PENGURANGAN PRODUKSI CPO DAN KARET

Jatuhnya harga minyak sawit mentah (Crude Palm Oil, CPO), dan karet alam, telah mendorong RI dan Malaysia menjalin kesepakatan. Dua negara ini sepakat untuk mengurangi produksi, dan meningkatkan konsumsi CPO, serta karet alam. Dengan adanya upaya ini, diharapkan harga akan kembali stabil.

Kesepakatan antara RI dan Malaysia ini diperoleh setelah adanya pertemuan antara Menteri Pertanian RI Anton Apriyantono, dengan Menteri Perladangan dan Komoditi Malaysia Datuk Peter Chin Fah Kui di Jakarta, Kamis, 6 November 2008. Dalam kesepakatan itu, rencananya Indonesia akan meremajakan seluas 50.000 hektar tanaman sawit, sementara Malaysia seluas 200.000 hektar. Dengan adanya peremajaan tanaman sawit, produksi CPO dua negeri ini akan menurun. Produksi CPO Indonesia akan turun sekitar 75.000 ton, sementara Malaysia sekitar 500.000 ton, pada tahun 2009.

Tahun 2008 ini, produksi CPO Indonesia sekitar 18 juta ton, sementara Malaysia 17 juta ton. Tahun lalu, produksi CPO Indonesia masih 17 juta ton, sementara Malaysia 16 juta ton. Sebenarnya tahun lalu Malaysia juga akan mampu berproduksi sebanyak 17 juta ton, tetapi karena adanya banjir yang melanda Johor dan Negeri Sembilan, maka untuk pertama kalinya produksi CPO Indonesia bisa 1 juta ton di atas Malaysia. Tahun-tahun sebelumnya, produksi CPO Indonesia selalu lebih rendah dari Malaysia. Tahun 2008 ini, produksi CPO Indonesia meningkat pesat karena adanya perluasan tanaman, sementara peremajaan ditunda oleh para pekebun.

# # #

Alasan para pekebun menunda peremajaan terutama disebabkan oleh harga CPO dunia yang terus naik. Tahun 2008 ini, baik Indonesia maupun Malaysia sama-sama mengalami kenaikan produksi CPO. Saat ini kelebihan stok CPO Indonesia dan Malaysia sekitar 4 juta ton per bulan. Kelebihan stok CPO ini bisa terjadi, karena sebenarnya tingkat kenaikan konsumsi CPO dunia, relatif kecil dibanding dengan peningkatan produksi Indonesia dan Malaysia, dua pemasok CPO utama dunia. Yang menjadi pertanyaan adalah, mengapa harga CPO dunia terus naik, padahal kebutuhan tidak mengalami kenaikan signifikan?

CPO, karet, kopi, kakao, teh, jagung, dan komoditas pertanian penting lainnya, sudah sama dengan saham. Sebelum adanya krisis keuangan AS yang kemudian menjalar ke seluruh dunia, pekebun sawit bisa menjual CPOnya satu tahun di depan dengan membuka portofolio. Inilah yang disebut sebagai future trading. Pemegang portofolio, akan segera menjualnya lagi ke pihak ketiga, demikian seterusnya, hingga CPO yang baru akan ada barangnya bulan depan, pada bulan ini sudah diperdagangkan sampai lebih dari 10 kali, dengan harga yang terus-menerus naik. Harga CPO yang tahun ini mencapai rekor 1.000 dolar AS per ton, sebenarnya sudah tidak riil. Tetapi harga CPO yang kemudian turun sampai di bawah 600 dolar AS per ton, juga terlalu murah.

Di lain pihak, kenaikan harga CPO yang luarbiasa, juga berdampak ke kenaikan harga tandan buah sawit (TBS), yang mencapai rekor Rp2.000 per kg. Ketika itulah para pekebun berupaya menaikkan produksi, antara lain dengan menunda peremajaan. Ketika terjadi krisis keuangan global, dan harga CPO ikut jatuh, maka harga TBS pun juga terjun bebas tinggal Rp500 per kg. Para analis, memperkirakan, sebenarnya harga riil TBS yang bisa diterima oleh pabrik (pengusaha),  maupun petani sebagai plasma adalah Rp1.000 per kg.

# # #

Karet pun sama. Permintaan karet alam dunia, sebenarnya juga tidak mengalami peningkatan yang mencolok. Memang pada musim kemarau, ketika produksi lateks menurun, harga berbagai bentuk produk karet alam selalu akan naik. Kenaikan harga karet alam mencapai puncaknya pada bulan Juni/Juli 2008, yakni mencapai 3.500 dolar AS per  ton. Kenaikan harga ini telah mendorong para pekebun menunda menebang pohon-pohon karet tua yang seharusnya diremajakan. Perkebunan karet rakyat juga ikut meningkatkan produksi, dengan intensitas penyadapan lebih tinggi.

Biasanya, ketika harga jatuh, petani malas untuk menyadap tanaman mereka. Ketika harga membaik, terlebih ketika harga melambung, petani mengerahkan tenaga kerja tambahan untuk menyadap tanaman mereka, termasuk tanaman tua yang biasanya tidak mereka sadap. Kemudian harga karet alam juga jatuh tinggal 1.750 dolar AS per ton. Secara otomatis, petani langsung menghentikan penyadapan. Lain halnya dengan para petani sawit. Mereka tetap harus memetik TBS mereka, sebab tanaman akan rusak, apabila TBS tidak dipetik. Karena biaya angkut tidak sebanding dengan harganya, petani membiarkan TBS tetap menumpuk di kebun sebagai pupuk.

Indonesia dan Malaysia adalah pemasok 85% CPO, serta menyuplai 45% karet alam di pasar dunia. Hingga kenaikan maupun penurunan produksi CPO serta karet alam dua negara ini, akan segera berdampak langsung ke kenaikan maupun penurunan harga di pasar dunia. Kecuali kenaikan harga yang terjadi akibat “penggorengan” portofolio dalam future trading, serta penurunan harga akibat koreksi otomatis, setelah terjadi keuangan dunia, yang dipicu oleh AS. Kesepakatan RI dan Malaysia untuk secara bersama-sama mengurangi produksi, diharapkan akan segera berpengaruh terhadap perbaikan harga dua komoditas ini. (R) # # #   

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s