S.O.S LENGKENG LOKAL KITA

Beberapa bulan belakangan ini, para pemilik tanaman lengkeng di kawasan Ambarawa, Jawa Tengah, banyak yang menjual pohon lengkeng mereka ke penebang pohon. Pohon lengkeng yang sudah berdiameter sampai 1 m, dan bertajuk sangat rimbun, bisa laku Rp 100.000,- per batang. Para penebang, akan memangkas cabang sampai habis, lalu memotong batang yang berkayu sangat keras itu dengan chainsaw. Pohon lengkeng tua itu rata-rata sudah berumur di atas 20 tahun. Satu dua bahkan sudah lebih dari 50 tahun.

Sebelum tahun 80an, ketika lengkeng Thailand belum membanjiri pasar, pasokan lengkeng nasional hanya mengandalkan sentra lengkeng Ambarawa. Ketika itu para pemilik tanaman lengkeng merawat pohon mereka dengan sangat intensif. Secara rutin tanaman dipupuk dan dipangkas. Batang dan cabang tanaman dikerok sampai sangat bersih. Hingga secara rutin tanaman akan berbuah lebat. Ketika itu para pedagang rajin keliling kampung untuk membeli bunga lengkeng. Bunga lengkeng di pohon pun ketika itu sudah laku dijual.

Ketika bunga sudah menjadi buah muda (pentil), pedagang itu akan memberongsongnya dengan keranjang bambu kecil yang disebut kereneng. Kalau tidak, kalong dan codot (kelelawar pemakan buah), akan menyerbunya sampai habis. Ketika lengkeng bangkok rutin menyerbu pasar nasional, harga lengkeng ambarawa jatuh. Upaya peremajaan dengan lengkeng varietas baru, juga terlambat dilakukan oleh pemerintah. Akibatnya masyarakat malas merawat tanaman lengkeng mereka. Pohon lengkeng kemudian juga tumbuh merimbun dan malas berbuah.

# # #

Oleh para penebang, kayu lengkeng itu akan dijual ke beberapa tempat. Cabang-cabangnya akan dijual ke pembuat arang. Saat ini Jawa sangat kekurangan arang. Kayu lengkeng yang liat dan keras, akan menghasilkan arang kualitas bagus dengan kalori tinggi. Batangnya yang berbonggol-bonggol akan dijual ke perusahaan meubel antik, dan pembuat barang-barang kerajinan. Batang lengkeng tua biasanya berbenjol-benjol dengan bentuk tidak beraturan. Masyarakat papan atas di kota besar, sangat menyenangi meubel dengan karakter demikian.

Cabang dan sisa-sisa batang yang tidak diterima oleh perusahaan meubel, akan dijadikan kayu bakar. Dengan naiknya harga BBM belakangan ini, kayu bakar menjadi alternatif  pengganti yang cukup menarik. Kayu lengkeng yang keras menjadi pilihan paling menarik. Kalau hal ini dibiarkan terus, kawasan Ambarawa hanya akan dikenang sebagai “mantan” penghasil lengkeng. Sementara pasar lengkeng nasional akan semakin dibanjiri oleh lengkeng Thailand, Vietnam, serta RRC. Beberapa petani memang sudah berinisiatif  untuk mengganti lengkeng tua mereka dengan varietas-varietas baru. Namun upaya ini masih dilakukan dengan sangat sporadis.

Lengkeng lokal kita, sebenarnya tidak pernah jelas varietasnya. Meskipun masih spesies Dimocarpus longan. Sekarang sebenarnya sudah beredar lengkeng varietas baru, yang jauh lebih unggul dari lengkeng lokal kita. Misalnya Diamond River (Phetsakon), Sri Chompoo, Biew Kiew, Edo (Edau), dari Thailand; Egami, E Wai, dan Pingpong dari Vietnam, serta Kohala dari Hawaii. Namun benih lengkeng baru ini masih sangat terbatas peredarannya. Kita pun sebenarnya juga punya varietas lengkeng dataran rendah baru, yakni Sugiri dari Palembang, yang sekarang sudah dikembangkan di Lampung.

Penyebarluasan lengkeng baru tersebut, mengalami kendala karena populasi tanamannya masih sangat sedikit, hingga harganya sangat tinggi. Kalau harga benih lengkeng lokal hanya sekitar Rp 5.000,- sampai dengan Rp 10.000,- per polybag, maka lengkeng varietas baru ini bisa mencapai Rp 100.000,- per polybag. Kendala ini sebenarnya bisa diatasi dengan mengambil entresnya, lalu menyambungkannya ke tanaman lengkeng lokal yang sudah produktif. Dalam waktu singkat akan bisa dihasilkan banyak entres yang bisa disambungkan ke tanaman lengkeng lokal lainnya. Demikian seterusnya hingga lengkeng baru ini akan cepat menyebar ke masyarakat.

# # #

Yang juga menjadi kendala pengembangan lengkeng di Indonesia, khususnya di Ambarawa adalah adanya gangguan hama kelelawar. Di satu pihak, upaya pemberongsongan akan cukup menguntungkan, karena mampu memberi pekerjaan ke para perajin kereneng, dan sekaligus pemberongsong buah. Namun upaya ini sekarang menjadi terlalu mahal, sebab pembuat kereneng semakin jarang. Namun dengan maraknya peluang menjadi TKI, tenaga kerja juga menjadi sangat mahal. Pembuat kereneng yang umurnya rata-rata sudah tua, juga sudah banyak yang meninggal.

Kendala hama kelelawar ini bisa diatasi dengan pembungkusan seluruh tajuk pohon dengan net plastik. Upaya ini selain lebih murah, juga sangat praktis, hingga tidak memakan waktu lama dibanding dengan  pemberongsongan buah per dompolan. Upaya ini juga banyak dilakukan di negara maju. Termasuk pemberian net terhadap  tanaman anggur, agar tidak diganggu hama burung. Di Thailand, buah lengkeng tidak pernah diberongsong. Bukan karena di sana tidak ada hama kelelawar, melainkan populasi tanaman lengkengnya demikian banyak, hingga gangguan kelelawar tidak pernah menimbulkan kerugian yang berarti bagi  petani.

Apabila populasi lengkeng di Ambarawa bisa sebanyak Thailand, maka kemungkinan besar gangguan kelelawar juga tidak akan sampai menimbulkan kerugian bagi petani. Ini merupakan tantangan tersendiri bagi pemerintah Kabupaten  Semarang, Temanggung, dan Magelang, pemerintah Provinsi Jawa Tengah, serta Departemen Pertanian. Selama ini, perbatasan Kabupaten Semarang, Temanggung, dan Magelang di Jawa Tengah dikenal sebagai “segi tiga emas lengkeng Indonesia”. Kalau kita tidak ingin julukan itu menjadi kenangan, maka upaya peremajaan lengkeng memang mutlak harus dilakukan. (R) # # #

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s