menerus diberi pupuk urea, tanpa diimbangi dengan pupuk organik. Tanah yang rusak oleh urea itu ditandai dengan teksturnya yang liat, dan lengket. Pada musim penghujan tanah akan sulit melepas air, sebaliknya Continue reading

PENGURANGAN PRODUKSI CPO DAN KARET

Jatuhnya harga minyak sawit mentah (Crude Palm Oil, CPO), dan karet alam, telah mendorong RI dan Malaysia menjalin kesepakatan. Dua negara ini sepakat untuk mengurangi produksi, dan meningkatkan konsumsi CPO, serta karet alam. Dengan adanya upaya ini, diharapkan harga akan kembali stabil.

Kesepakatan antara RI dan Malaysia ini diperoleh setelah adanya pertemuan antara Menteri Pertanian RI Anton Apriyantono, dengan Menteri Perladangan dan Komoditi Malaysia Datuk Peter Chin Fah Kui di Jakarta, Kamis, 6 November 2008. Dalam kesepakatan itu, rencananya Indonesia akan meremajakan seluas 50.000 hektar tanaman sawit, sementara Malaysia seluas 200.000 hektar. Dengan adanya peremajaan tanaman Continue reading

KOREKSI HARGA CPO

Seiring dengan turunnya harga minyak bumi sampai sekitar 25% di pasar dunia, harga beberapa komoditas penting kita juga ikut jatuh. Jagung, kopi, karet, dan minyak sawit mentah (Crude Palm Oil, CPO), mengalami penurunan harga yang cukup besar. Penurunan harga CPO mencapai 45%.

Sebelum krisis keuangan AS, harga CPO di pasar dunia mencapai 1000 $ AS per ton. Pasca krisis keuangan AS, harga CPO turun menjadi sekitar 560 per ton. Turunnya harga CPO, memang juga disertai dengan penurunan pajak ekspor, namun belum sampai ke tahap penghapusan. Pajak ekspor baru akan menjadi 0% (dihapus), kalau harga CPO di bawah 550 $ AS per ton. dengan harga 550 – 649 $ AS per ton, pemerintah akan memungut pajak ekspor 2,5%. Pajak ekspor CPO berlaku progresif hingga pada harga 650 – 749 $ AS dikenakan 5%, harga  750 – 849 7,5%, dan  pada tingkat harga di atas 850 $ AS, dikenakan 10%.

Penurunan harga CPO di pasar dunia, berdampak pada penurunan Tandan Buah Segar (TBS) sawit sampai 70%. Sebelum krisis, harga TBS mencapai Rp2000 per kg. Sekarang harga TBS tinggal Rp600 per kg. Banyak petani sawit yang tidak memanen TBS, dan membiarkan rontok serta membusuk sebagai pupuk di bawah tegakan tanaman. Sebab biaya panen tidak akan tertutup oleh harga jual TBS. Namun sebagian besar petani, terutama yang sekaligus juga merangkap sebagai tenaga kerja, masih tetap memanen TBS mereka. Sebab seberapa redah harga TBS, tetap masih lebih baik, daripada mereka tidak memperoleh pendapatan sama sekali.

Harga TBS Rp600 per kg, memang terlalu rendah. Satu dua minggu setelah mencapai titik terendah, harga TBS mulai merayap naik. Para petani berharap, harga bisa kembali ke angka Rp1000 per kg. Sebab sebenarnya mereka juga sadar, bahwa harga TBS yang mencapai Rp2000 per kg, juga tidak wajar. Dengan harga TBS Rp2000, seharusnya harga eceran minyak akan mencapai rata-rata Rp15.000 per kg. Kenyataannya, puncak harga minyak goreng tertinggi di sekitar lebaran, rata-rata masih Rp 11.500 per kg. Sebenarnya, dengan harga TBS Rp800 per kg pun, petani sudah bisa meraih keuntungan.

# # #

Melambungnya harga minyak bumi, yang kemudian disusul oleh kenaikan harga komoditas pertanian, sebenarnya merupakan dampak dari bisnis semu perdagangan saham dan uang. Nilai saham riil, sebenarnya hanya ditentukan oleh seberapa baik kinerja perusahaan tersebut, yang tercermin dari tingginya deviden (bagian keuntungan) yang dibagikan ke para pemegang saham. Namun sesuatu yang riil ini menjadi tidak berlaku dalam bursa perdagangan saham (bursa efek). Perusahaan yang sedang terpuruk sekalipun, sahamnya bisa “digoreng” hingga melambung, jauh melebihi nilai riil saham tersebut, yang ditandai dengan nilai aset, omset, hutang, dan piutang.

