ADAKAH LOBSTER AIR TAWAR KONSUMSI?

Sudah sekitar satu dekade, lobster air tawar menjadi bahan perbincangan masyarakat. Awalnya, satwa jenis ini hanya dibudidayakan sebagai udang hias di akuarium. Sebab bentuk dan warna lobster air tawar juga sangat eksotis, sama halnya dengan lobster air laut. Yang membedakannya hanya habitat, dan ukurannya. Lobster air laut hidup di air laut, lobster air tawar berhabitat air tawar. Bobot lobster air laut lebih dari 1 kg. per ekor, kobster air tawar hanya satu ons. Daya tarik utama lobster air tawar adalah, mudah dipelihara dalam akuarium air tawar. Mengurus akuarium air tawar, jelas lebih mudah, dan lebih murah dibanding akuarium air laut.

Harga lobster air laut hidup, memang ratusan ribu rupiah per kg, hanya terdiri dari satu ekor, untuk dikonsumsi. Harga lobster air tawar juga mencapai Rp 250.000,- per kg. sebanyak empat ekor, sebagai udang hias di akuarium. Konsumen lobster air laut adalah masyarakat papan atas. Hingga menu ini hanya disajikan di restoran sea food papan atas pula. Dari sinilah datang kreatifitas para breeder lobster lobster air tawar. Bagaimana kalau satwa ini juga dipromosikan sebagai udang konsumsi? Sebab pasar lobster air tawar sebagai udang hias, tentu sangat kecil jika dibandingkan dengan potensinya sebagai udang konsumsi. Sebab selama ini, pasokan lobster air laut, masih terlalu kecil dibanding dengan permintaannya.

Sejak itulah dilakukan upaya untuk menciptakan pasar lobster air tawar konsumsi. Salah satu cara yang efektif adalah melalui publisitas di media massa. Diinformasikan, bahwa ada permintaan lobster air tawar konsumsi dengan volume tanpa batas, sementara pasokannya masih nol. Diselenggarakan pula pelatihan singkat dan penjualan paket benih, dengan harga Rp 250.000,- per kg. Peserta pelatihan yang bermimpi akan memperoleh keuntungan sangat besar, mengira bahwa harga produk konsumsi ini juga akan mencapai Rp 250.000,- per kg. Karena budidayanya sangat mudah, maka para calon investor pun tergiur. Mereka ikut pelatihan, dan membeli paket benih seharga Rp 250.000,- per kg.

# # #

Yang tidak disampaikan oleh para promotor lobster air tawar adalah, selama ini restoran dan hotel papan atas di kota-kota besar di dunia, hanya mencari lobster air laut, dengan bobot lebih dari satu kg. per ekor. Konsumen restoran dan hotel bintang ini, tidak bisa begitu saja diberi menu baru lobster air tawar, yang bobotnya hanya satu ons per ekor, dengan harga sama. Mereka tentu lebih memilih udang goreng mentega, dengan bobot satu ons per ekor, dibanding lobster dengan bobot sama. Sebab udang satu ons per ekor adalah udang yang sangat besar. Sementara lobster bobot 1 ons adalah bayi lobster. Itulah kesan yang ada pada konsumen restoran papan atas. Hingga lobster air tawar, hanya akan mampu menjangkau restoran kelas bawah, dan kakilima.

Lobster air laut komersial yang selama ini disantap sebagai menu para eksekutif dan selebritis papan atas dunia adalah ordo Decapoda yang masih satu ordo dengan udang konsumsi. Ada dua macam lobster laut konsumsi, yakni Clawed lobsters (Infraordo Astacidea, famili Nephropidae); dan Spiny lobster (infra ordo Achelata, famili Palinuridae). Clawed lobsters terdiri dari sub famili Neophoberinae (genus Acanthacaris); sub famili Thymopinae (genus Nephropsis,    Nephropides, Thymops, dan Thymopsis); dan sub famili Nephropinae (genus Homarus, Nephrops, Homarinus, Metanephrops, Eunephrops, dan Thymopides). Sedangkan Spiny lobster terdiri dari genus Jasus, Justitia, Linuparus,  Palinurus,  Palinustus, Panulirus , Projasus, dan  Puerulus).

Lobster air lait yang sudah bisa dibudidayakan secara komersial, barulah spesies Homarus americanus (lobster amerika, American lobster); dan Homarus gammarus (lobster eropa, European lobster). Lobster yang hidup di perairan Indonesia hanyalah genus Panulirus famili Palinuridae. Yang paling sering ditangkap dan dipasarkan adalah: udang jaka, atau udang batu, Brown SL, red SL, (Panulirus penicillatus); udang jarak, Grey-blue, spotted legs SL. (Panulirus polyphagus); udang bunga, atau raja udang, (White spotted red/brown SL. Panulirus longicep); dan  udang barong, atau udang karang, (Panulirus versicolor). Kalau lobster amerika dan eropa sudah bisa dibudidayakan, lobster kita masih berupa tangkapan dari alam.

