JAKARTA PERLU MARKET GARDENING

New York, Hongkong, Tokyo, dan beberapa metropolis dunia, sudah punya market gardening. Ini adalah kebun aneka sayuran, dan buah berskala kecil, yang dilengkapi dengan kios (toko), dan terletak di dekat kota. Konsumen datang ke market gardening, untuk membeli sayuran dan buah segar, langsung dari lahan.

Jakarta yang juga merupakan salah satu metropolis dunia, sebenarnya juga memerlukan pasar seperti ini. Sayang, di Jakarta belum ada satu pun market gardening. Yang disebut market gardening, bukan pasar swalayan besar, melainkan petak-petak lahan kecil. Luas satu market gardening hanya sekitar 0,25 hektar (2.500 m2), bahkan kadang lebih kecil lagi, dan langsung dikelola oleh petani, secara manual. Bisa pula Market Gardening bukan berupa petak-petak kebun yang terbuka,  melainkan green house (rumah kaca/plastik).

Di Tokyo, sejak tahun 1980an, bahkan sudah ada market gardening berupa rak-rak hidroponik, dalam gedung tertutup. Sebagai pengganti matahari, dipasang lampu-lampu khusus untuk tanaman. Biaya listrik dalam market gardening, memang akan sangat tinggi. Namun market gardening tidak memerlukan gudang, packing, dan transpor, yang juga berbiaya tinggi pula. Dalam market gardening, konsumen yang datang ke lokasi penanaman, akan menunjuk produk yang diinginkan, membayar, dan membawanya pulang setelah petugas membantu memanenkannya.

Secara bisnis, Market Gardening berupa full green house sekalipun, masih tetap menguntungkan. Terlebih lagi, harga sayuran, buah, dan bunga di market gardening, selalu lebih tinggi dibanding harga produk serupa di pasar biasa. Di kota-kota metropolis dunia, market gardening sudah merupakan salah satu bentuk “lifestyle”. Belanja sayuran, buah-buahan dan bunga di market gardening adalah salah satu bentuk prestise. Selain itu, unsur rekreatifnya juga sangat tinggi. Di Korea Seul Selatan misalnya, market gardening sekaligus juga menjadi obyek wisata agro.

# # #

Selama ini, konsumen juga tetap bersedia membayar produk market gardening dengan harga lebih tinggi, karena beberapa alasan. Pertama, produk market gardening benar-benar segar. Di pasar swalayan terbaik sekalipun, konsumen tidak pernah tahu, sudah berapa lama sayuran itu disimpan di coldstorage. Kedua, konsumen tahu dengan pasti, dengan cara bagaimana komoditas itu dibudidayakan. Konsumen juga bisa memilih, ukuran, dan tingkat ketuaan (kamasakan) suatu komoditas. Bahkan, konsumen bisa memesan, kapan akan datang untuk membeli produk serupa.

Terminologi market gardening, berasal dari kosa kata bahasa Inggris (British), yang artinya kurang lebih sebagai “kebun pasar”. Awalnya, market gardening hanya digunakan untuk kebun sayuran dan buah beri, yang umumnya kecil, jika dibandingkan dengan ladang gandum, peternakan sapi, atau perkebunan apel.
Sampai sekarang, istilah gardening tetap digunakan untuk pertanian skala kecil (mikro). Gampangnya, kalau petani masih mengolah tanah dengan cangkul, istilahnya gardening. Kalau sudah dengan bajak (traktor), istilahnya farming.

Konsep market gardening, sebenarnya kembali ke pertanian subsintence, usaha tani sekadar untuk mencukupi kebutuhan sendiri. Market gardening, secara tidak langsung melawan konsep pertanian (agribisnis) global. Perlawanan terhadap konsep pertanian global, bukan hanya disebabkan oleh skala market gardening yang kecil, melainkan oleh hubungan langsung antara produsen dengan konsumen. Sebab sekarang sudah banyak market gardening berskala raksasa. Pusat bursa bunga dan tanaman hias di Aalsmeer, Negeri Belanda, sebenarnya juga merupakan salah satu bentuk market gardening raksasa.

Manajemen market gardening berskala raksasa, bukan pemilik modal, melainkan hanya sekadar penjual jasa koordinasi, dan pelayanan administrasi kepada konsumen. Sementara petaninya tetap independen. Koordinasi tetap diperlukan, agar masing-masing petani bisa saling mengisi, dan tidak memroduksi komoditas yang sama dengan petani lain. Sebab produk yang dibudidayakan oleh masing-masing petani dalam market gardening, volumenya tidak akan permah besar, namun variasi itemnya justru harus banyak.

# # #

Di Jakarta, dan sekitarnya, kita tahu banyak petani sayuran yang memanfaatkan lahan bantaran kali. Sawangan, dan Gunung Sindur adalah sentra tanaman hias dan anggrek. Parung sentra ikan air tawar. Dari Depok ke Bojong Gede, terhampar kebun belimbing dan jambu biji. Kabupaten Bogor, adalah sentra pisang, talas, dan jagung manis. Itu semua merupakan potensi market gardening yang belum tergarap baik. Dulu di dekat stasiun Depok, dan di Kelapa Gading, ada petani sayuran yang menjual produk mereka langsung ke konsumen.

Sekarang lahan itu sudah menjadi Mall, dan petaninya tergusur. Kehausan masyarakat Jakarta untuk membeli komoditas agro langsung di lahan, tampak dari kerepotan Warso Farm dan Bernard Sadani (durian), serta Taman Wisata Mekarsari (belimbing, melon), dalam memenuhi permintaan konsumen. Di tiga tempat ini, unsur rekreatifnya sangat kuat. Hingga orang bukan sekadar ingin membeli durian, belimbing atau melon, tetapi juga ingin berwisata. Namun tiga tempat ini belum didukung oleh sejumlah petani yang memroduksi komoditas serupa.

Di London, Amsterdam, dan Paris, bentuk market gardening ini berkembang ke hobi bertani skala super mikro. Lahan di pinggir rel kereta api, disewakan oleh pemerintah ke para “petani amatir”. Tiap hari sepulang kerja, atau pada hari libur, para petani amatir ini akan datang ke kebun mini mereka untuk bertani. Kebun itu benar-benar mini, namun dilengkapi dengan gubuk mungil, untuk tempat peralatan dan beristirahat. Hasil sayuran, buah atau bunga dari kebun mini ini, hanya akan mereka konsumsi sendiri, atau dibagikan ke famili dan teman. (R) # # #

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s