BLUE ENERGI DARI AIR

Belakangan ini kalangan dekat Presiden SBY, disibukkan oleh “penemuan” energi alternatif dari bahan air, yang disebut Blue Energy, dan Banyu Geni (air api). “Penemuan” ini bukan sekadar kontroversial, tetapi menunjukkan betapa bodohnya bangsa kita, khusunya kalangan dekat Presiden SBY. Memang secara teknis, air (H2O), bisa diubah menjadi bahan bakar minyak (BBM), yang merupakan gabungan antara beberapa atom karbon (C), dengan beberapa atom hidrogen (H). Misalnya minyak disel (C10H20 sd. C15H28). Tetapi secara ekonomis, hal itu tidak mungkin dilakukan, karena biayanya sangat tinggi.

Ada dua alasan, mengapa sekarang ini bangsa-bangsa di seluruh dunia berlomba-lomba mencari energi, khususnya BBM alternatif. Pertama, karena bahan bakar fosil hydrocarbon, yakni minyak bumi, gas alam, dan batubara, suatu ketika akan habis. Kedua, energi dengan bahan bakar fosil, biofuel, dan kayu bakar, akan menambah tinggi emisi karbon di udara. Akibat tingginya emisi karbon, akan terjadi efek rumah kaca, yang mengakibatkan pemanasan global. Es di kutub akan mencair, hingga sebagian daratan terancam tenggelam. Energi yang tidak mengotori udara dengan karbon adalah matahari, angin, grafitasi air, dan panas bumi.

Energi nuklir, sebenarnya sangat hemat, dan juga tidak mengotori atmosfir dengan buangan gas karbon. Tetapi potensi bahaya radiasi, apabila reaktor bocor,  bisa sangat membahayakan seluruh makhluk hidup. Selain itu, hasil dari pengayaan bahan bakar uranium, dan plutonium, juga berpotensi menciptakan senjata nuklir. Hingga matahari, angin, grafitasi air, dan panas bumi, tetap merupakan alternatif energi paling baik. Yang menjadi masalah, empat sumber energi itu, hanya bisa dimanfaatkan untuk mesin statis (pabrik), dan bukan untuk mesin kendaraan, yang selalu bergerak dari satu tempat ke tempat lain.

# # #

Saat ini, para pelaku industri otomotif utama dunia, sedang  berlomba-lomba untuk merancang prototipe kendaraan bermesin fuel cell. Prinsip fuel cell adalah, mengubah hidrogen menjadi listrik, untuk menggerakkan mesin (roda). Ada dua model fuel cell, yakni yang berbahan bakar methanol, dan berbahan bakar langsung hidrogen. Dalam mesin mobil, methanol dari tangki terlebih dahulu dikonfersi menjadi hidrogen, kemudian diberi oksigen, untuk menghasilkan listrik dengan gas buang berupa uap air (H2O). Prototipe mobil seperti ini sudah dibuat oleh hampir semua pabrik mobil besar di dunia.

Yang menjadi kendala, produksi methanol tidak bisa dipacu secepat mungkin. Lagi pula, methanol juga bisa dibakar langsung dalam mesin berbahan bakar bensin biasa, dengan sebutan biofuel. Jadi alternatif paling baik adalah, memroduksi hidrogen secara massal, langsung dari air. Untuk itu diperlukan listrik dengan daya yang cukup besar dan konstan, dengan energi yang tidak akan mencemari udara, yakni matahari, angin, grafitasi air, dan panas bumi. Produksi hidrogen secara massal dengan empat energi ini, secara teknis maupun ekonomis, dimungkinkan. Yang menjadi masalah, industri otomotif sampai sekarang masih belum selesai mengatasi persoalan tangki hidrogen.

Kalau hidrogen yang dibawa dalam tangki mobil itu berupa gas, resikonya akan mudah sekali terbakar (meledak). Sebaliknya, kalau yang dibawa berupa hidrogen cair, diperlukan teknologi untuk merancang tangki, yang bersuhu beberapa derajat Celsius di bawah nol. Tangki hidrogen cair seperti ini menjadi sangat mahal, bagi sebuah mobil. Itulah kendala utama, mengapa sampai sekarang industri otomotif dunia, masih belum mampu meluncurkan kendaraan fuel cel, dengan bahan bakar hidrogen. Meskipun prototipenya, sudah sejak sepuluh tahun belakangan ini, sudah diujicoba oleh industri otomotif di Uni Eropa, Jepang, dan AS.

Meskipun teknologi tangki hidrogen cair bernilai sangat tinggi, kalau suatu ketika bisa diproduksi massal, harganya juga akan murah. Atau, alternatifnya adalah menciptakan teknologi tangki hidrogen gas, yang aman dari ledakan akibat guncangan kendaraan. Dua hal inilah yang sekarang sedang serius diteliti, dan diujicoba oleh semua industri otomotif dunia. Sebab bahan bakar biofuel, hanya sekadar mengatasi habisnya bahan bakar fosil. Tetapi pencemaran udara oleh gas buangan berupa karbon, masih akan terus terjadi. Teknologi fuel cell, bisa sekaligus mengatasi dua hal, kelangkaan energi, dan sekaligus menghentikan gas buang CO2.

# # #

Dengan kenyataan seperti tersebut di atas, masih akan cukup lama kendaraan berteknologi fuel cell, bisa diproduksi secara masal. Hingga yang harus diatasi dalam jangka waktu dekat adalah, bagaimana mencari alternatif energi, sebagai substitusi bahan bakar fosil. Yang pertama kali diambil oleh dunia otomotif adalah karbohidrat dan protein, yang sebenarnya merupakan bahan pangan manusia, dan pakan ternak. Jagung, dan singkong, segera menarik perhatian untuk diolah menjadi bioethanol. Minyak sawit mentah (CPO), diolah menjadi biodiesel. Itu semua telah mengakibatkan melambungnya harga pangan di pasar dunia.

Brasil, sebagai penghasil gula tebu terbesar di dunia dengan produksi 420 juta ton per tahun, punya limbah berupa tetes tebu sebanyak 12,6 juta ton per tahun. Di Brasil, limbah berupa tetes itu sudah diolah menjadi methanol, sebagai bahan bakar mobil, jauh sebelum terjadi krisis energi. India juga menanam jarak pagar seluas 400.000 hektar. Tetapi caranya, dengan model padat karya, di lahan negara, yang sama sekali tidak bisa ditanami apa pun selain jarak. Panen juga dilakukan dengan model padat karya. Jadi rakyat miskin, tahunya hanya menanam, kemudian memanen, dan menerima upah harian, tanpa resiko apa pun.

Jepang, saat ini sudah membuka kebun algae di laut, seluas satu juta hektar, untuk memenuhi sepertiga kebutuhan energi mereka. Dibanding jarak yang hasil per hektar per tahun hanya 1,5 ton minyak, algae lebih unggul sebab bisa mencapai lebih dari 25 ton minyak per hektar per tahun. Belanda membangun kincir angin terbesar di dunia di lepas pantai laut Utara. Jerman membangun panel surya yang juga terbesar di dunia. Sementara masyarakat dunia sibuk dengan berbagai alternatif energi yang sangat rasional, maka Indonesia justru asyik dengan Blue Energy, dan Banyu Geni,  sebuah mimpi yang luar biasa indah, tetapi sekaligus sangat bodoh. (R) # # #

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s