DEVERSIFIKASI PANGAN NASIONAL

Ketahanan pangan Indonesia, sangat lemah karena cenderung hanya mengarah ke beras dan gandum. Masyarakat yang sebelumnya makan sagu, ubi jalar, singkong, dan jagung, telah meninggalkan pangan utama mereka, lalu beralih ke beras (nasi), dan gandum (mi dan roti). Masyarakat tidak bisa dipersalahkan, sebab beras sangat terkait dengan politik perdagangan nasional, sementara gandum adalah produk dari kapitalisme global, yang didominasi oleh AS. Produksi beras nasional pun, selama sepuluh tahun terakhir stagnan, terhenti di angka antara 30 sd. 33 juta ton. Padahal ketika itu belum terjadi perubahan iklim seperti terjadi sekarang ini.

Indonesia adalah negara dengan populasi penduduk terbesar ke empat di dunia, setelah RRC, India, dan AS. Keanekaragaman pangan di AS sangat tinggi. Menu utama mereka adalah gandum, kentang, jagung, dan kedelai. Namun jagung dan kedelai tidak mereka konsumsi langsung, melainkan dijadikan pakan ternak, khususnya sapi. Baik sapi perah maupun pedaging. Hingga yang mereka makan adalah daging, susu, mentega, dan keju. Jagung dan kedelai juga mereka jadikan pakan unggas, hingga rakyat AS juga bisa mengkonsumsi telur, dan daging ayam, itik, serta kalkun. Jadi, tingkat konsumsi gandum rakyat AS menjadi sangat rendah.

AS juga penghasil sayuran dan buah-buahan hingga mencapai surplus untuk diekspor. Karenanya, tingkat konsumsi buah dan sayuran masyarakat AS juga cukup tinggi. Saat ini AS juga mulai banyak membudidayakan umbi-umbian non kentang, terutama talas dan keladi. Ini merupakan pengaruh kultur Hawaii yang menjadikan talas dan keladi (taro), sebagai menu utama berupa poi. Selain itu, banyaknya imigran Hispanik dari Meksiko, dan negara-negara Amerika Latin, juga telah mendorong budi daya keladi meluas di kawasan tropis AS. Saat ini AS adalah pemasok produk pangan utama di pasar dunia.

# # #

Ketahanan pangan India sebagai negeri dengan populasi penduduk terbesar kedua di dunia, juga sangat baik. India adalah penghasil gandum dan beras terbesar nomor dua di dunia, dan selalu surplus. Kita sering mengimpor beras dari negeri ini. Namun India tetap tidak hanya mengandalkan gandum dan beras. Negeri ini juga menanam jagung, sorgum, kentang, ubijalar, bahkan juga umbi suweg (Amorphophallus paeoniifolious), yang mereka sebut  elephant foot yam, atau dalam bahasa Urdu Suran, dan Jimmikand. Varietas suweg india yang paling populer adalah Gajendra. Varietas ini merupakan hasil seleksi dari varietas lokal di wilayah Kovuur, negara bagian Andhra Pradesh.

Suweg Gajendra,  telah dirilis dan dikembangkan di seluruh wilayah budi daya di India. Umbi Gajendra  tidak mengandung calcium oxalate, yang bisa mengakibatkan iritasi di mulut ketika dimakan. Potensi produksinya sangat tinggi, yakni mencapai 50 sd. 60 ton per hektar per musim tanam (9 bulan). Sekarang pengembangan suweg di India sudah meluas ke negara bagian Bengal Barat, Bihar, dan Uttar Pradesh. Produk umbi suweg juga bukan hanya dikonsumsi sendiri, melainkan diekspor ke Eropa. Suweg, juga terdapat di Indonesia, sebab kawasan sebarannya mulai dari Madagaskar sampai ke Polinesia. Sayangnya, di negeri ini suweg adalah umbi yang dilupakan.