Ini semua disebabkan oleh peningkatan nilai saham, dengan selisihnya yang disebut capital gain. Dalam perdagangan saham, dikenal profesi yang namanya pialang saham. Berkat para pialang saham, inilah nilai saham bisa naik atau turun, tanpa peduli dengan kondisi riil perusahaan tersebut. Saham, dan juga mata uang, terutama $ AS, kemudian menjadi mata dagangan tersendiri, yang sama sekali tidak terkait dengan kondisi riil perekonomian. Kembali ke kasus CPO, dikenal perdagangan yang disebut future trading. CPO yang baru akan ada tahun depan, pada tahun ini sudah bisa diuangkan, dengan harga riil, atau malahan lebih tinggi dari harga riil.

Future trading tidak sama dengan perdagangan dengan sistem ijon. Dalam ijon, petani menjual produk yang belum siap dipanen, dengan harga jauh lebih rendah dari harga riil. Pekebun sawit yang kesulitan likuiditas, bisa datang ke pialang future trading untuk mendapatkan modal kerja selama satu tahun. Bayarannya adalah CPO yang nanti akan dipanen. Yang menjadi pertanyaan, apakah para pialang future trading itu akan bisa mendapat keuntungan? Bisa! Sebab mereka akan menjual lagi CPO yang belum ada barangnya itu, kepada pihak lain. Demikian seterusnya, hingga harga CPO akan melambung tinggi, jauh di atas harga riil. Pola perdagangan inilah yang mengakibatkan harga CPO mencapai 1000 $ AS per ton, dan harga TBS di atas Rp2000 per kg.

# # #

Penurunan harga komoditas pertanian belakangan ini, sebenarnya merupakan koreksi harga.    Selama ini, perekonomian AS dan UE, sangat didominasi oleh perdagangan saham dan mata uang yang secara riil tidak mencerminkan kondisi perekonomian negara-negara tersebut. AS misalnya, adalah negara yang penduduknya hidup dengan sangat boros. AS adalah negara dengan jumlah hutang terbesar di dunia. Peningkatan produktivitas AS, lama kelamaan akan menjadi tidak berimbang dengan tingkat konsumerisme masyarakat dan negara AS sendiri. Untuk mengimbanginya, AS punya mata dagangan yang luarbiasa, berupa $ AS, dan saham.

Perekonomian Jepang dan AS relatif lebih sehat dibanding dengan AS dan UE. Namun perdagangan mata uang dan saham yang mendominasi pasar saham dan mata uang dunia, masih tetap mata dolar AS, Euro dan Poundsterling. Bursa saham paling berpengaruh di dunia adalah Bursa Saham di Wall Street, New York. Ketika para pialang saham, perdagangan mata uang dan future trading, melakukan kesalahan, maka perdagangan semu itu akan kembali surut. Perdagangan saham, mata uang, dan future trading, sering disebut sebagai “gelembung sabun” atau balon. Ada nafsu untuk terus meniupnya, agar balon itu tetap tampak bulat, kompak dan penuh. Sebab begitu peniupan dihentikan, maka balon akan tampak kempes.

Bagaimana pun juga, pada suatu ketika, peniupan balon itu akan mencapai titik optimum, hingga harus dihentikan. Ketika itulah semua akan terkoreksi. Hukum pasar mengatakan, kalau permintaan (konsumsi) lebih tinggi penawaran (produksi), maka harga akan naik, dan juga sebaliknya. Ketika harga CPO sampai 1000 $ AS, dan TBS Rp2000, sebenarnya tidak pernah ada peningkatan konsumsi COP yang luar biasa. Memang trand permintaan CPO sampai dengan 20 tahun ke depan, akan terus naik, sejalan dengan kenaikan konsumsi. Jadi, yang sekarang ini terjadi, sebenarnya bukan penurunan tetapi koreksi harga CPO. (R) # # #

NASIB PRODUK PERTANIAN IMPOR

Masyarakat  mulai kawatir, krisis keuangan yang menimpa AS, akan berdampak langsung terhadap perekonomian Indonesia. Para pejabat kita memang sudah berkomentar, bahwa hal itu tidak akan terjadi, dengan berbagai alasan yang rasional. Dalam praktek, harga-harga memang langsung merayap naik.

