AGROINDUSTRI BIOFUEL DARI NYAMPLUNG

Nyamplung adalah tumbuhan pantai yang bertajuk rapat, berbatang kuat, dan berumur sampai ratusan tahun. Namun yang paling menarik, biji nyamplung berpotensi diolah menjadi biofuel, dengan rendeman cukup tinggi. Dari satu kilogram biji nyamplung, bisa dihasilkan 0,4 liter biofuel.

Di Yogyakarta, tepatnya di Desa Panggungharjo, Sewon, Bantul, masyarakat sedang tergila-gila pada biji nyamplung. Harga minyak biji nyamplung mencapai Rp 4.200 per liter. Untuk menghasilkan satu liter minyak, diperlukan 2,5 kg biji nyamplung  kering. Harga biji nyamplung basah saat ini Rp 800 per kg. Masyarakat DIY mulai tertarik mengolah biji nyamplung menjadi biofuel, setelah tahun lalu (23 September 2008), Departemen Kehutanan menyelenggarakan seminar nasional “Nyamplung, Sumber Energi Biofuel yang Potensial” di Gedung Manggala Wanabhakti, Jakarta.

Indonesia memang selalu terlambat, dalam merespon sesuatu. India sudah sejak tahun 2003 memperhatikan dengan serius, komoditas nyamplung sebagai bahan baku biofuel. Sama halnya dengan jarak, yang pengembangannya dilakukan dengan sistem padat karya, nyamplung di India juga merupakan komoditas proyek padat karya. Masyarakat diminta bergotongroyong menanam dan memanen nyamplung, dengan bayaran ala padat karya. Beda dengan di Indonesia, rakyat diberi iming-iming harga tinggi, apabila mau membudidayakan jarak.

# # #

Apabila Anda dari Magelang menuju Yogyakarta, setelah lewat kota Muntilan, akan tampak deretan pohon nyamplung (Calophyllum inophyllum L) sebagai peneduh di kiri kanan jalan. Nyamplung adalah tumbuhan pantai. Di sepanjang pantai di Taman Nasional Ujung Kulon, banyak dijumpai pohon nyamplung yang sudah berumur ratusan tahun, dengan diameter batang dua sampai tiga pelukan orang dewasa. Batang nyamplung raksasa ini tumbuh menjorok ke pantai, berselangseling dengan ketapang (Terminalia catappa L), keben (Barringtonia asiatica), Bintaro (Cerbera manghas), pandan laut (Pandanus tectorius), dan tumbuhan pantai lainnya.

Pohon nyamplung berkayu keras, kuat juga awet. Pohon-pohon nyamplung yang tumbang digerus ombak, selama bertahun-tahun tetap utuh, meskipun kulitnya sudah mengelupas. Daun nyamplung berbentuk jorong, panjang 10 cm, lebar 7 cm, berwarna hijau gelap, dengan tulang daun utama serta tepi daun berwarna putih kekuningan. Permukaan daun nyamplung licin dan mengkilap. Letak daun berselang-seling pada ranting. Bunga nyamplung tumbuh pada ujung ranting berupa malai, berisi belasan tangkai bunga. Masing-masing bunga berkelopak enam, berwarna putih, dengan diameter sekitar 3 cm. Lebih dari 100 benang sari tumbuh di tengah mahkota bunga, dengan kepala sari berwarna jingga. Tangkai putih berada di tengah-tengahnya, dengan kepala putik juga berwarna jingga.

Buah nyamplung berbentuk bundar sempurna, berdiameter 2 sd. 4 cm. Kulit buah berwarna hijau terang. Kulit buah sangat tipis, dan melekat erat pada tempurung biji. Di dalam tempurung yang keras inilah terdapat biji nyamplung yang mengandung minyak nabati, protein, serta zat tanin. Sebagaimana umumnya tumbuhan pantai, biji nyamplung akan terapung-apung di air laut, lalu terdampar di lokasi yang jauh dari induknya. Inilah cara tumbuhan pantai memencarkan lokasi tumbuh mereka. Hal yang sama juga terjadi pada tumbuhan pantai lainnya, mulai dari keben, bintaro, ketapang, pandan laut, dan kelapa. Bedanya, buah lima tumbuhan ini masih dilengkapi dengan sbut untuk mengapungkan biji.

Buah nyamplung perlu dijemur sampai kering, sebelum dipecah tempurungnya, untuk diambil daging bijinya. Tempurung buah nyamplung bisa digunakan sebagai bahan bakar, baik dengan cara dibakar langsung, atau dijadikan briket arang. Pengambilan minyak, dilakukan dengan mengepres biji nyamplung setelah dijemur sampai kering. Minyak biji nyamplung tidak lazim dikonsumsi sebagai minyak goreng, karena banyak kandungan saponinnya. Sama dengan biji bintaro, biji nyamplung juga beracun, hingga tidak pernah dimakan oleh monyet sekalipun. Beda dengan biji ketapang yang rasanya gurih, hingga disebut sebagai Indian almond, Bengal almond, Singapore almond, Malabar almond, Tropical almond, dan Sea almond.

# # #

Kebutuhan biofuel sebagai substitusi BBM sebesar 5%, mencapai 720 kiloliter per tahun. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, pemerintah sedang mengembangkan sumber biofuel dari nyamplung, selain jarak yang sudah terlebih dahulu dimasyarakatkan, dengan hasil tidak terlalu positif. Kebutuhan biofuel 720 kiloliter itu, setara dengan 5,1 juta ton biji nyamplung kering, dari areal lahan minimal 254.000 hektar.

Pada tahap awal, akan ditanam 3.000.000 benih nyamplung, pada lahan 3.000 hektar di seluruh Indonesia. Sampai dengan saat ini, sudah terealisir penanaman nyamplung pada lahan seluas 400.000 hektar di pantai Ciamis, Cilacap dan Papua. Saat ini, potensi lahan yang tersedia sekitar  800.000 hektar.

Nyamplung lebih berpeluang sebagau sumber biofuel karena beberapa faktor. Pertama,. pohon nyamplung adalah salah satu tanaman pencegah abrasi laut. Penanaman nyamplung dalam skala massal, bisa menyelamatkan pantai dari gerusan ombak. Nyamplung berupa pohon besar, yang sekali tanam bisa terus-menerus diambil hasilnya. Tajuk nyamplung yang besar dan rapat, juga berpotensi menyerap CO2 dalam volume sangat besar, dalam rangka mengatasi pemanasan global. Kawasan yang cocok ditanami nyamplung, umumnya merupakan lahan tidak produktif, dengan tingkat salinitas tinggi.

Tanaman ini juga terkenal mudah tumbuh, sangat bandel, hingga penanamannya hampir tidak mengalami hambatan apa pun. Pohon nyamplung akan mulai berbuah pada umur sekitar lima tahun. Panen biji dilakukan dengan memungut buah yang berjatuhan di bawah tegakan. Biji hasil panen langsung dijemur sampai kering, sebelum dipecah dan dipres untuk diambil munyaknya. Ampas biji nyamplung bermanfaat sebagai bahan pupuk organik. Selama ini pohon nyamplung memang belum sepopuler bintaro, ketapang, keben dan pandan laut, sebagai elemen taman. Padahal penampilan tajuk dan daun nyamplung, sebenarnya juga cukup menarik sebagai tanaman hias. (R) # # #

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s