Selain produk pangan berupa karbohidrat, India juga merupakan negeri penghasil susu terbesar di dunia. Sebagian besar susu ini mereka olah menjadi mentega, untuk konsumsi dalam negeri. Karena mayoritas penduduk India beragama Hindu, maka sapi tidak mereka konsumsi dalam bentuk daging, melainkan susu. Sebab sapi adalah hewan suci kendaraan Hyang Syiwa, dewa tertinggi agama Hindu. Sapi jantan yang tidak  mereka konsumsi, diekspor (terutama ke Afrika), dalam bentuk daging beku maupun olahan. India juga merupakan negara pertama, yang mampu membudidayakan gandum di kawasan tropis. Caranya dengan menggeser lokasi budi daya dari utara yang sub tropis, ke bagian tengah dan selatan yang tropis.

Ketahanan pangan RRC, negeri dengan populasi penduduk terbesar di dunia, justru paling baik. RRC adalah penghasil gandum, beras, kentang, dan ubijalar terbesar di dunia. Selain itu RRC juga penghasil jagung terbesar nomor tiga. Ubijalar RRC sebesar 60% mereka gunakan sebagai pakan babi. Baik umbinya, batang, maupun daunnya. Hingga sebenarnya 60% dari ubijalar produk RRC, dikonsumsi dalam bentuk daging babi. Ubijalar relatif cepat dibudidayakan, karena hanya perlu waktu tiga bulan untuk bisa dipanen. Namun RRC juga masih mengembangkan Amaranth Grain (biji bayam), yang pernah menjadi sumber karbohidrat andalan masyarakat Maya di Amerika Latin.

# # #

Namun dari sekian banyak negara yang berusaha untuk memperkuat ketahanan pangan mereka, Jepang merupakan yang paling gila. Negeri ini bukan hanya menerapkan barier berupa bea masuk dan persyaratan ketat bagi impor produk beras. Pemerintah Jepang juga memberikan insentif yang sangat menguntungkan para petani padi. Kalau petani mau tetap menanam padi, maka mereka akan menerima kredit dengan tingkat suku bunga sangat murah. Kalau mereka mau menanami lahan pertanian non padi, selain tetap menerima kredit murah, pajak buminya dihapuskan. Ketika petani mau menanam padi di lahan non pertanian, misalnya yang akan digunakan untuk mendirikan bangunan, maka nilai insentifnya akan ditambah.

Namun pemanjaan petani padi di Jepang ini, pada akhirnya juga berdampak negatif. Beras produksi petani Jepang, menjadi beras termahal kedua di dunia, setelah beras Basmati dari India. Dengan insentif sebaik itu pun, banyak lahan pertanian padi yang terlantar, karena petaninya telah tua, atau meninggal dunia, sementara anak-anak mereka lebih senang tinggal di kota dan berprofesi bukan petani. Selain padi, Jepang juga tetap mengandalkan produk lain sebagai sumber pangan. Antara lain ubijalar (Ipomoea batatas), dan iles-iles (Amorphophallus konjac, Devil’s Tongue, Elephant Foot, Elephant-yam, Leopard Palm, Snake Palm, Umbrella Arum). Varietas ubijalar penting dari Jepang antara lain  Kotobuki, Jewel, Okinawan, dan Garnet.

Iles-iles adalah bahan glukomanan. Glukomanan merupakan bahan konjaku, dan shirataki, menu khas di restoran Jepang papan atas. Namun Jepang, merupakan konsumen ikan dan hasil laut terfanatik di dunia. Termasuk produk pangan dari rumput laut, yang disebut Nori. Salah satu menu ikan terfavorit di Jepang adalah sashimi, yang sebenarnya hanyalah irisan daging ikan mentah, yang dimakan langsung, dengan terlebih dahulu dicelupkan dalam air jeruk nipis, dan kecap jepang. Yang jelas, meskipun negeri ini mengandalkan industri sebagai target nasional, namun ketahanan pangan mereka tetap terperhatikan. Antara lain dengan memberikan subsidi yang gila-gilaan pada petani padi mereka. (R) # # #

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s