PEDAGANG BOLEH MENJUAL BERAS OPLOSAN?

Baru-baru ini, pemerintah mengeluarkan paket kebijakan pangan. Di antaranya paket kebijakan itu antara lain, jatah beras miskin (raskin), naik dari 10 kg menjadi 15 kg per jiwa per bulan. Bea masuk impor beras turun dari Rp 550 ke Rp 450 per kg. Penyebaran benih padi bermutu ke petani dipercepat. Pajak ekspor CPO naik dari 10% ke 15%, kalau harga mencapai US $ 1.100 per ton. PPN CPO untuk pasar dalam negeri ditanggung pemerintah. Harga operasi pasar minyak goreng Rp 2.500 per liter. PPh impor kedelai turun dari 2,5% ke 0,5%. Bea masuk kedelai dihapus. Produksi kedelai dalam negeri akan dipacu pada tahun 2008 ini.

Selain kedelai, yang juga dihapus bea masuknya, dan PPNnya ditanggung pemerintah adalah terigu. Pemberlakuan SNI terigu juga ditunda pelaksanaannya. Tetapi dalam paket ini, tidak ada upaya untuk memacu budi daya gandum di dalam negeri. Padahal budi daya gandum telah mulai berkembang antara lain di Pasuruan, Jatim. “Upaya” pihak importir gandum untuk “mempengaruhi” pemerintah, tampaknya lebih kuat, hingga sampai sekarang tidak pernah ada upaya serius memacu produksi gandum nasional. Padahal impor kita sekarang sudah mencapai 5 juta ton per tahun, dengan nilai lebih dari 7 trilyun rupiah.

Dalam kunjungannya ke Pasar Induk Beras Cipinang, Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu, menyatakan, bahwa pedagang boleh menjual beras oplosan. Dengan syarat, mereka harus jujur, dengan mencantumkan data oplosan pada kemasan. Kalau menggunakan pewangi, juga harus disebutkan. Disinilah sebenarnya yang menjadi permasalahan utama. Pedagang beras kita, selama ini justru berkecenderungan untuk menipu konsumen. Pada semua kemasan selalu ada tulisan “Pandan Wangi”. Padahal tidak pernah ada pandan wangi asli (100%) yang masuk ke pasar.

# # #

Yang selama ini diklaim sebagai pandan wangi asli oleh para pedagang, dengan cara mencantumkan klaim itu di kemasan; sebenarnya beras oplosan, antara pandan wangi, atau mentik wangi, dengan IR 64. Kalau harga “pandan wangi” ini sedikit lebih rendah, wanginya bukan wangi asli beras, melainkan wangi esens pandan, yang disemprotkan ke dalam beras tersebut. Semua informasi itu tidak pernah disampaikan ke konsumen. Bahkan data panen pun juga tidak tercantum pada kemasan. Hingga konsumen tidak pernah tahu, kualitas yang sebenarnya, dari produk yang mereka beli.

Oplosan antara pandan wangi dengan IR 64, masih belum merugikan konsumen. Yang lebih memprihatinkan lagi adalah, pedagang menyosoh beras impor yang telah rusak di gudang, yang sebenarnya sudah tidak layak konsumsi.  Beras rusak  itu diberi klorin agar jadi putih ketika disosoh, kemudian dioplos dengan beras baru, seraya diberi esens agar menjadi wangi. Klorin adalah zat berbahaya, yang tidak dibenarkan untuk dicampurkan ke dalam produk makanan. Tetapi praktek seperti inilah, yang selama ini dilakukan oleh para pedagang kita. Konsumen, terutama lapis bawah, menjadi pihak yang paling dirugikan.

Praktek pengoplosan beras rusak, dengan pemberian klorin, serta zat pewangi, sebenarnya bukan 100% kesalahan pedagang. Adanya beras rusak di pasaran, merupakan dampak dari kebijakan pemerintah yang sejak awal sudah salah. Di mana pun di dunia, penyimpanan serealia selalu berupa gabah di dalam silo. Bukan dalam bentuk beras atau tepung. Selama masih dalam bentuk gabah, tingkat kerusakannya hampir tidak ada, walau pun komoditas ini disimpan selama tiga tahun. Masyarakat tradisional selama ini biasa menyimpan gabah atau malai padi di dalam lumbung, tanpa mengalami tingkat penurunan kualitas.

Kalau beras diwadahi karung dan ditumpuk dalam gudang, dengan perlakuan apa pun, akan mengalami kerusakan hanya dalam jangka waktu satu tahun. Padahal, penyimpanan beras dengan wadah karung, di dalam gudang,  merupakan pola baku yang selama ini menjadi kebijakan pemerintah melalui Bulog dan KUD. Dalam kondisi seperti ini, beras akan segera mengalami penurunan mutu. Terlebih lagi, pengeringan gabah sebelum digiling, hanya dilakukan dengan penjemuran, hingga kadar air di bawah 14% sulit untuk dicapai. Di negara penghasil serealia, pengeringan dilakukan dengan kombinasi penjemuran dan heater.

# # #

Sukses swasembada beras yang dicapai Indonesia pada tahun 1984, sebenarnya merupakan sukses semu. Hingga kemudian peningkatan produksi, tidak pernah mampu mengimbangi laju peningkatan konsumsi. Tujuan utama menggenjot produksi beras selama pemerintahan Orde Baru, sebenarnya hanya untuk mendukung stabilitas politik. ABRI, pegawai negeri, dan buruh sebagai basis politik Golkar, harus selalu memperoleh beras murah. Untuk itu, petani yang relatif tidak mudah bergejolak, harus dikorbankan. Caranya, dengan tidak membentuk lembaga independen yang kuat, di kalangan petani.

Lembaga yang ada di sektor pertanian adalah Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI), dan Kontak Tani dan Nelayan Andalan (KTNA). Dua lembaga bentukan pemerintah ini, juga lebih ditujukan untuk kepentingan politik, dan bukan untuk mengembangkan agroindustri secara sehat. Di India, RRC, dan negara-negara Indochina, petani padi terwadahi dalam Kelompok Petani Padi, Koperasi Petani Padi, dan Asosiasi Petani Padi. Tiga lembaga ini, bukan hanya mendukung kegiatan budi daya, melainkan juga pemasaran. Gabah hasil panen akan langsung dibeli oleh koperasi, dikeringkan dengan dryer, disimpan dalam silo, digiling secara bertahap, dan didistribusikan ke pasar.

Dengan cara tersebut, kendali pasar ada di tangan petani, melalui tiga lembaga tersebut. Kalau harga naik tajam, koperasi akan melepas stok, agar harga kembali normal. Kalau harga turun di bawah biaya produksi, koperasi tetap akan membeli gabah petani, dengan harga di atas harga pokok. Di negeri kita, petani hanyalah sekadar menjadi obyek. Kepentingan politik, bisnis perusahaan nasional, dan multi nasional, semuanya memanfaatkan petani. Dan terakhir, para pedagang pun, memanfaatkan kondisi agroindustri beras yang carut-marut ini, untuk kepentingan mereka. Ulah pedagang ini bukan hanya merugikan petani, tetapi juga seluruh rakyat Indonesia sebagai konsumen beras. (R) # # #

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s