Komoditas impor dari AS yang dikonsumsi masyarakat lapis bawah adalah gandum (tepung terigu), sebagai bahan mi dan roti, termasuk mi isntan. Sekarang mi dan roti sudah menjadi menu sehari-hari masyarakat menengah ke bawah. Sebelum realisasi pencabutan subsidi Pajak Pertambahan Nilai yang Ditanggung Pemerintah  (PPN DTP), atas tepung terigu dan biji gandum, mulai tahun 2009, harga produk tersebut sudah mengalami kenaikan belakangan ini. Awalnya kenaikan harga tepung terigu dipicu oleh event puasa dan lebaran. Sebelum kembali ke harga semula, terjadi kenaikan susulan akibat krisis keuangan AS.

Dampak langsung dari krisis keuangan AS terhadap perekonomian kita adalah, terjadinya kenaikan kurs US $ terhadap rupiah. Akibatnya, harga komoditas yang bahan bakunya kita impor, terutama produk pangan, segera mengalami kenaikan. Komoditas lain yang juga kita impor dari AS adalah kedelai. Kedelai adalah bahan tahu dan tempe, lauk utama yang dikonsumsi masyarakat kecil. Sejak sebelum lebaran, tiba-tiba tempe menjadi langka di pasaran. Waktu itu penyebabnya diduga karena produsen dan pedagang tempe sedang mudik. Tetapi kenaikan terus berlanjut sampai jauh setelah lebaran.

Ini adalah dampak dari krisis keuangan AS, yang merembet ke kenaikan harga komoditas kedelai, dan tentu saja akan kena ke produk tahu dan tempe. Selain kedelai, yang juga kita impor dari AS adalah bungkil, tepung ikan, dan induk ayam broiler./layer (grand-grand parent stock, GGPS, ayam buyut). Bungkil, dan tepung ikan adalah komoditas pakan ternak, terutama unggas. Ditambah dengan naiknya harga Day Old Chick (DOC=anak ayam umur sehari), karena GGPS impor, maka harga daging dan telur ayam juga akan naik. Harga ikan air tawar (lele, mas, nila, patin), juga akan segera naik, karena kenaikan harga pakan.

# # #

Kenaikan harga bungkil, juga akan berpengaruh ke peternakan sapi, terutama sapi perah. Sebab pakan utama sapi perah bukan rumput, melainkan konsentrat, yang salah satu komponennya adalah bungkil. Dampak kenaikan harga bungkil akan berpengaruh ke kenaikan harga susu. Penyebab kenaikan harga susu bukan hanya faktor pakan, dalam hal ini bungkil. Induk sapi perah unggul, dengan produksi mencapai 20 liter per ekor per hari, masih harus diimpor. Induk sapi perah lokal rata-rata hanya bisa berproduksi 13 liter per ekor per hari. Induk lokal hasil kawin suntik dengan semen (mani) impor, rata-rata 16 liter per ekor per hari.

Dengan sentra peternakan sapi perah di Pujon  (Kabupaten Malang), Kabupten  Boyolali (merata), dan Pangalengan (Kabupaten Bandung), produksi susu segar nasional kita masih sangat rendah. Hingga pabrik susu kaleng, baik susu bubuk maupun susu kental manis, masih mengandalkan bahan baku impor. Dengan naiknya kurs US $ terhadap rupipah, maka kenaikan harga susu akan sangat dominan. Saat ini konsumen utama susu bubuk justru bukan kalangan menengah ke atas, melainkan menengah ke bawah. Buruh pabrik, dan pekerja perempuan di sektor lain, selama ini sangat mengandalkan keberadaan susu kaleng untuk anak-anak mereka.

Industri  tekstil kita yang terpuruk dihajar tekstil murah RRC, sebenarnya juga akibat ketergantungan kita (95%) pada kapas impor dari AS. Industri tekstil RRC, juga India, tidak hanya mengandalkan kapas. Padahal, RRC dan India adalah produsen kapas terbesar nomor satu dan nomor dua di dunia. Karena populasi penduduk mereka di atas 1 milyar jiwa, maka seberapa tinggi pun produksi kapas mereka, masih tetap belum mampu memenuhi kebutuhan industri tekstil. Maka mereka juga menanam rami, kenaf, canabis, abaka, agave, dan RRC juga tetap mengandalkan sutera alam mereka.

