KALIANDRA UNTUK MEREDAM EMISI KARBON

Semua negara di dunia, saat ini sedang sibuk mengupayakan pengurangan emisi karbon di udara, dalam rangka mencegah pemanasan global. Sebab pemanasan global akan berdampak ke perubahan iklim, dan naiknya permukaan air laut akibat mencairnya es di kutub. Selain itu, radiasi sinar matahari juga akan menembus atmosfir, hingga potensial memunahkan makhluk hidup. Salah satu upaya meredam emisi karbon adalah dengan mencegah pembabatan hutan serta penanaman pohon. Indonesia, saat ini mencanangkan penanaman 79 juta pohon.

Pohon yang paling tepat untuk ditanam secara massal dengan hasil yang cepat tampak, antara lain kaliandra. Ada sekitar 200 spesies kaliandra, yang kebanyakan dibudidayakan sebagai tanaman hias, karena keindahan bunganya. Spesies kaliandra yang paling banyak dimanfaatkan sebagai tanaman penghijauan adalah (Calliandra calothyrsus). Masyarakat biasa menyebut Calliandra calothyrsus hanya dengan sebutan kaliandra. Ada tiga varietas Calliandra calothyrsus, yakni kaliandra merah, kaliandra putih, dan kaliandra kuning.

Sebutan terhadap varietas Calliandra calothyrsus ini, disesuaikan dengan warna masing-masing bunganya, yakni merah, putih dan kuning. Namun yang paling banyak dibudidayakan sebagai tanaman penghijauan hanyalah kaliandra merah. Sebab varietas ini paling cepat tumbuh, dan paling banyak menghasilkan daun serta kayu. Daun kaliandra sangat kaya protein dan gizi, hingga cocok untuk pakan ternak ruminansia. Daun yang rontok di areal penghijauan, akan meningkatkan kesuburan lahan. Kayu kaliandra hanya bisa untuk kayu bakar, atau ajir bagi tanaman merambat.

# # #

Sepintas, sosok dan daun tanaman kaliandra mirip dengan lamtoro dan albisia. Kalau lamtoro dan kaliandra tanaman perdu, albisia adalah pohon yang tingginya bisa mencapai 30 m, dengan diameter batang lebih dari 1 m. Kalau lamtoro hanya bisa tumbuh di dataran rendah (pantai) sampai ke dataran menengah, maka kaliandra justru hanya bisa tumbuh di dataran menengah sampai tinggi (sekitar 2.000 dpl). Lamtoro dan albisia adalah tanaman tunggal. Hingga lamtoro hanya akan tumbuh dengan satu batang tunggal. Kalau batang ini ditebang, peluang untuk tumbuh lagi sangat kecil.

Lain halnya dengan kaliandra. Perdu ini agak sulit untuk tumbuh dengan batang tunggal. Sejak awal akan tumbuh banyak sekali cabang pada pangkal batang, yang kesemuanya juga akan menjadi batang. Hingga sepintas, kaliandra akan tampak seperti sebuah rumpun. Terlebih kalau tanaman ini ditebang, maka pada pangkal batang itu akan tumbuh banyak sekali tunas baru, dan semuanya akan membentuk rumpun yang  lebih rapat lagi. Hingga dalam waktu singkat kaliandra akan mampu menutup permukaan bukit yang gundul dan tandus.

Kemampuan kaliandra untuk menghijaukan  bukit gundul dan tandus memang luar biasa. Sebab habitat asli tanaman ini memang bukit-bukit yang tandus di Amerika Tengah. Tanaman ini memang asli dari Meksiko dan sekitarnya. Kawasan NTB dan NTT yang berbukit-bukit tandus, terutama dataran tingginya, ketika ditanami kaliandra, dalam jangka waktu hanya dua tahun sudah tampak hijau. Setelah lima tahun lahan ini bisa dibuka dengan hasil kayu bakar, dan hijauan untuk pupuk. Selanjutnya lahan tandus di NTT dan NTB itu bisa dijadikan lahan pertanian.

Kemampuan kaliandra untuk menghijaukan bukit dan gunung memang tidak tertandingi oleh tanaman apa pun. Gunung (bukit) Tidar, di tengah kota Magelang, Jawa Tengah, tahun 1960an merupakan bukit gersang karena langganan terbakar setiap tahun. Setelah dihijaukan dengan kaliandra, gunung Tidar tidak pernah terbakar. Sebab pada musim kemarau yang paling panjang sekalipun, permukaan tanah akan tetap lembap. Setelah bukit menghijau, tanaman lain yang lebih besar, misalnya pinus, bisa ditanam dengan aman, tanpa ancaman kebakaran.

# # #

Hingga kemudian kaliandra menjadi tanaman penghijauan favorit diseluruh kawasan tropis di dunia.  Gunung-gunung di Jawa Tengah yang kondisinya sudah benar-benar gundul, misalnya Sindoro, Sumbing, Merbabu, Merapi, dan Lawu, sebagian bisa terselamatkan menjadi hutan, setelah pertama-tama ditanami kaliandra. Ketika gunung Galunggung meletus tahun 1981/1982, kawasan di sekitarnya menjadi hamparan pasir dan kerikil. Perum Perhutani segera menanaminya dengan kaliandra. Tidak berapa lama kemudian, kawasan ini kembali  hijau.

Karena kerapatan tajuknya, maka kaliandra justru tidak bisa dijadikan sebagai tanaman dalam budi daya kopi, kakao, bahkan juga vanili. Kecuali hanya sebagai border untuk mengamankan lereng-lereng yang curam. Di pinggiran sebagian ruas jalan tol Jagorawi, juga tampak tanaman kaliandra yang ditanam rapat. Demikian pula di lereng-lerang curam di kawasan kebun teh Gunung Mas di Puncak. Ciri khas kaliandra adalah tajuknya yang rapat, daunnya yang berwarna hijau tua, serta bunganya yang merah mencolok.

Kaliandra merupakan tanaman perintis. Hingga paling cocok untuk menghijaukan kawasan yang 100% terbuka, dan tandus. Karena pertumbuhannya yang sangat cepat, kemampuan untuk menekan emisi karbon di udara juga luarbiasa. Kaliandra adalah penghisap CO2 yang handal, untuk diubah dalam proses fotosintesis menjadi O2. Namun ketika tanaman ini dibabat, agar lahannya bisa dijadikan areal pertanian, maka kayu dan serasahnya jangan dibakar. Sebab kita akan kembali memanasi udara dan mengotorinya dengan CO2. (R) # # #

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s