BOOMING KOMODITAS

Masyarakat Indonesia senang dengan segala hal yang irasional. Tahun lalu, tanaman hias anthurium, telah dianggap sebagai komoditas yang mengalami “booming”. Artinya, tanaman hias ini dianggap trendi, dicari-cari pembeli, dan harganya melambung tinggi. Setelah booming itu selesai, orang menunggu-nunggu, sambil terus bersiap-siap, tanaman apa lagi yang sebentar lagi akan booming. Yang dimaksudkan pasti tanaman hias. Padahal, sekarang ini dunia sedang bergelut dengan kekhawatiran akan menggilanya harga bahan pangan. Hingga yang akan mengalami booming justru komoditas pangan. Bukan tanaman hias.

Apakah benar selama tahun 2007, telah terjadi booming tanaman hias anthurium daun? Sebenarnya yang terjadi bukan booming, melainkan perilaku rakus dan ingin cepat kaya. Tidak pernah ada perorangan atau lembaga, yang memerlukan tanaman hias anthurium daun, dalam jumlah massal, dengan harga mencapai puluhan, bahkan ratusan juta rupiah per tanaman. Tetapi informasi bahwa harga anthurium mencapai puluhan bahkan ratusan juta rupiah, terus berhembus kemana-mana. Semua percaya. Semua lalu membeli anthurium, dengan harapan nanti bisa menjualnya lagi dengan harga lebih tinggi.

Booming itu ternyata hanya sebentar. Mereka yang rakus, dan menimbun anthurium daun secara massal, menjadi gigit jari. Tak ada lagi yang mau membeli komoditas ini. Sementara tanaman itu memerlukan tempat, memerlukan perawatan, dan si penimbun hanya bisa berharap, harga akan naik lagi. Padahal booming itu hanya akan terjadi sesaat, dan sekali. Pemilik anthurium terlanjur investasi sampai milyaran rupiah, sekarang hanya berharap akan koleksinya cepat laku, berapa pun harganya. Termasuk yang sudah terlanjur investasi, adalah Kab. Karanganyar di Jawa Tengah. Bupatinya bahkan telah mengklaim, bahwa Karanganyar adalah kabupaten anthurium.

# # #

Tanaman anthurium adalah salah satu dari sekian banyak, bentuk kebodohan nasional. Sebelumnya tanaman jarak pagar, dihebohkan sebagai komoditas yang juga akan mengalami booming. Ada pula mahkota dewa, ada lobster air tawar, pernah pula cacing, jangkrik, ikan louhan dan lain-lain. Siapakah yang memerlukan ikan louhan dalam jumlah banyak, dan dengan harga ratusan juta per ekor? Lalu untuk apa? Cacing yang dijual dengan harga Rp250.000 per kg, diisukan sebagai bahan kosmetika bernilai tinggi. Masyarakat kita tidak pernah bersikap kritis. Hingga mereka mudah sekali tertipu. termasuk tertipu oleh iming-iming investasi agro “bagi hasil”.

Pengertian bagi hasil adalah, hasilnya bisa untung, bisa rugi, bisa impas. di sini penyelenggara investasi bagi hasil, menjanjikan keuntungan 65% per tahun, dan akan membayar tunai. Apakah di dunia ini ada komoditas yang anti rugi dan pasti untung tinggi? Dan ternyata benar, bahwa itu semua hanya tipuan. Dalam dunia bisnis, semakin tinggi keuntungan, semakin tinggi pula resikonya. Tidak pernah ada komoditas yang selalu untung, tanpa pernah rugi. Dalam dunia investasi bagi hasil, yang dibagi adalah keuntungan dan kerugian. Sistem syariah, dan juga modal ventura, akan membagi keuntungan maupun resiko.

Dalam kenyataan, sebenarnya memang seringkali terjadi booming komoditas, yang bukan tipuan. Cengkeh, lada, cabai, bawang merah, kelapa, kelapa sawit, vanili, bunga potong, seringkali dianggap mengalami booming. Artinya, komoditas itu bernilai sangat tinggi dan dicari-cari pembeli. Tapi benarkah itu semua booming? Tidak semua. Cabai rawit merah yang harga per kilonya mencapai Rp35.000 sebenarnya bukan sedang booming, melainkan langka. Karena pasokan dan permintaan lebih tinggi permintaan, maka harga melambung. Nanti kalau pasokan sudah normal, maka harga juga akan kembali normal.

# # #

Sejak tahun 1990, Crude Palm Oil (CPO), atau minyak sawit mentah, memang benar telah mengalami booming. Permintaan CPO terus tinggi, pasokan juga tinggi, tetapi harga terus naik. Kondisi ini makin dipacu, oleh faktor kenaikan BBM belakangan ini. Inilah yang disebut booming. Sebab yang akan memanfaatkan CPO jelas ada. Tujuannya juga jelas. Pasarnya konkrit. Tidak ada yang disembunyikan. Harga CPO sebenarnya juga masih wajar, bukan gila-gilaan seperti halnya anthurium. Pada prinsipnya, orang baru akan menikmati booming komoditas, setelah terlebih dahulu bekerja keras. Tidak ada unsur spekulatif dalam agribisnis CPO.

Beberapa tahun lalu, vanili pernah mengalami booming. Harga vanili kering sampai Rp3.500.000 per kilo. Sebab ketika itu pasokan sangat rendah, sementara permintaan terus tinggi. Benih vanili juga ikut terdongkrak harganya. Sekarang harga vanili sudah kembali normal. Minat masyarakat untuk membudidayakan vanili kembali mengendor. Mental masyarakat, tampaknya sudah terjangkiti oleh mental pejabat korup kita. Kalau bisa, tidak usah kerja berat, tetapi bisa mendapat keuntungan besar dalam jangka waktu pendek. Ini hanya bisa dilakukan dengan cara korupsi oleh pejabat kita. Petani pun juga ikut mencoba mengkorupsi komoditas sendiri.

Karenanya, mereka kemudian menciptakan isu, bahwa anthurium daun itu hebat dan dicari-cari orang, hingga harganya melambung sampai ratusan juta rupiah. Massa selalu mudah diajak ikut arus. Mereka juga tidak pernah kritis dan bertanya, untuk apa anthurium dibeli dengan harga ratusan juta? Siapa yang membutuhkannya? Berapa banyak mereka perlu? CPO jelas untuk minyak goreng, margarin, sabun, dan bahan baku industri lainnya. Pembelinya jelas, standar mutunya ada, volume kebutuhannya juga konkrit. Tetapi untuk itu semua harus kerja keras. Lebih enak membeli anthurium Rp50.000.000 lalu segera dijual lagi dengan harga Rp100.000.000. (R) # # #  

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s