ROTI PASKAH

Awalnya, Paskah (Passover, Pesach, Pesah, Pesakh) adalah hari raya Umat Yahudi. Paskah adalah hari pembebasan Bani Israel dari status mereka sebagai budak di Mesir. Dibawah pimpinan Nabi Musa, Umat Yahudi meninggalkan Mesir. Sebelumnya, Firaun selalu mengingkari janji membebaskan mereka, meski Allah telah berulangkali menunjukkan kekuasaanNya. Pada malam sebelum meninggalkan Mesir, seluruh Bani Israel harus memotong anak domba jantan, mengoleskan darahnya di pintu, dan memanggang dagingnya secara utuh. Malam itu mereka harus bergadang untuk berkemas-kemas.

Daging anak domba itu, harus disantap dengan roti tak beragi (Unleavened Bread, Flat Bread), dan sawi pahit. Menyantapnya juga harus dengan berdiri. Malam itu juga Malaikat Jibril membunuh anak laki-laki sulung semua keluarga Mesir. Ini merupakan hukuman Allah kepada Firaun yang selalu ingkar janji. Keluarga Bani Israel selamat, karena adanya tanda darah domba pada pintu rumah. Paginya, seluruh Mesir berkabung, karena semua anak laki-laki sulung meninggal. Firaun lalu membebaskan Bani Israel. Peristiwa malam itulah yang oleh Umat Yahudi diperingati sebagai Hari Raya Paskah. Roti tak beragi lalu disebut roti paskah (matza, matzah, matzo, or matzoh, matze).

Umat Nasrani (Katolik, Ortodoks, dan Kristen Protestan), mengadopsi Hari Raya Paskah, untuk memperingati sengsara, wafat, dan kebangkitan Yesus Kristus. Hari Raya Paskah dimulai dari Kamis sore, untuk memperingati Perjamuan Terakhir (The Last Supper). Ketika itulah Yesus bersama 12 muridnya makan malam, dengan menu roti tak beragi. Dalam peristiwa itu Yesus mencuil-cuil roti, lalu membagikannya ke para murid. Kemudian Ia juga menuang anggur merah, lalu minta para murid minum bergantian. Peristiwa inilah yang diperingati sebagai Perayaan Ekaristi (Misa), dalam tradisi Katolik.

# # #

Hari Jumatnya, disebut sebagai Jumat Agung, yakni peristiwa sengsara dan wafatnya Yesus di kayu salib. Lalu Minggunya, adalah puncak Perayaan Paskah. Dalam tradisi nasrani, tidak ada lagi ibadat makan anak kambing panggang, roti tak beragi, serta sawi pahit. Tetapi masing-masing keluarga dan komunitas, tetap masih menyantap roti paskah, dengan berbagai variasinya. Sementara dalam keluarga modern, Paskah lalu identik dengan bunga Easter Lily (Lilium longiflorum), dan telur paskah. Ini adalah telur ayam, itik, angsa atau kalkun, yang dihias warna-warni, disembunyikan, lalu anak-anak diminta untuk mencarinya.

Roti paskah sebenarnya merupakan “roti purba”. Roti ini terbuat dari tepung gandum (terigu) yang diberi air, dibuat adonan, tetapi tanpa ragi (yeast), maupun backing soda sebagai pengembang. Adonan tepung ini kemudian dipipihkan, setebal antara satu mm, seperti bungkus martabak telur, sampai satu cm, dan dibentuk membulat. Adonan dipanggang dalam kuali (gerabah), yang ditaruh di atas bara api. Karena adanya gluten dalam tepung gandum, maka roti tak beragi akan terasa alot kalau dipanggang sebentar, dan akan sangat keras apabila dipanggang sampai kering. Rasanya bisa dibuat tawar, bisa pula asin, tergantung selera.

Bentuk roti seperti ini kemudian disebut sebagai roti datar fllat bread. Di India dan sekitarnya, roti seperti ini disebut lavash atau chapati. Tetapi flat bread belum tentu tak beragi. Sebab setelah ragi diketemukan, bentuk roti flat braed ada yang beragi, ada yang tanpa ragi. Bentuk roti datar inilah yang di Eropa berkembang menjadi Pizza, dan di Indonesia menjadi Martabak, dengan berbagai variasinya. Roti beragi sendiri, sebenarnya diketemukan secara tidak sengaja. Pada jaman neolitikum (8500 – 8000 SM), di Mesopotamia (Irak), orang sudah biasa memfermentasi air buah anggur, dengan ragi (yeast), Saccharomyces cerevisiae.

Ragi inilah yang mengubah gula dalam air buah anggur menjadi alkohol, sambil menghasilkan gas CO2. Di Mesopotamia, pembuatan anggur dan roti sering dilakukan oleh budak yang sama di satu ruangan. Suatu ketika, sehabis mengaduk-aduk konsentrat buah anggur yang sudah beragi, tanpa cuci tangan, budak itu langsung membuat adonan roti. Tetapi dia kemudian mengantuk dan tertidur sejenak. Alangkah kagetnya budak ini, sebab adonan roti itu mengembang jadi berukuran duakali lipat, dan baunya menjadi sangat harum. Adonan bengkak itupun segera dipanggangnya. Ternyata roti itu empuk sekali, harum, dan sedikit manis.

# # #

Sejak itulah dikenal dua macam roti datar, yakni roti datar tak beragi yang alot dan keras, serta roti datar beragi yang empuk, agak manis, dan harum. Sejak jaman neolitikum roti purba yang tak beragi, sebenarnya sudah dianggap suci oleh masyarakat Mesopotamia. Hingga ketika Bani Israel menggunakannya sebagai simbol pembebasan dari perbudakan oleh Firaun, yang dipilih bukan roti beragi, melainkan roti tak beragi. Dalam tradisi Yahudi, menyantap matza dalam menyambut Perayaan Paskah, masih tetap dilakukan sampai sekarang. Lengkap dengan daging domba dan sawi pahit.

Dalam tradisi Katolik, roti tak beragi dibuat kecil-kecil sebesar uang, dan tipis, agar lebih praktis. Tetapi roti yang disebut Hosti ini, tidak lagi menjadi simbol paskah. Hosti dibagikan pada setiap ibadat misa. Baik misa rutin setiap minggu, misa Natal, Paskah, misa pernikahan, kematian, dan lain-lain. Dalam tradisi Kristen Protestan, simbol roti tak beragi ini tidak digunakan untuk ibadat lagi. Meskipun, beberapa bangsa, tetap menyantap Easter Bread untuk merayakan Paskah. Namun fungsinya hanya sekadar untuk jamuan keluarga, dan tidak terkait dengan upacara keagamaan.

Dunia Islam memang tidak menggunakan roti datar, terkait dengan hari raya keagamaan. Hingga roti datar di kalangan umat Muslim, hanyalah santapan sehari-hari biasa. Misalnya Aish Mehahra (Mesir), Barbari, Sangak, Taftoon (Iran), Bazlama, Pide, Yufka (Turki),  Malooga (Yaman), Laxoox (Somalia), Luchi (Bangladesh), Lavash, (seluruh Timur Tengah). Roti datar, ternyata justru paling populer di India. Misalnya Bhakri, Bhatura, Chapati, Naan, Papadum, Paratha, dan Puri.  Di negeri kita, roti datar berbahan gandum, menjadi martabak telur dan martabak manis, dengan berbagai variasinya. (R) # # #

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s