# # #

Yang juga memprihatinkan adalah, impor buah-buahan yang volumenya akan terus naik. Buah apel, jeruk, pir, anggur, kurma, lengkeng, dan durian, saat ini merajai pasar swalayan, dan kios-kios buah kakilima. Padahal apel, jeruk, dan anggur, bisa dibudidayakan di negeri ini. Terlebih lagi lengkeng dan durian. Tetapi tanpa niat yang serius dari pemerintah, mustahil para petani mampu mengembangkan komoditas-komoditas tersebut. Sekarang bahkan ada kecenderungan apel malang dan anggur bali, semakin terdesak oleh apel dan anggur impor. Demikian pula halnya dengan lengkeng dan durian kita.

Impor benih sayuran dan tanaman hias, terutama dari Taiwan, juga telah mengakibatkan tingginya produk yang dihasilkan petani kita. Dalam hal ini, petani sayuran kita masih lebih kreatif, karena telah mampu memroduksi benih sendiri, dengan kualitasnya yang mampu bersaing dengan benih impor. Benih kol, seledri, caisim, dan wortel, umumnya sudah bisa diproduksi oleh petani tradisional kita. Namun komoditas bawang putih, justru produk konsumsinya yang langsung kita impor dari RRC. Hingga sentra bawang putih lokal kita di Tuwel (Tegal), dan Tawangmangu (Karanganyar), nyaris mati.

Dengan gambaran seperti itu, tampak betapa rapuhnya perekonomian nasional kita. Komoditas penting yang menjadi kebutuhan pokok rakyat kecil, semuanya harus diimpor. Belum lagi barang-barang elektronik dan otomotif, yang komponen utamanya, harus diimpor. Mobil kijang misalnya, lebih dari 60% komponennya sudah bisa diproduksi idi Indonesia. Namun nilai 60% komponen itu masih di bawah 50%, dibandingkan dengan 40% komponen yang masih harus diimpor. Jangankan komponen elektronik otomotiv, komoditas remeh-temeh kebutuhan rakyat kecil seperti jarum jahit, dan peniti pun, kita masih mengimpor. (R) # # #

KOMODITAS SUBSTITUSI GANDUM

Suatu ketika, Kekaisaran China Kuno pernah mengalami krisis gandum. Mi, yang harus terbuat dari gandum, menjadi barang langka dan mahal. Agar tidak terjadi huru-hara, Sang Kaisar pun kemudian minta diciptakan mi dari bahan lain. Maka para ahli pangan kekaisaran bekerja keras, sampai tercipta mi dari bahan tepung beras, yang mereka sebut mihun atau bihun. Sejak itulah di Kekaisaran China dikenal dua macam mi. Mi kuning dari bahan gandum, dan mi putih dari bahan beras. Sang Kaisar sangat senang, karena rasa mihun ini sangat khas, dan beda dengan mi biasa.

Pada jaman Kekaisaran China, semua mi dibuat secara manual, dengan menarik adonan tepung gandum, melumurinya dengan tepung kering, melipatnya menjadi dua, menariknya lagi dan seterusnya, hingga terbentuklah mi. Ujudnya adalah pita atau tali adonan dengan lebar sekitar 2 mm. Pita mi lebih kecil dibanding kwetiaw, atau spaghetti. Adonan tepung gandum punya kelebihan bisa ditarik menjadi mi, atau dilebarkan hingga setipis plastik, sebagai kulit martabak telor, karena mengandung zat gluten.

Gluten hanya ada pada karbohidrat gandum, meskipun tidak semua gandum. Karbohidrat lain, mulai dari beras, jagung, singkong, ubi jalar, kentang, keladi, talas, garut, ganyong, tidak ada yang mengandung gluten. Para ahli pangan di Kekaisaran China Kuno, tahu hal ini. Hingga mereka membuat mihun dengan cara lain. Adonan tepung beras yang tidak mungkin mereka tarik itu, mereka taruh dalam wadah yang bagian bawahnya penuh dengan lubang kecil-kecil. Adonan tepung beras yang keluar dari lubang itu langsung membentuk mihun.

