KOREKSI HARGA CPO

Seiring dengan turunnya harga minyak bumi sampai sekitar 25% di pasar dunia, harga beberapa komoditas penting kita juga ikut jatuh. Jagung, kopi, karet, dan minyak sawit mentah (Crude Palm Oil, CPO), mengalami penurunan harga yang cukup besar. Penurunan harga CPO mencapai 45%.

Sebelum krisis keuangan AS, harga CPO di pasar dunia mencapai 1000 $ AS per ton. Pasca krisis keuangan AS, harga CPO turun menjadi sekitar 560 per ton. Turunnya harga CPO, memang juga disertai dengan penurunan pajak ekspor, namun belum sampai ke tahap penghapusan. Pajak ekspor baru akan menjadi 0% (dihapus), kalau harga CPO di bawah 550 $ AS per ton. dengan harga 550 – 649 $ AS per ton, pemerintah akan memungut pajak ekspor 2,5%. Pajak ekspor CPO berlaku progresif hingga pada harga 650 – 749 $ AS dikenakan 5%, harga  750 – 849 7,5%, dan  pada tingkat harga di atas 850 $ AS, dikenakan 10%.

Penurunan harga CPO di pasar dunia, berdampak pada penurunan Tandan Buah Segar (TBS) sawit sampai 70%. Sebelum krisis, harga TBS mencapai Rp2000 per kg. Sekarang harga TBS tinggal Rp600 per kg. Banyak petani sawit yang tidak memanen TBS, dan membiarkan rontok serta membusuk sebagai pupuk di bawah tegakan tanaman. Sebab biaya panen tidak akan tertutup oleh harga jual TBS. Namun sebagian besar petani, terutama yang sekaligus juga merangkap sebagai tenaga kerja, masih tetap memanen TBS mereka. Sebab seberapa redah harga TBS, tetap masih lebih baik, daripada mereka tidak memperoleh pendapatan sama sekali.

Harga TBS Rp600 per kg, memang terlalu rendah. Satu dua minggu setelah mencapai titik terendah, harga TBS mulai merayap naik. Para petani berharap, harga bisa kembali ke angka Rp1000 per kg. Sebab sebenarnya mereka juga sadar, bahwa harga TBS yang mencapai Rp2000 per kg, juga tidak wajar. Dengan harga TBS Rp2000, seharusnya harga eceran minyak akan mencapai rata-rata Rp15.000 per kg. Kenyataannya, puncak harga minyak goreng tertinggi di sekitar lebaran, rata-rata masih Rp 11.500 per kg. Sebenarnya, dengan harga TBS Rp800 per kg pun, petani sudah bisa meraih keuntungan.

# # #

Melambungnya harga minyak bumi, yang kemudian disusul oleh kenaikan harga komoditas pertanian, sebenarnya merupakan dampak dari bisnis semu perdagangan saham dan uang. Nilai saham riil, sebenarnya hanya ditentukan oleh seberapa baik kinerja perusahaan tersebut, yang tercermin dari tingginya deviden (bagian keuntungan) yang dibagikan ke para pemegang saham. Namun sesuatu yang riil ini menjadi tidak berlaku dalam bursa perdagangan saham (bursa efek). Perusahaan yang sedang terpuruk sekalipun, sahamnya bisa “digoreng” hingga melambung, jauh melebihi nilai riil saham tersebut, yang ditandai dengan nilai aset, omset, hutang, dan piutang.

Ini semua disebabkan oleh peningkatan nilai saham, dengan selisihnya yang disebut capital gain. Dalam perdagangan saham, dikenal profesi yang namanya pialang saham. Berkat para pialang saham, inilah nilai saham bisa naik atau turun, tanpa peduli dengan kondisi riil perusahaan tersebut. Saham, dan juga mata uang, terutama $ AS, kemudian menjadi mata dagangan tersendiri, yang sama sekali tidak terkait dengan kondisi riil perekonomian. Kembali ke kasus CPO, dikenal perdagangan yang disebut future trading. CPO yang baru akan ada tahun depan, pada tahun ini sudah bisa diuangkan, dengan harga riil, atau malahan lebih tinggi dari harga riil.

Future trading tidak sama dengan perdagangan dengan sistem ijon. Dalam ijon, petani menjual produk yang belum siap dipanen, dengan harga jauh lebih rendah dari harga riil. Pekebun sawit yang kesulitan likuiditas, bisa datang ke pialang future trading untuk mendapatkan modal kerja selama satu tahun. Bayarannya adalah CPO yang nanti akan dipanen. Yang menjadi pertanyaan, apakah para pialang future trading itu akan bisa mendapat keuntungan? Bisa! Sebab mereka akan menjual lagi CPO yang belum ada barangnya itu, kepada pihak lain. Demikian seterusnya, hingga harga CPO akan melambung tinggi, jauh di atas harga riil. Pola perdagangan inilah yang mengakibatkan harga CPO mencapai 1000 $ AS per ton, dan harga TBS di atas Rp2000 per kg.

# # #

Penurunan harga komoditas pertanian belakangan ini, sebenarnya merupakan koreksi harga.    Selama ini, perekonomian AS dan UE, sangat didominasi oleh perdagangan saham dan mata uang yang secara riil tidak mencerminkan kondisi perekonomian negara-negara tersebut. AS misalnya, adalah negara yang penduduknya hidup dengan sangat boros. AS adalah negara dengan jumlah hutang terbesar di dunia. Peningkatan produktivitas AS, lama kelamaan akan menjadi tidak berimbang dengan tingkat konsumerisme masyarakat dan negara AS sendiri. Untuk mengimbanginya, AS punya mata dagangan yang luarbiasa, berupa $ AS, dan saham.

Perekonomian Jepang dan AS relatif lebih sehat dibanding dengan AS dan UE. Namun perdagangan mata uang dan saham yang mendominasi pasar saham dan mata uang dunia, masih tetap mata dolar AS, Euro dan Poundsterling. Bursa saham paling berpengaruh di dunia adalah Bursa Saham di Wall Street, New York. Ketika para pialang saham, perdagangan mata uang dan future trading, melakukan kesalahan, maka perdagangan semu itu akan kembali surut. Perdagangan saham, mata uang, dan future trading, sering disebut sebagai “gelembung sabun” atau balon. Ada nafsu untuk terus meniupnya, agar balon itu tetap tampak bulat, kompak dan penuh. Sebab begitu peniupan dihentikan, maka balon akan tampak kempes.

Bagaimana pun juga, pada suatu ketika, peniupan balon itu akan mencapai titik optimum, hingga harus dihentikan. Ketika itulah semua akan terkoreksi. Hukum pasar mengatakan, kalau permintaan (konsumsi) lebih tinggi penawaran (produksi), maka harga akan naik, dan juga sebaliknya. Ketika harga CPO sampai 1000 $ AS, dan TBS Rp2000, sebenarnya tidak pernah ada peningkatan konsumsi COP yang luar biasa. Memang trand permintaan CPO sampai dengan 20 tahun ke depan, akan terus naik, sejalan dengan kenaikan konsumsi. Jadi, yang sekarang ini terjadi, sebenarnya bukan penurunan tetapi koreksi harga CPO. (R) # # #

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s