PELUANG EKSPOR BERAS

Isu yang selama ini tersiar di media massa adalah, Indonesia mengimpor beras dari Thailand, Vietnam, dan India. Mengapa tiba-tiba kita ribut untuk ekspor beras? Apakah kita telah surplus sedemikian banyaknya, hingga sisa yang kita konsumsi itu harus diekspor? Apakah harga beras kita bisa bersaing dengan beras India, Thailand, dan Vietnam yang terkenal murah? Pertanyaan-pertanyaan ini perlu kita cermati, sebab sejak 1984, dan juga 1999, baru kali inilah ada isu di sekitar ekspor beras. Tahun 1984, kita memang bisa surplus beras setelah selama lebih dari 100 tahun (sejak jaman Belanda), menjadi pengimpor beras.

Ketika itu, beras kita kualitasnya lebih jelek dari beras standar di pasar internasional, tetapi harganya justru lebih tinggi. Hingga pada tahun 1984, kita tidak mungkin mengekspor beras. Yang bisa kita lakukan ketika itu hanyalah “memberikan bantuan” kepada negara yang memerlukan beras. Bantuan di sini diberi tanpa petik, karena sebenarnya kita bukan membantu dalam arti menyumbang, melainkan meminjamkan, yang kemudian akan dikembalikan dalam bentuk beras juga. Tahun 1999, kita malah benar-benar sempat mengekspor beras, meskipun secara illegal. Volumenya juga cukup besar.

Tahun 1999 adalah “puncak” krisis ekonomi, dengan kurs rupiah terhadap dolar AS mencapai Rp16.000 per 1 dolar. Karena faktor ini, maka beras kita menjadi sangat murah di pasar internasional. Masyarakat tradisional di Kalimantan dan Sulawesi yang biasanya menyimpan padi ladang untuk masa tiga tahun, membongkar lumbung mereka, menyelepkannya, dan menjual berasnya. Hasilnya mereka bisa membeli televisi, arloji, sepeda motor, dan lain-lain benda konsumsi. Akibat ekspor illegal ini, beberapa kasus kelaparan terjadi di Kalimantan. Mereka kelaparan bukan karena tidak mampu membeli beras, tetapi karena berasnya memang tidak ada.

# # #

Karena beras kita banyak diekspor secara illegal, pada tahun 1999 pemerintah merencanakan menambah impor beras, dari tiga menjadi lima juta ton. Meskipun realisasinya impor beras kita ketika itu kurang dari tiga juta ton. Pada tahun 1999 itu, beras yang berasal dari padi ladang masyarakat tradisional, sangat disenangi konsumen di Malaysia, dan Filipina. Transportasi untuk ekspor illegal itu menggunakan perahu-perahu tradisional, dari pelabuhan-pelabuhan kecil. Karena ekspor ini sifatnya illegal, maka tidak ada dokumen, dan juga tidak ada pencatatan yang bisa menunjukkan berapa besar volumenya.

Sebenarnya, sebelum Bangsa Belanda menguasai kepulauan Nusantara, khususnya Jawa, Sumatera, dan Sulawesi, kita adalah pengekspor beras kualitas tinggi. Pulau Jawa merupakan penghasil beras utama, sebab di pulau ini dikenal padi Oryza sativa varietas javanica. Diduga, varietas ini merupakan silangan alami antara Oryza sativa varietas indica (padi india), dengan Oryza sativa varietas japonica (padi jepang). Hasil beras dari pulau Jawa, Sumatera, dan Sulawesi ini merosot tajam, ketika pemerintah kolonial Hindia Belanda memanfaatkan sawah berpengairan teknis untuk menanam tebu, tembakau, rami, kenaf, dan yute.

Sejak itulah negeri jajahan ini defisit beras. Ketika itu, pemerintah kolonial, mendatangkan jagung, singkong, ubi jalar, keladi, garut, dan ganyong dari Amerika Tengah/Latin. Tanaman dari dunia baru inilah kemudian yang menjadi sumber karbohidrat untuk substitusi beras. Jadi, para petani di Jawa, harus merelakan sawah mereka untuk budi daya tembakau dan tebu, sementara mereka harus makan jagung dan singkong, yang dibudidayakan di lahan kering. Sampai sekarang buku pelajaran sekolah masih menyebutkan, bahwa makanan pokok masyarakat Gunung Kidul adalah singkong (gaplek), dan makanan pokok orang Madura adalah jagung.

Ketika Indonesia merdeka, terutama setelah perang kemerdekaan, sawah kembali bisa ditanami padi oleh petani. Tetapi tahun 1950an dan 1960an, terjadi ledakan populasi penduduk Indonesia, terutama Jawa. Tahun-tahun itu banyak penduduk yang kelaparan, dan kurang gizi. Tahun 1970an, Indonesia mengikuti pola revolusi hijau, dalam budi daya padi sawah. Di satu pihak, hasil beras bisa ditingkatkan secara mencolok. Namun di lain pihak, padi varietas lokal banyak yang punah, karena adanya pemaksaan dan penyeragaman varietas. Ketika masyarakat mulai sadar terhadap isu lingkungan, kembali padi varietas lokal terperhatikan.

# # #

Sebenarnya, Jawa, Sumatera, dan Sulawesi, berpeluang menghasilkan beras kualitas terbaik. Sebab tiga pulau ini adalah pulau vulkanis. Jepang bisa menghasilkan beras kualitas terbaik, juga karena pulau vulkanis. Namun Jepang hanya bisa panen padi satu kali dalam setahun, karena merupakan kawasan sub tropis. Jawa, Sumatera dan Sulawesi, berpeluang untuk panen padi dua kali, meskipun yang ditanam padi varietas dalam (umur panen 5 – 6 bulan). Harga padi varietas dalam, selalu lebih tinggi di pasar internasional, sebab kualitasnya di atas padi varietas genjah, seperti IR64. Beras kualitas tinggi ini bisa kita ekspor, untuk membeli beras kualitas sedang atau rendah yang harganya lebih murah.

Yang menjadi masalah, stok beras di pasar dunia, sangat berfluktuasi. Ketika stok menumpuk, maka harga beras di pasar dunia akan jatuh. Sebaliknya kalau India, RRC, dan Indonesia gagal panen, maka harga beras di pasar dunia akan segera naik. Sebab tiga negara ini adalah penghasil, sekaligus konsumen beras terbesar di dunia. Hingga hasil panen di tiga negara ini, akan sangat berpengaruh terhadap jatuh, atau melambungnya harga beras di pasar dunia. Sebab stok beras di tiga negara berpenduduk terbesar di dunia ini, sangat kecil. Stok beras Indonesia di Bulog misalnya, hanya sekitar dua sampai dengan tiga juta ton.

Idealnya, negara-negara penghasil sekaligus konsumen beras ini, meniru masyarakat tradisional. Satu KK masyarakat tradisional, akan membuka ladang seluas satu hektar. Hasil panen tahun ini, baru akan dikonsumsi dua tahun kemudian. Yang dikonsumsi tahun ini adalah hasil panen dua tahun yang lalu. Hasil panen tahun lalu, akan dikonsumsi tahun depan. Hingga, masyarakat tradisional di Kalimantan, selalu punya tiga lumbung padi. Yang mereka simpan selalu padi, bukan beras. Sebab beras hanya tahan disimpan selama setahun. Sementara padi tahan disimpan sampai tiga tahun. Pola inilah yang sulit diterapkan pada masyarakat modern. # # #

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s