PROSPEK BUDI DAYA REBUNG BAMBU

Berkebun bambu untuk dipanen rebungnya, berprospek cukup baik. Sebab dengan pengairan cukup, rebung bisa dipanen terus-menerus sepanjang tahun. Ada beberapa jenis bambu yang rebungnya manis, sementara kualitas bambu tuanya juga cukup baik.

Bambu dengan rebung paling enak antara lain bambu ater (Gigantochloa atter), dan bambu betung (Dendrocalamus asper). Hingga dua spesies bambu ini paling banyak dibudidayakan di Thailand, RRC, Taiwan dan Jepang; meskipun dari varietas yang berbeda. Di Indonesia pun dijumpai banyak varietas bambu betung. Ukuran bambu ater, lebih kecil dibanding bambu betung. Diameter buluh bambu ater hanya sekitar 10 cm, sementara bambu betung bisa mencapai 20 cm. Tinggi buluh bambu ater hanya sekitar 20 m. sementara bambu betung bisa mencapai 30 m. lebih.

Di Thailand, bambu betung yang dibudidayakan untuk diambil rebungnya justru varietas kecil. Penampang buluhnya sama dengan bambu ater, sementara tingginya kurang dari 10 m. Ukuran rebungnya juga kecil-kecil. Varietas betung kecil ini memang cocok untuk dikembangkan sebagai penghasil rebung, sebab pemeliharaannya akan lebih mudah. Dengan tinggi batang kurang dari 10 m. maka cabang-cabangnya akan tumbuh mulai dari ketinggian antara 1 sd. 2 m. hingga mudah diambil untuk benih. Bambu betung kita yang tingginya mencapai 30 m. sulit diambil cabangnya karena posisinya yang tinggi.

# # #

Penggunaan cabang untuk benih, lebih menguntungkan dibanding dengan pecahan rumpun (bonggol bambu). Sebab biaya pengambilan bonggol, dengan cara digali, dipotong dan didongkel, lebih tinggi dibanding dengan menumbuhkan akar pada pangkal cabang yang menempel di batang. Pengangkutan benih dari cabang juga lebih murah karena bobot serta volumenya tidak sebesar pecahan rumpun. Cara menumbuhkan akar pada pangkal cabang juga mudah. Pangkal cabang tersebut dibersihkan dari seludang, kemudian diberi serbuk sabut kelapa, atau moss, yang dibungkus plastik transparan.

Ketika akar sudah tumbuh, dan mulai kelihatan berwarna cokelat, cabang tersebut bisa diambil, bagian ujungnya dipotong, dan disisakan hanya sepanjang 1 m. Setelah plastik pembungkus media dibuang, cabang tersebut disemai dalam polybag. Diperlukan waktu sekitar 1 sd. 3 bulan penyemaian untuk menumbuhkan tunas-tunas baru. Baik tunas cabang maupun tunas batang dari dalam media. Ketika itulah benih sudah bisa dipindahkan ke lahan secara permanen. Kelemahan benih dari “cangkokan” cabang ini, pertumbuhannya tidak akan secepat benih dari pecahan bonggol. Ada selisih waktu dua sampai tiga tahun.

Jarak tanam antar rumpun dibuat sangat rapat, yakni empat X enam meter. Populasi per hektar mencapai 400 rumpun. Dalam tiap rumpun ada lima batang buluh untuk dipanen satu buluh setiap tahun. Dari satu hektar kebun bambu, tiap tahunnya dapat diperoleh 400 batang bambu yang sudah berumur 5 tahun. Dengan harga satu batang bambu tegak di kebun Rp 10.000 dari tiap hektar kebun tiap tahunnya dapat diperoleh pendapatan Rp 4.000.000. Selain itu, apabila kebun bambu diberi pengairan, dari masing-masing rumpun, tiap minggunya dapat dipanen satu rebung, karena pertumbuhan rebung sangat cepat.

Karena tiap tahun satu buluh bambu yang paling tua dalam satu rumpun harus dipanen, maka tiap tahunnya dalam rumpun tersebut juga harus ada satu rebung yang dibiarkan tumbuh menjadi individu tanaman baru. Setelah buluh baru itu cukup kuat, buluh yang paling tua dalam rumpun tersebut ditebang. Demikian seterusnya hingga rumpun bambu itu selalu mengalami peremajaan, dengan populasi buluh dalam tiap rumpun selalu stabil sebanyak lima buluh, dengan selisih umur masing-masing satu tahun. Dengan cara ini, buluh yang dipanen dari rumpun tersebut, selalu berumur lebih dari lima tahun.

# # #

Untuk mencegah bambu dimakan “bubuk” (kutu bambu), panen buluh dilakukan sesaat setelah muncul buluh baru. Pada waktu itulah cadangan gula dalam batang bambu kosong, karena baru saja diambil untuk menumbuhkan buluh baru. Apabila buluh tertua dipanen ketika buluh baru sudah tua, maka cadangan gula dalam tiap buluh kembali penuh. Bambu yang penuh cadangan gula ini, akan menjadi mangsa hama bubuk ketika dimanfaatkan sebagai bahan bangunan, meubel, dan kerajinan. Buluh bambu akan lebih awet apabila setelah dikeringkan, direndam dalam  lumpur selama paling sedikit satu bulan.

Rebung dipanen ketika baru kelihatan sedikit kuncup menyembul di atas tanah. Rebung dipanen dengan sedikit digali, kemudian dengan sekop tajam, bagian yang menempel pada bonggol induk dipotong. Pemotongan dilakukan dengan menempelkan ujung sekop tajam pada bonggol rebung, kemudian pangkal sekop diinjak keras-keras. Setelah pangkal terputus, seluruh bagian rebung itu diungkit ke atas. Hasil panen rebung dikumpulkan di satu tempat masih di areal kebun, untuk dibuang seludang serta bagian pangkalnya yang keras. Rebung yang dibawa keluar dari kebun sudah bersih dari seludang dan bagian pangkal yang berkayu.

Rebung bersih ini bisa dipasarkan segar, dalam bentuk irisan sudah direbus, atau sudah dikemas dalam plastik/kaleng. Cara inilah yang lazim dilakukan dalam budi daya bambu untuk dipanen rebungnya di RRC, dan Jepang. Di Indonesia, rebung hasil panen dipasarkan masih utuh dengan seludang, dan bagian pangkalnya yang mengeras. Hal ini disebabkan di negeri kita belum ada perkebunan bambu yang khusus dibuka untuk menghasilkan rebung. Rebung bambu adalah bahan sayuran, acar, dan lumpia, terutama lumpia semarang yang terkenal itu. Sekarang lumpia banyak yang diisi bengkuang dan bukan rebung bambu, sebab bengkuang lebih mudah didapat dari pada rebung bambu. # # #

One thought on “PROSPEK BUDI DAYA REBUNG BAMBU

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s