KISRUH PADI SUPER TOY

Awal September ini, kembali nama Presiden SBY dikait-kaitkan dengan padi. Kali ini dengan padi unggul Super Toy. Tahun 2006, Padi Saputra, dan Nutrisi Saputra, juga dikait-kaitkan dengan SBY. Dalam dua kasus ini, nama presiden dicatut, yang paling dirugikan, jelas para petani.

Bulan September tahun 2007, PT Sarana Harapan Indopangan (SHI), dan Gerakan Indonesia Bersatu (GIB), menawarkan kerjasama uji benih padi unggul Super Toy HL-2, kepada petani Desa Grabag, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. Produksi benih hasil riset Tim Cikeas, ini diklaim bisa 10 ton gabah per hektar, dan bisa dipanen sampai tiga kali tanpa perlu penanaman ulang. Jadi setelah jerami dibabat, tunggul padi akan menumbuhkan anakan baru yang siap dipelihara sampai menghasilkan panen II, dan kemudian panen III.

Bulan April 2008, Presiden SBY melakukan panen perdana Super Toy HL-2, di Desa Grabag, Kabupaten Purworejo, Jateng. Tentu, dengan hasil yang telah direkayasa, hingga cocok dengan klaim PT SHI. Dalam acara ini, Presiden SBY didampingi oleh Ibu Ani Yudhoyono, Menko Kesra Aburizal Bakrie, Mendagri Mardiyanto, Mensesneg Hatta Rajasa, Mentan Anton Apriyantono, Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto, Bupati Purworejo Kelik Sumrahadi, dan Gubernur Jawa Tengah Ali Mufidz. Berarti, panen perdana Super Toy merupakan peristiwa penting.

Awal September tahun 2008 ini, tiba-tiba petani Desa Grabag, membabat padi Super Toy mereka, dan membakarnya. Alasan mereka, panen padi Super Toy, paling tinggi hanya 7 ton per hektar. Umur panen Super Toy juga lebih lama dibanding IR 64. Umur panen IR 64 tiga bulan, Super Toy HL-2 empat bulan. Jerami padi Super Toy lebih panjang dari IR 64, hingga mudah roboh. Kekecewaan petani, ternyata tidak hanya terjadi di desa Grabag, melainkan juga di beberapa desa lain. Misalnya di Desa Mlilir, Kabupaten Madiun, Jawa Timur.

# # #

Bukan hanya kali ini, nama Presiden SBY terkait dengan kasus padi.  Tanggal 10 September 2007, Sekretaris Kabinet Sudi Silalahi, mewakili Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, memimpin panen Padi Saputra di Patok Beusi, Subang, Jawa Barat. Padi Saputra dan Nutrisi Saputra, adalah temuan Umar Hasan Saputra bersama timnya: Roy Sembel, Aribowo, Sri Bawono, Heru Wibawa, Kori Enk, dan Yuke Eliyani. Padi Saputra, dengan diberi Nutrisi Saputra, diklaim mampu menghasilkan panen 15 sd. 19 ton gabah per hektar.

Tanggal 6 September 2006, Umar Hasan Saputra didampingi oleh pengusaha nasional Ir. Ciputra, mempresentasikan hasil temuan mereka di hadapan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, di Cikeas. Esoknya, tanggal 7 September, Hasan Saputra diminta oleh Presiden SBY mempresentasikan hasil temuannya di depan para menteri dan gubernur se-Indonesia. Berkat restu presiden, Hasan Saputra segera menyebar benih dan nutrisi temuannya ke berbagai daerah, dan sukses. Buktinya adalah, panen perdana yang dipimpin Sudi Silalahi itu.

Ternyata Padi Saputra, dan Super Toy HL-2, sama-sama belum mengantongi ijin dari Departemen Pertanian (Deptan). Ijin dari Deptan ini penting, untuk melindungi petani dari praktek penipuan. Benih apa pun yang akan dipasarkan ke petani, baik benih tanaman, ternak maupun ikan, harus terlebih dahulu melalui serangkaian uji coba. Setelah lulus uji coba, benih akan dilepas (dirilis) oleh Menteri Pertanian, baru kemudian boleh dipasarkan ke para petani, dengan beberapa ketentuan, sesuai dengan Standar Nasional Indonesia (SNI).

Rambu-rambu pemasaran benih nasional ini, sebenarnya sudah sedemikian ketatnya, hingga sulit untuk ditembus para spekulan dan pencoleng. Peraturan yang sudah sesuai dengan standar internasional itu, di Indonesia belum disertai oleh pengawasan yang juga memenuhi standar. Ketika seorang pengusaha, dengan restu presiden, masuk ke kabupaten, atau provinsi, maka Dinas Pertanian setempat tidak berkutik. Semua prosedur bisa dengan mudah ditabrak. Dan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, bahkan Menteri Pertanian sekali pun, sulit untuk bertindak.

# # #

Setelah Wapres Jusuf Kalla berkunjung ke Beijing, RRC, tanggal 22-24 Agustus 2005, juga muncul euforia padi hibrida dari negeri tersebut. Meskipun Deptan baru berencana menjajaki kerjasama dengan perusahaan benih dari RRC, di pasaran sudah beredar benih padi hibrida yang diklaim sebagai “eks RRC”. Padahal, padi hibrida RRC adalah keturunan Oryza sativa Var. Japonica, yang pulen hingga bisa dimakan dengan sumpit. Padi kita adalah Oryza sativa Var. Indica, yang lebih pera, dibanding dengan padi jepang.

Padi RRC, juga menghendaki iklim temperete (sedang). Di Indonesia, padi RRC hanya bisa dibudidayakan pada ketinggian antara 700 sd. 1.000 m. dpl. Padahal sentra padi di negeri kita, selalu berada di dataran rendah, dengan ketinggian di bawah 200 m. dpl. Kendala lain adalah, padi hibrida RRC ini juga dikawatirkan rentan, bahkan kemungkinan juga membawa penyakit, yang selama ini tidak ada di Indonesia. Hingga introduksi benih unggul baru eks impor, memerlukan pengawasan yang lebih ketat, dibanding dengan introduksi benih lokal.

Indonesia memang menghadapi permasalahan pangan yang cukup serius. Produksil padi kita pas-pasan dengan tingkat konsumsi. Lebih dari separo kebutuhan kedelai yang 1,6 juta ton per tahun, masih harus diimpor. Kebutuhan gandum yang 5 juta ton per tahun, 100% tergantung dari impor. Menghadapi masalah pangan yang cukup serius, tentu tidak dengan cara menipu petani, dengan memanfaatkan nama presiden dan wakil presiden. Nama dua pemimpin ini bisa rusak, tetapi yang lebih penting lagi, petani yang sudah susah, dibuat menjadi lebih susah lagi. (R) # # #

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s