SILANG PENDAPAT PRODUKSI PADI

Departemen Pertanian (Deptan), dan Badan Pusat Statistik (BPS), belakangan ini berdebat soal produksi padi nasional 2008. Deptan memprediksi produksi padi nasional, hanya sekitar 54,433 juta ton. Hanya ada peningkatan ratusan ribu ton dibanding produksi tahun 2007. Sebaliknya BPS mengatakan bahwa produksi padi nasional 58,2 juta ton, berarti ada kenaikan 1 juta ton dari produksi sebelumnya yang 57,03 juta ton. Beda pendapat dengan selisih angka yang cukup besar ini, bisa beresiko fatal bagi kebijakan pangan nasional, baik untuk impor, maupun ekspor beras.

Pada masa Orde Baru, juga sering terjadi silang pendapat antara Deptan dengan Badan Urusan Logistik (Bulog), yang sekarang menjadi Perum Bulog. Dalam menghitung prediksi panen, Deptan menggunakan luas areal tanam, dari tingkat kecamatan, melalui Dinas Pertanian Kabupatan. BPS, sebenarnya juga punya aparat sampai dengan tingkat kecamatan, untuk menghitung beberapa indeks, termasuk luas areal tanam padi. Dinas Pertanian di tingkat kabupaten, tidak berurusan dengan statistik, melainkan peningkatan produksi, melalui penyuluhan.

Logikanya, angka-angka yang ditampilkan oleh BPS lebih akurat, dibanding angka-angka yang ditampilkan oleh Deptan. Tetapi peningkatan angka produksi yang demikian hebat, tentu meragukan banyak pihak. Sebab berdasarkan data resmi FAO selama lima tahun terakhir, produksi padi nasional Indonesia tercatat  50,460,800 (2001), 51.489.700 (2002), 52.137.600 (2003), 54.088.470 (2004), dan 53.984.590 ton (2005). Dari 2001 sampai dengan 2005, kenaikan produksi padi Indonesia rata-rata hanya 1,66%. Dengan patokan tersebut, logikanya, produksi padi nasional tahun 2008 memang bisa mencapai 56,7 juta ton.

# # #

Dengan menggunakan logika di atas, perkiraan angka produksi beras nasional pada tahun 2008 hanya sekitar 56,7 juta  ton. Hingga angka produksi gabah hasil perhitungan  BPS yang mencapai 58,2 juta ton, pada tahun 2008 ini, masih terlalu tinggi. Dengan melihat angka produksi selama 2001 – 2005 versi FAO, maka angka produksi versi Deptan lebih bisa dipercaya. Sebab pada tahun 2005, produksi gabah 53,984 juta ton, justru mengalami penurunan, dibanding produksi nasional 2004 yang mencapai 54,088 juta ton.

Peningkatan atau penurunan produksi gabah nasional di Indonesia, selalu masih disebabkan oleh faktor alam. Baik berupa gangguan cuaca, maupun serangan hama serta penyakit tanaman. Faktor banjir dan kekeringan, merupakan penyebab gagal panen paling besar. Penurunan angka produksi gabah nasional tahun 2005, terutama disebabkan oleh faktor banjir, dan kekeringan. Hama yang paling banyak menyerang tanaman padi adalah wereng, walang sangit, dan tikus. Penyakit padi yang paling ganas adalah tungro.

Produktivitas padi Indonesia, sebenarnya cenderung terus menurun. Peningkatan produktivitas melalui pencetakan sawah baru, terutama di luar Jawa, tidak pernah bisa mengimbangi alih fungsi lahan sawah untuk keperluan non pertanian, terutama di Jawa. Produktivitas petani kita, juga relatif rendah dibandingkan dengan produktivitas petani di RRC, India, Banglades, Thailand, dan Vietnam. Pemahaman pemerintah, dan masyarakat terhadap pengertian produktivitas pun juga salah kaprah.

Bagi pemerintah Indonesia, yang selanjutnya juga diikuti oleh masyarakat, produktivitas adalah tingkat hasil panen per satuan hektar, per satuan musim tanam. Misalnya, hasil panen rata-rata, lima ton gabah kering panen, per hektar per musim tanam. Kalau hasil panen kurang dari lima ton per hektar per musim tanam, dianggap rendah, sementara lebih dari lima ton dianggap tinggi. Para penipu, berkedok penjual pupuk, zat perangsang tumbuh, juga “nutrisi” dan benih, selalu mengklaim bisa panen 10 ton, bahkan 15 ton per hektar per musim tanam.

# # #

Menilai tingkat produktivitas, dari satuan hasil panen, per satuan hektar, per musim tanam, merupakan kekeliruan yang fatal. Dalam agribisnis modern, produktivitas dinilai dari berapa besar biaya produksi yang harus dikeluarkan untuk menghasilkan tiap ton gabah kering panen. Produktivitas tiap hektar lahan, hanya 2 ton pun tidak jadi masalah, kalau biaya produksinya hanya Rp1.500.000 per ton. Dibandingkan dengan hasil per hektar mencapai 5 ton, tetapi biaya produksinya Rp2.000.000 per ton.

Impor beras, juga tidak ada kaitannya dengan tinggi atau rendahnya produksi gabah nasional. Patokan impor beras bagi Bulog adalah, apakah lembaga ini mampu mengumpulkan stok beras minimal 3,8 ton. Pertama-tama, Bulog akan membeli hasil panen petani. Tetapi petani (dan tengkulak), bebas menjual gabah atau beras mereka ke siapa pun, dengan harga penawaran tertinggi. Bulog dengan anggaran yang sudah ditentukan, agak sulit untuk mengikuti permainan harga di tingkat pasar. Kalau ternyata harga beras di pasar internasional lebih murah, dari harga dalam negeri, Bulog akan melakukan impor.

Di negara mana pun di dunia, data produksi dan konsumsi pangan hanyalah satu. Sebab petaninya sama, yang akan makan nasi juga sama. Koleksi data di Malaysia, dan Thailand, tidak dilakukan oleh pemerintah, melainkan oleh asosiasi komoditas bersangkutan. Data tentang hasil panen padi, akan diupdate, oleh Asosiasi Petani Padi, secara online. Sebab Malaysia dan Thailand, sudah punya database petani padi. Memang update data di Malaysia dan Thailand, masih dilakukan oleh koperasi.  Di Taiwan dan Jepang, update data dilakukan oleh petani sendiri dari rumah masing-masing. (R) # # #  

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s