KISRUH PROYEK BIOETHANOL SINGKONG

Berdasarkan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 5 Tahun 2006, tentang Kebijakan Energi Nasional; dan Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 1 Tahun 2006, tentang Penyediaan dan Pemanfaatan Bahan Bakar Nabati (biofuel); pada bulan April 2007, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Manggarai Barat telah membuka proyek singkong untuk diolah menjadi etanol. Nilai proyek di Manggarai Barat (Pulau Flores), NTT ini, mencapai Rp 2,8 milyar. Sebanyak 10.125.000 batang setek singkong telah ditanam di tiga kecamatan, Lembor, Welak, dan Sano Nggoang. Jenis yang ditanam, rencananya Adira Plus, tetapi kemudian diganti dengan Caspro Landras Lumajang.

Petani kemudian kecewa, karena hasil panen mereka hanya dihargai Rp 200,- per kg. Selain itu, lembaga Research and Development Manggarai Barat, juga mensinyalir adanya tindak pidana korupsi dalam proyek ini. Diduga, terjadi mark up dalam pengadaan setek singkong. Selain itu, tingkat keberhasilan proyek ini juga sangat kecil. Singkong unggul seperti Adira, memang direkomendasikan mampu berproduksi rata-rata 3,5 kg. per batang. Dengan populasi tanaman 10.000 batang per hektar, petani akan memanen 35 ton singkong segar. Namun dalam praktek, hasil yang bisa diperoleh petani, paling tinggi hanyalah 20 ton singkong segar per hektar per musim tanam.

Selama ini, ada empat komoditas yang diprioritaskan pemerintah untuk bahan biofuel. Pertama minyak sawit mentah (Crude Palm Oil, CPO), Jarak Pagar, Tebu (tetesnya), dan singkong. Dari empat komoditas itu, hanya jarak yang tidak digunakan sebagai bahan pangan. CPO adalah bahan minyak goreng dan margarin. Tetes tebu adalah bahan MSG (penyedap masakan). Singkong adalah bahan tapioka untuk bakso dan kerupuk, serta bahan gaplek untuk pakan ternak. Selain itu singkong juga biasa dikonsumsi segar oleh masyarakat. Jangka waktu panen singkong, juga terlalu lama (9-10 bulan), dibandingkan dengan  ubi jalar (3-5 bulan).

# # #

Proyek singkong, jarak, dan kemudian juga sorgum, untuk biofuel, selalu menjadi pemicu tindak pidana korupsi, terutama dalam pengadaan benih. Klaim para koruptor ini adalah, jarak biasa hanya bisa menghasilkan 4 ton biji kering. Jarak unggul mampu menghasilkan 8 sampai 10 ton. Singkong biasa hanya 20 ton. Singkong unggul mencapai 35 ton per hektar per tahun. Padahal, benih hanyalah salah satu faktor, dari beberapa faktor yang akan mempengaruhi hasil panen. Masih ada faktor tanah dengan unsur pengolahan, hara tanah (nutrisi), dan bahan organik. Kemudian faktor ketersediaan air dan sinar matahari.

Pilihan lokasi proyek di Kabupaten Manggarai Barat, NTT, sudah memperhatikan faktor ketersediaan air dan sinar matahari. Dengan benih unggul, diharapkan hasilnya akan sesuai dengan harapan. Namun yang dilupakan oleh pengelola proyek, adalah faktor pengolahan tanah, nutrisi, dan bahan organik. Tahun 1970an, di Sumatera Utara ada seorang petani singkong bernama Westenberg, yang mampu memanen 80 ton singkong segar dari tiap hektar lahannya. Padahal standar internasional hasil singkong, hanyalah 50 ton per hektar. Prestasi Westenberg ini bisa diraih, karena ia memasukkan 40 ton bahan organik (8 truk @ 5 ton), untuk tiap hektar lahan singkongnya.

Agar memperoleh hasil panen sebanyak 50 ton per hektar per musim tanam, budi daya singkong mutlak memerlukan asupan bahan organik saparo dari bobot hasil panen, atau sebesar 25 ton per hektar. Bahan organik ini bisa berupa pupuk kandang, kompos, humus, gambut yang sudah dimatangkan, dan guano. Bahan organik paling murah, harus berasal dari sekitar lahan singkong tersebut, agar biaya angkutnya bisa ditekan serendah mungkin. Bahan organik ini sangat diperlukan singkong, karena tanaman ini rakus unsur hara, hingga memerlukan pupuk nitrogen (urea) dosis tinggi. Agar tanah tidak rusak akibat over dosis urea, diperlukan bahan organik dosis tinggi pula.

Meskipun sudah diberi bahan organik sebanyak separo dari bobot hasil panen yang diharapkan, areal singkong hanya bisa ditanami paling lama sebanyak tiga kali (tiga tahun). Setelah itu, lahan harus dirotasi dengan tanaman lain. Komoditas yang selama ini dimanfaatkan untuk merotasi lahan singkong adalah nanas. Komoditas lain yang cocok menyelingi singkong antara lain kacang tanah. Singkong perlu dirotasi dengan komoditas lain, untuk mengembalikan kesuburan tanah. Setelah tiga tahun ditanami komoditas lain, lahan tersebut akan kembali subur hingga bisa ditanami singkong lagi.

# # #

Komoditas singkong, sebenarnya masih terlalu mahal untuk bahan baku etanol. Dengan diolah menjadi tapioka pun, petani sudah sangat diuntungkan. Bahkan sebenarnya, dengan harga Rp 200,- per kg. pun, petani sudah bisa meraih untung cukup besar, apabila hasil per hektarnya bisa mencapai 50 ton atau senilai Rp 10.000.000,-  Biaya produksi budi daya singkong, termasuk pengadaan bahan organik, paling tinggi Rp 5.000.000,- Hingga pendapatan bersih petani bisa mencapai 100% dari modal. Namun sampai selama ini, tidak pernah ada penyuluhan dari pemerintah, bahwa petani harus memasukkan bahan organik ke lahan singkong mereka.

Rendahnya biaya budi daya singkong, terutama disebabkan oleh faktor benih yang tidak usah membeli. Ketika panen tiba, petani akan menyisihkan sebagian dari batang singkong, dan menaruhnya di tempat yang sejuk. Nanti pada awal musim penghujan, petani akan memotong-motong batang singkong itu menjadi setek, untuk kembali ditanam di lahan. Hingga praktis, komponen biaya budi daya singkong hanyalah pengolahan lahan, pemberian bahan organik, penanaman, pemupukan dengan urea, penyiangan, dan panen. Beda dengan jagung, kacang tanah, bawang merah, dan terlebih lagi kentang, yang biaya terbesar akan terserap untuk membeli benih.

Sebuah proyek agroindustri etanol, sebenarnya tidak etis kalau dilakukan dengan cara membodohi rakyat. Harusnya perusahaan yang berencana membangun pabrik etanol itu membuka kebun dan menanam singkong sendiri. Kalau rakyat akan dididik untuk juga menanam singkong, harus sekalian diajari, bagaimana caranya mengolah menjadi gaplek atau tapioka. Produk awetan dan olahan singkong ini, bisa tahan disimpan, serta mudah diangkut untuk dipasarkan. Pendapatan petani akan meningkat dari gaplek dan tapioka. Tetapi untuk itu petani juga memerlukan modal kerja. (R) # # #

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s