Karena harus dipasarkan dalam keadaan hidup, maka lobster air laut juga harus ditangkap hidup-hidup. Para penangkap lobster, biasanya juga sekaligus menangkap ikan napoleon (humphead wrasse, Cheilinus undulatus), yang juga menu penting di restoran papan atas. Beda dengan lobster yang masih belum masuk dalam apendiks CITES (the Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora), ikan napoleon sudah dikategorikan sebagai endangered (terancam punah). Hingga para penangkap lobster dan ikan napoleon, sering ganti ditangkap oleh aparat keamanan. Terutama kalau penangkapan lobster dan ikan napoleon ini dilakukan di kawasan Taman Nasional.

# # #

Penangkapan lobster dan ikan napoleon, dilakuan dengan menyelam, di perairan laut yang berterumbu karang. Para penyelam tidak dilengkapi dengan peralatan selam, melainkan yang berbekalkan selang, yang dihubungkan dengan kompresor di atas kapal. Pertama-tama, para penyelam akan menebarkan racun potasium, untuk membius lobster dan ikan napoleon. Kemudian karang laut akan dicongkel dengan longgis, agar lobster yang bersembunyi di dalamnya bisa diambil. Potasium yang membuat pingsan lobster serta ikan napoleon ini, akan membunuh anemon dan karang, hingga keseluruhan terumbu karang itu akan mati.  Beberapa nelayan, memang sudah mulai menangkap anakan lobster dari alam, untuk dibesarkan di keramba. Sementara induknya, tetap dibiarkan, agar satwa ini tidak punah.

Beda dengan lobster air laut yang merupakan produk konsumsi, lobster air tawar hanyalah udang hias, untuk pajangan di akuarium.  Bobot maksimalnya hanya 1 ons, itupun setelah dipelihara sekitar 7 bulan sampai dengan 1 tahun. Sebab pertumbuhan lobster air tawar memang sangat lamban. Ada beberapa lobster air tawar, yang semuanya juga masih termasuk ordo Decapoda. Yang terbanyak adalah genus Cherax, family Parastacidae,  superfamily Parastacoidea infraordo Astacidea,  subordo Pleocyemata. Yang termasuk genus Cherax antara lain marron (Cherax tenuimanus); dan lobster penghancur (Cherax destructor). Selain genus Cherax, ada pula genus Procambarus family Cambaridae, infraordo Astacidea.  Yang termasuk genus ini antara lain lobster merah (Procambarus clarkii). Kemudian ada lagi genus Procambarus, family Cambaridae, infraordo Astacidea. Yang termasuk genus ini antara lain Tasmanian giant freshwater crayfish  (Astacopsis gouldi).

# # #

Lobster air tawar yang sebenarnya udang hias ini, memang tetap bisa dikonsumsi sebagaimana halnya udang biasa. Namun budidaya lobster air tawar untuk udang konsumsi, jelas tidak efisien, dibanding dengan udang air tawar, atau udang galah (giant river prawn, Macrobrachium resenbergii). Udang galah sudah bisa dipanen pada umur 5 – 6 bulan, dengan bobot 25 – 30 ekor per kg, dengan harga hidup Rp 40.000,- per kg. Budidaya udang galah, jelas lebih menguntungkan dan rasional dibanding lobster air tawar. Sebab udang galah memang benar-benar udang konsumsi, yang dibudidayakan dengan sistem budidaya udang konsumsi. Beda dengan lobster air tawar, yang sistem budidayanya adalah sistem budidaya udang hias, yang pasti lebih mahal dibanding budidaya udang konsumsi.

Lobster air tawar, tidak mungkin bersaing dengan lobster air laut, sebagai udang konsumsi. Di Indonesia, lobster air laut memang masih merupakan tangkapan dari alam. Namun di Eropa dan AS, lobster air laut adalah komoditas penting yang sudah dibudidayakan secara massal. Mulai dari hatcherry (pembenihan), sampai ke pembesarannya menjadi lobster konsumsi, sudah bisa dilakukan secara massal. Pakan khusus untuk lobster laut juga diproduksi secara massal. Yang membatasi hingga lobster laut tidak bisa semassal udang konsumsi adalah, budidaya lobster laut tetap lebih tinggi biayanya dibanding dengan budidaya udang laut. Hingga konsumen lobster laut pun, tetap hanya sebatas pada kalangan jetset dunia. Bagi restoran-restoran papan atas di Singapura, dan Hongkong, mendatangkan lobster hasil budidaya dari Eropa dan AS, pasti lebih mahal dibanding menampung lobstar hasil tangkapan dari Indonesia.

Namun restoran-restoran itu tidak akan pernah mau menerima lobster air tawar, terlebih dengan harga yang setinggi lobster air laut. Udang galah yang bisa dijual dengan harga Rp 50.000,- per kg, adalah udang galah hidup. Sementara yang mati, hanya akan dihargai sama dengan udang tambak air payau, yang bisasa dipasarkan dalam bentuk mati. Hingga bujukan untuk membudidayakan lobster air tawar untuk tujuan konsumsi, sebenarnya hanyalah penipuan. Sama dengan iming-iming budidaya cacing, jangkrik, dan sekarang ini jarak pagar. Budidaya jarak pagar, hanya diminati petani kalau harga jualnya Rp 2.000,- per kg. Padahal, untuk bisa bersaing dengan minyak bumi, harga jarak harus Rp 500,- per kg. (R) # # #

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s