# # #

Para bangsawan di Kekaisaran Jepang lain lagi. Mereka tahu bahwa gandum dan beras adalah biji-bijian yang kaya karbohidrat. Demikian pula dengan ubi jalar. Kalau mereka mengkonsumsi mi gandum maupun mi beras, maka badan akan menjadi gemuk. Kaisar lalu memerintahkan, agar diciptakan mi yang lezat, bisa mengenyangkan, tetapi tidak membuat badan menjadi gemuk. Para ahli pangan dari Negeri Matahari Terbit itu juga bekerja keras, sampai tercipta mi alternatif dari bahan iles-iles, yang mereka sebut konyaku (sebesar kwetiaw), serta shirataki (seukuran mihun).

Iles-iles (Amorphophallus konyak), adalah umbi sejenis suweg (Amorphophallus paeoniifolius), dan bunga bangkai raksasa (Amorphophallus titanum). Umbi iles-iles berdiameter sekitar 15 cm. Setelah dipanen, umbi ini dikupas, diiris tipis-tipis dan dikeringkan, kalu digiling menjadi tepung. Lazimnya, ketika bahan tepung diayak, seratnya dibuang, dan karbohidratnya diambil. Pada iles-iles, terbalik. Tepungnya dibuang, dan seratnya yang disebut glokomanan yang diambil. Kalau glokomanan ini dijerang dengan air panas, akan berubah menjadi jeli.

Kalau jeli ini diiris atau dicetak kasar, akan menjadi konyaku. Kalau irisannya halus sebesar mihun, akan menjadi shirataki. Dua produk pangan Jepang ini sangat lezat, mengenyangkan, tetapi tidak membuat kegemukan karena hampir tidak ada  kalorinya. Dalam menghadapi kenaikan harga gandum belakangan ini, kita seharusnya belajar dari Kekaisaran China dan Jepang Kuno. Pertama-tama, kita memang harus mulai menanam gandum tropis. Sebab kenyataannya di beberapa kawasan pegunungan, gandum bisa tumbuh sangat baik.

Namun selain itu, harus segera diciptakan inovasi pangan alternatif non gandum. Singkong, jagung, beras, ganyong, garut, sagu, enau, sukun, sebenarnya bisa menjadi alternatif substitusi gandum. Baik gandum sebagai bahan mi, maupun roti. Sebab proses pembuatan mi kering (mi pabrik), tidak lagi dengan cara menarik adonan tepung gandum, melainkan dengan mencetaknya. Hingga tepung apa pun, sebenarnya bisa menjadi alternatif untuk substitusi, asalkan secara teknis rasa, aroma, dan karakteristiknya tidak terlalu berbeda jauh dari gandum.

# # #

Selama ini, para perajin roti skala kecil, sudah sering mensubstitusi tepung gandum dengan tepung beras, dan juga dengan singkong segar. Tetapi mereka justru telah melakukan penipuan ke konsumen. Sebab roti itu tetap mereka pasarkan sebagai roti konvensional dari tepung gandum. Tidak pernah ada inovator yang benar-benar berani tampil dengan roti singkong 100%, atau mi dari tepung sagu, tepung aren, atau tepung ganyong. Kita memang tidak pernah bisa seberani masyarakat pada jaman Kekaisaran China dan Jepang Kuno.

Selama ini, kita bahkan terlalu menganggap remeh komoditas penghasil karbohidrat selain padi, beras, dan jagung. Singkong, ubi jalar, dan keladi,  kita anggap sebagai makanan orang miskin. Padahal, kalau ada inovasi sedikit saja, komoditas tersebut bisa naik peringkat. Contohnya Talas Bogor, dan Talas Pontianak, yang berhasil menjadi komoditas prestisius. Ubi dulunya juga makanan yang dianggap remeh. Tetapi Ubi Cilembu yang dioven, telah menjadi produk pangan yang sangat prestisius sejak sekitar 10 tahun terakhir ini.

Australia yang merupakan negeri kaya itu pun, masih mau menanam dan menepungkan ganyong (Canna edulis), dan mengekspornya ke Eropa sebagai tepung Queensland Arrowroot. India yang surplus beras dan gandum, masih sangat memperhatikan suweg. RRC meski merupakan penghasil beras, gandum, ubijalar, dan kentang  nomor satu di dunia, tetap masih memperhatikan biji bayam (Amaranth Grain). Dan uwi-uwian yang di negeri ini tersia-siakan, di Taiwan bisa hadir sebagai cake eksklusif warna ungu muda, di sebuah hotel bintang di Taipei. (R) # # #