NASIB PRODUK PERTANIAN IMPOR

Masyarakat  mulai kawatir, krisis keuangan yang menimpa AS, akan berdampak langsung terhadap perekonomian Indonesia. Para pejabat kita memang sudah berkomentar, bahwa hal itu tidak akan terjadi, dengan berbagai alasan yang rasional. Dalam praktek, harga-harga memang langsung merayap naik.

Komoditas impor dari AS yang dikonsumsi masyarakat lapis bawah adalah gandum (tepung terigu), sebagai bahan mi dan roti, termasuk mi isntan. Sekarang mi dan roti sudah menjadi menu sehari-hari masyarakat menengah ke bawah. Sebelum realisasi pencabutan subsidi Pajak Pertambahan Nilai yang Ditanggung Pemerintah  (PPN DTP), atas tepung terigu dan biji gandum, mulai tahun 2009, harga produk tersebut sudah mengalami kenaikan belakangan ini. Awalnya kenaikan harga tepung terigu dipicu oleh event puasa dan lebaran. Sebelum kembali ke harga semula, terjadi kenaikan susulan akibat krisis keuangan AS.

Dampak langsung dari krisis keuangan AS terhadap perekonomian kita adalah, terjadinya kenaikan kurs US $ terhadap rupiah. Akibatnya, harga komoditas yang bahan bakunya kita impor, terutama produk pangan, segera mengalami kenaikan. Komoditas lain yang juga kita impor dari AS adalah kedelai. Kedelai adalah bahan tahu dan tempe, lauk utama yang dikonsumsi masyarakat kecil. Sejak sebelum lebaran, tiba-tiba tempe menjadi langka di pasaran. Waktu itu penyebabnya diduga karena produsen dan pedagang tempe sedang mudik. Tetapi kenaikan terus berlanjut sampai jauh setelah lebaran.

Ini adalah dampak dari krisis keuangan AS, yang merembet ke kenaikan harga komoditas kedelai, dan tentu saja akan kena ke produk tahu dan tempe. Selain kedelai, yang juga kita impor dari AS adalah bungkil, tepung ikan, dan induk ayam broiler./layer (grand-grand parent stock, GGPS, ayam buyut). Bungkil, dan tepung ikan adalah komoditas pakan ternak, terutama unggas. Ditambah dengan naiknya harga Day Old Chick (DOC=anak ayam umur sehari), karena GGPS impor, maka harga daging dan telur ayam juga akan naik. Harga ikan air tawar (lele, mas, nila, patin), juga akan segera naik, karena kenaikan harga pakan.

# # #

Kenaikan harga bungkil, juga akan berpengaruh ke peternakan sapi, terutama sapi perah. Sebab pakan utama sapi perah bukan rumput, melainkan konsentrat, yang salah satu komponennya adalah bungkil. Dampak kenaikan harga bungkil akan berpengaruh ke kenaikan harga susu. Penyebab kenaikan harga susu bukan hanya faktor pakan, dalam hal ini bungkil. Induk sapi perah unggul, dengan produksi mencapai 20 liter per ekor per hari, masih harus diimpor. Induk sapi perah lokal rata-rata hanya bisa berproduksi 13 liter per ekor per hari. Induk lokal hasil kawin suntik dengan semen (mani) impor, rata-rata 16 liter per ekor per hari.

Dengan sentra peternakan sapi perah di Pujon  (Kabupaten Malang), Kabupten  Boyolali (merata), dan Pangalengan (Kabupaten Bandung), produksi susu segar nasional kita masih sangat rendah. Hingga pabrik susu kaleng, baik susu bubuk maupun susu kental manis, masih mengandalkan bahan baku impor. Dengan naiknya kurs US $ terhadap rupipah, maka kenaikan harga susu akan sangat dominan. Saat ini konsumen utama susu bubuk justru bukan kalangan menengah ke atas, melainkan menengah ke bawah. Buruh pabrik, dan pekerja perempuan di sektor lain, selama ini sangat mengandalkan keberadaan susu kaleng untuk anak-anak mereka.

Industri  tekstil kita yang terpuruk dihajar tekstil murah RRC, sebenarnya juga akibat ketergantungan kita (95%) pada kapas impor dari AS. Industri tekstil RRC, juga India, tidak hanya mengandalkan kapas. Padahal, RRC dan India adalah produsen kapas terbesar nomor satu dan nomor dua di dunia. Karena populasi penduduk mereka di atas 1 milyar jiwa, maka seberapa tinggi pun produksi kapas mereka, masih tetap belum mampu memenuhi kebutuhan industri tekstil. Maka mereka juga menanam rami, kenaf, canabis, abaka, agave, dan RRC juga tetap mengandalkan sutera alam mereka.

# # #

Yang juga memprihatinkan adalah, impor buah-buahan yang volumenya akan terus naik. Buah apel, jeruk, pir, anggur, kurma, lengkeng, dan durian, saat ini merajai pasar swalayan, dan kios-kios buah kakilima. Padahal apel, jeruk, dan anggur, bisa dibudidayakan di negeri ini. Terlebih lagi lengkeng dan durian. Tetapi tanpa niat yang serius dari pemerintah, mustahil para petani mampu mengembangkan komoditas-komoditas tersebut. Sekarang bahkan ada kecenderungan apel malang dan anggur bali, semakin terdesak oleh apel dan anggur impor. Demikian pula halnya dengan lengkeng dan durian kita.

Impor benih sayuran dan tanaman hias, terutama dari Taiwan, juga telah mengakibatkan tingginya produk yang dihasilkan petani kita. Dalam hal ini, petani sayuran kita masih lebih kreatif, karena telah mampu memroduksi benih sendiri, dengan kualitasnya yang mampu bersaing dengan benih impor. Benih kol, seledri, caisim, dan wortel, umumnya sudah bisa diproduksi oleh petani tradisional kita. Namun komoditas bawang putih, justru produk konsumsinya yang langsung kita impor dari RRC. Hingga sentra bawang putih lokal kita di Tuwel (Tegal), dan Tawangmangu (Karanganyar), nyaris mati.

Dengan gambaran seperti itu, tampak betapa rapuhnya perekonomian nasional kita. Komoditas penting yang menjadi kebutuhan pokok rakyat kecil, semuanya harus diimpor. Belum lagi barang-barang elektronik dan otomotif, yang komponen utamanya, harus diimpor. Mobil kijang misalnya, lebih dari 60% komponennya sudah bisa diproduksi idi Indonesia. Namun nilai 60% komponen itu masih di bawah 50%, dibandingkan dengan 40% komponen yang masih harus diimpor. Jangankan komponen elektronik otomotiv, komoditas remeh-temeh kebutuhan rakyat kecil seperti jarum jahit, dan peniti pun, kita masih mengimpor. (R) # # #

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s