HEBOH PAKIS MONYET

Sebuah tabloid yang terbit pada bulan Desember tahun lalu, memuat tulisan tentang kehebatan pakis monyet. Pakis yang juga disebut bulu kera, Sun Go Kong, dan pakis Hanuman ini, tahun lalu memang banyak dijajakan di tempat-tempat strategis di ibukota. Sosoknya memang mirip kepala monyet yang ditumbuhi bulu-bulu halus mirip jambul. Warna bulu ini cokelat keemasan. Pakis monyet ini ditaruh di dalam pot, dan ditawarkan dengan kisaran harga antara Rp 200.000 sampai 400.000 per tanaman.

Tabloid tersebut mengutip penjaja pakis kepala monyet, konon dari kepala ini akan menyembul tumbuh ekor monyetnya. Dan memang benar, beberapa pot kepala monyet yang dibeli konsumen, telah berhasil menumbuhkan ekor yang memanjang dan ujungnya menggulung. Orang pun makin heboh memburu pakis monyet ini. Pesan penjualnya, pakis monyet ini harus ditaruh di tempat teduh, tidak boleh disiram, tetapi cukup direndam air sebentar, apabila tampak mulai mengering. Masih menurut si penjual tanaman, pakis kepala monyet akan mendatangkan hoki bagi yang memeliharanya.

Tetapi hoki memang sulit untuk diharapkan datang mendadak. Semua pakis monyet itu setelah dipelihara beberapa minggu atau bulan, akan membusuk. Termasuk yang sudah sempat menumbuhkan ekor monyet. Kalau ada yang komplain ke penjual, si pemeliharalah yang dipersalahkan, karena telah keliru merawat tanamannya. Supaya lebih dramatis, si penjual menceritakan bahwa pakis ini berasal dari daratan RRC, dan di sana sendiri sudah sangat langka. Yang mereka jual itu, katanya didatangkan dari hutan lebat di Palembang dan Jambi.

# # #

Yang disebut pakis monyet sebenarnya adalah tumbuhan pakis tropis, dari genus Cibotium, spesies barometz (Cibotium barometz) dan asli Asia Tenggara, termasuk Indonesia.  Pakis monyet yang dijual para pedagang itu diambil dari hutan Perum Perhutani di Bogor dan Sukabumi. Bersama dengan genus Cyathea    jenis pakis ini disebut paku pohon, paku tiang, pakis galar (tree fern), yang mampu tumbuh menjulang setinggi belasan meter. Pertumbuhan pakis ini sangat lamban, hingga untuk mencapai ketinggian 10 m, diperlukan waktu sampai puluhan tahun. Sebab dalam setahun, pertumbuhan batangnya hanya puluhan cm.

Akar pakis ini diambil dan diperdagangkan untuk media tanam anggrek. Baik sebagai papan penempel tanaman, maupun berupa akar cincang untuk media tanam. Batangnya juga diambil untuk bahan kerajinan, misalnya vas bunga. Namun populasi seluruh genus tree fern, mulai terancam, hingga CITES (Convention on International Trade in Endangeres Species of Wild Flora and Fauna), memasukkannya dalam apendiks II. Tanaman dalam apendiks ini, hanya dilarang diperdagangkan, kecuali atas ijin Ditjen PKA, Departemen Kehutanan, berdasarkan kuota.

Pakis monyet juga berkhasiat obat. Kepala monyet yang merupakan tunas tanamannya mengandung banyak karbohidrat, yang berkhasiat meredakan panas, meringankan nyeri sendi dan beberapa gangguan lain. Bulu emasnya, dikenal sebagai penyembuh luka yang handal. Masyarakat tradisional yang terluka dalam hutan, akan mengambil bulu pakis monyet yang steril ini, menaruhnya pada luka, lalu membalutnya dengan kulit kayu. Luka itu akan segera mengering, karena bulu halus itu bersifat menyerap cairan. Tanin yang terkandung dalam bulu itu juga akan membekukan dan mengeringkan darah.

Pakis monyet tumbuh dari spora yang sangat halus, dan bersifat tunggal. Kalau batang itu ditebang, atau pucuknya dipangkas, seluruh tanaman akan mati. Sama halnya dengan pohon kelapa. Yang diperdagangkan sebagai pakis monyet, sebenarnya hanyalah tunas, dari pohon yang sudah berumur puluhan, bahkan mungkin ratusan tahun. Kalau tunas ini dipangkas, maka seluruh tanaman, termasuk tunas yang disebut kepala monyet itu, akan mati. Prosesnya memang lama, sebab dalam tunas itu ada air serta cadangan pati. Pedagang melarang “tanaman” itu disiram, karena akan cepat membusuk.

# # #

Kalau sudah agak kering perlu direndam air, maksudnya agar segar lagi. Perlu ditaruh di tempat teduh, sebab kalau di bawah terik matahari akan cepat mengering. Mengapa bisa tumbuh ekor monyetnya? Yang dipromosikan sebagai ekor monyet, sebenarnya adalah tunas daun, dengan tangkainya yang memanjang mirip ekor. Helaian daunnya sendiri masih kuncup dan menggulung di pucuk, hingga benar-benar mirip ekor monyet. Tunas itu masih tetap bisa menumbuhkan daun, karena punya cadangan pati dan air. Tetapi setelah itu, tunas, dan juga tanamannya di hutan sana akan segera mati.

Sayangnya, wartawan tabloid, dan juga media lain yang memberitakan perdagangan pucuk pakis ini, alpa melakukan check and recheck. Misalnya bertanya ke Kebun Raya, atau Ditjen PKA. Akibatnya, media massa Indonesia, termasuk koran nasional kita, ikut pula membantu perbuatan melawan hukum. Sebab memperdagangkan tumbuhan, yang masuk Apendiks II CITES tanpa ijin adalah illegal. Ketika beberapa media mulai sadar, dan meluruskan hal ini, sudah ratusan, bahkan mungkin ribuan pakis monyet dibabat. Perlu waktu puluhan tahun, agar ada tanaman muda yang bisa menjadi ganti pakis yang dibabat pucuknya.

Sebenarnya, bukan hanya kali ini pakis monyet bikin heboh. Tahun 1200an, masyarakat Eropa juga dihebohkan oleh tumbuhan aneh di kawasan Scythia, sekitar Laut Kaspia (Asia Tengah). Nama tumbuhan itu Vegetable Lamb of Tartary. Para ahli botani sempat memberi nama ilmiah tanaman tersebut Agnus scythicus, sinomin Planta Tartarica Barometz. Tanaman aneh ini akan berbuah domba di bagian pucuknya. Setelah berbuah, tanaman akan mati, dan dombanya bisa diambil bulunya untuk wool. Tahun 1600an, masih dibuat illustrasi tentang Vegetable Lamb of Tartary, yang sebenarnya adalah pakis monyet dari Asia Tenggara. Dan sekarang, kembali pakis monyet itu bikin heboh. (R) # # #

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s