SEKITAR PENCABUTAN PPN DTP GANDUM

Kepala Badan Kebijakan Fiskal Depkeu, Anggito Abimanyu, Senin, 8/9 mengumumkan bahwa subsidi Pajak Pertambahan Nilai yang Ditanggung Pemerintah  (PPN DTP), atas tepung terigu dan biji gandum, mulai tahun 2009 akan dicabut. Alasannya, karena harga komoditas ini cenderung menurun.

Selain itu, tepung terigu dan biji gandum, juga dianggap sebagai kebutuan masyarakat menengah ke atas. Hingga kenaikan harga akibat pencabutan PPN DPT, tidak akan memberatkan konsumen. Subsidi atas produk pangan, sebenarnya biasa diterapkan oleh pemerintah mana pun, untuk kepentingan konsumen maupun petani.
Subsidi benih, pupuk, dan pestisida untuk padi misalnya, dimaksudkan agar petani tidak rugi, dan konsumen mampu membeli beras karena harganya masih terjangkau oleh kemampuan keuangan mereka.

Sejak tahun 2005, impor biji gandum Indonesia mencapai 5 juta ton per tahun, dengan nilai rata-rata Rp 7,2 trilyun. Biji gandum itu selanjutnya digiling hingga menjadi tepung terigu, untuk didistribusikan ke konsumen. Dengan adanya PPN DPT, rakyat memang diuntungkan, sebab bisa membeli produk pangan berbahan tepung terigu, dengan harga masih terjangkau. Sepintas memang tampak demikian, padahal sebenarnya yang paling diuntungkan dengan adanya PPN DPT adalah importir biji gandum, dan produsen tepung  terigu yang dimonopoli oleh satu perusahaan.

Kebijakan seperti ini, sebenarnya merupakan warisan pemerintah Orde Baru. Ketika itu hak mengimpor biji gandum diberikan ke BULOG, yang dalam praktek kemudian diserahkan ke perusahaan rekanan. Praktek monopoli dan konglomerasi ini sudah berlangsung selama pemerintahan Orde Baru, dan setelah 10 tahun reformasi pun, belum tampak ada tanda-tanda akan berubah. Dengan adanya pencabutan PPN DPT, yang paling diuntungkan adalah pemerintah. Importir, produsen tepung terigu, dan distributor akan segera menaikkan harga.

# # #

Gandum sebagai produk pangan yang dikonsumsi oleh masyarakat menengah ke atas, memang benar terjadi pada jaman penjajahan, sampai dengan tahun 1970an. Sejak itu industri mi instan tumbuh dengan sangat pesat. Produsen mi instan juga merupakan satu kelompok perusahaan dengan importir gandum, dan produsen tepung terigu. Konsumen mi instan adalah masyarakat menengah ke bawah. Bukan masyarakat menengah ke atas. Pangsa pasar terbesar tepung terigu juga diserap oleh industri roti dan biskuit murah, yang dikonsumsi masyarakat bawah.

Itulah yang menyebabkan impor biji gandum kita terus naik, sampai mencapai 5 juta ton per tahun. Dari tahun 2000 sd. 2004, impor biji gandum Indonesia, rata-rata masih sekitar 4 juta ton per tahun. Naiknya impor gandum, terutama karena peningkatan konsumsi, di kalangan masyarakat bawah. Buruh-buruh pabrik, penyedia jasa angkutan, dan karyawan rendahan lain, selama ini lebih banyak mengonsumsi mi dari pada nasi. Dibanding dengan beras (nasi), memasak mi lebih mudah dan lebih cepat. Selain itu, harga mi instan juga lebih murah dibanding beras.

Dengan demikian, pencabutan PPN DTP, hanya akan menguntungkan pemerintah, dan merugikan masyarakat lapis bawah. Sebab merekalah sebenarnya yang akan menanggung beban PPN, akibat kenaikan harga produk mi, yang selama ini dibayar pemerintah. Kebijakan seperti ini, baru tepat apabila diikuti oleh kebijakan mulai memroduksi biji gandum di dalam negeri sendiri. Selama ini, impor gandum yang mencapai 5 juta ton per tahun, merupakan 100% dari kebutuhan gandum nasional. Sebab petani kita sama sekali belum membudidayakan gandum.

Dari benih yang pernah disebar oleh perusahaan pengimpor gandum ke petani, hanya di Kabupaten Pasuruan yang relatif berhasil cukup baik. Di kawasan ini, gandum sudah bisa dibudidayakan, digiling, dan dikonsumsi oleh masyarakat sekitar. Di kawasan lain, pemberian biji gandum ke petani, hanya sekadar menjadi acara seremonial. Bahkan ujicoba yang dilakukan di Kopeng, Jawa Tengah, juga sekadar sebagai kegiatan promosi/publikasi, bagi produsen tepung terigu, dan lembaga penelitian di sebuah universitas swasta.

# # #

Pengembangan agribisnis gandum di Indonesia, sangat dimungkinkan. Gandum yang biasa kita konsumsi dalam bentuk mi dan roti, adalah gandum biasa (common wheat – Triticum aestivum), yang aslinya merupakan tanaman gurun. Bukan tumbuhan sub tropis. Budi daya gandum pertama kali berkembang di Mesopotamia, di lembah sungai Tigris, dan Eufrat di Irak sekarang. Dari sini gandum menyebar ke Mesir, di lembah sungai Nil yang juga sangat subur. Di dua kawasan inilah tumbuh peradaban manusia yang tertua di dunia.

Kemudian gandum menyebar ke kawasan beriklim sedang, dan beriklim dingin. India dan Meksiko adalah dua negara yang pertama mengembangkan gandum tropis, yakni gandum yang dibudidayakan di kawasan tropis. Meskipun, untuk bisa berproduksi dengan baik, gandum tetap menuntut kawasan tropis yang berudara sejuk, tetapi kering. Di Indonesia, kawasan ini terdapat di lereng gunung, atau pegunungan, yang iklimnya relatif kering. Kabupaten Pasuruan, tepatnya di lereng utara dan barat pegunungan Tengger, memenuhi persyaratan ini.

Kawasan berudara sejuk tetapi kering, juga terdapat di Bali, NTB, NTT, dan Sulawesi Tenggara. Kita sudah punya benih gandum tropis dari India (Punjab-81, WL-2265, SA-75);  Pakistan (Pavon-76, Soghat-90, Kiran-95, WL-711); RRC (F-44,Yuan-039,Yuan-1045);  dan Meksiko (DWR-162, DWR-195). Batan (Badan Tenaga Nuklir Nasional), juga sudah mengembangkan varietas gandum tropis, terdiri dari galur harapan: CPN-01, dan CPN-02; serta  mutan baru, M4: CBD-16, 17, 18, a9, 20, 21, dan 23. (R) # # #

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s