NASI KEBAB UNTUK MAKAN SAHUR

Nasi kebab (chelow kabab), adalah menu nasional Iran. Nasi kebab demikian populernya, hingga bisa diterima semua lapisan masyarakat, di Iran. Meskipun merupakan menu nasional Iran, popularitas nasi kebab meluas sampai ke seluruh kawasan Timur Tengah, India, bahkan juga sampai Malaysia dan Singapura. Menu nasi kebab berasal dari Iran Utara, khususnya di sekitar kota Teheran, ibukota Iran.
Saat ini, di Teheran ada ratusan restoran nasi kebab. Beberapa di antaranya sudah didirikan sejak awal tahun 1900an, hingga sudah bertahan selama satu abad. Di Eropa pun, kalau orang Indonesia tidak berhasil menemukan restoran China, paling mudah mencari nasi kebab di restoran Arab.

Nasi kebab asli, berasnya harus beras basmati dari India. Tetapi karena harga beras basmati sangat tinggi, maka nasi kebab bisa terbuat dari beras apa saja, asal jenis butiran panjang. Beras basmati, dan juga beras parsi (Iran), berbutir sangat panjang. Perbandingan diameter butir beras dengan panjangnya, bisa sampai lima kali lipatnya. Beda dengan butiran beras jepang, yang membulat, hingga panjang dan lebarnya hampir sama. Nasi kebab berwarna kuning, karena diberi bumbu kunyit. Meskipun kadang juga ada nasi kebab dengan warna cokelat (merah), karena berasal dari beras basmati merah. Beda dengan nasi jepang yang lengket dan bisa diambil dengan sumpit, maka nasi kebab harus pera.

Meskipun berasnya beras basmati, sebenarnya nasi kebab hanyalah nasi kuning biasa, yang disajikan lengkap dengan kebab (daging kambing), potongan tomat yang digoreng, daun bawang atau potongan bawang bombai, dan mentega. Nasi kebab asli, di bagian tengah piring selalu dioleskan mentega, dan ditaruh kuning telur mentah, dan ditaburi Somogh (bubuk sumac, tanaman genus Rush). Namun di restoran kebab modern, ceplok telur mentah dan bubuk sumac hanya diberikan kalau ada permintaan. Sebab umumnya masyarakat sekarang tidak terlalu suka menyantap nasi kebab dengan telur mentah dan bubuk sumac. Variasi daging, sayuran, dan bumbu nasi kebab juga berkembang sesuai dengan selera masyarakat.

# # #

Kebab sendiri, berasal dari bahasa Arab dan Parsi kabab (کباب), yang artinya daging goreng. Namun sekarang, kebab justru diartikan sebagai daging bakar khas Timur Tengah dan Asia Selatan. Kebab asli selalu berasal dari daging kambing atau domba. Dalam perkembangan lebih lanjut, kebab juga bisa menggunakan daging sapi, ayam, bahkan juga ikan. Namun tidak pernah kebab menggunakan daging babi. Barangkali karena nama kebab identik dengan masyarakat Timur Tengah yang Muslim, hingga di restoran Eropa dan Amerika pun, kebab tidak pernah menggunakan bahan daging babi. Tidak jelas kapan menu kebab mulai dikenal masyarakat Timur Tengah, namun jelas sudah setua domestifikasi kambing dan domba.

Saat ini menu kebab telah berkembang sangat luas, hingga variasinya juga sangat banyak. Variasi kebab paling banyak terdapat di Turki, dan Iran. Salah satu kebab Turki, yakni Oltu kebab, kemudian berkembang ke Jerman, lalu menjadi populer di seluruh daratan Eropa, dan mendunia sebagai Döner Kebab, salah satu francise kebab terkenal di dunia. Kebab sendiri, merupakan irisan daging kambing atau domba, yang ditaruh di atas panggangan, dengan diberi bumbu-bumbu khas Timur Tengah. Namun variasi kebab kemudian menjadi ratusan. Sate yang sangat populer di Indonesia, sebenarnya juga merupakan modifikasi dari kebab. Sebab Chenjeh, Koobideh, dan Jujeh Kabab, juga merupakan irisan daging yang ditusuk dan dipanggang. Bedanya, Chenjeh, Koobideh, dan Jujeh Kabab, ditusukkan di logam yang diberi bertangkai.

Karena menggunakan bahan permanen, tusukan kebab ini bisa dipakai terus. Barangkali sate kita paling mirip dengan beef kebabs, yang ditusuk dengan lidi bambu sekali pakai. Sedemikian banyaknya variasi kebab, hingga ada yang disajikan dengan potongan roti, mirip dengan hamburger atau hotdog. Ada pula yang disajikan berupa pizza. Dan kemudian di Iran, muncullah kebab yang disajikan dengan nasi, yang disebut chelow kabab. Di restoran-restoran internasional, nasi kebab kemudian dimaknai sebagai nasi goreng dengan daging dan bumbu ala Timur Tengah. Bumbu ala Timur Tengah, bercirikan pedas, beraroma kuat, dan sangat pekat. Pedasnya bumbu Timur Tengah, bukan pedas cabai, melainkan lada, pala, cengkeh, dan kapulaga.

Di Indonesia, khususnya Jakarta, jejak chelow kabab bisa kita jumpai pada nasi goreng kambing. Misalnya nasi goreng kambing Kebon Sirih, yang tiap malam selalu padat dikunjungi pembeli. Nasi goreng kambing sebenarnya merupakan modifikasi dari nasi kebab. Terutama dari penggunaan daging kambing (bukan domba), kemudian juga bumbunya yang khas Timur Tengah. Meskipun pada nasi goreng kambing di Indonesia, bumbunya tidak sepedas, dan sepekat nasi kebab di restoran Eropa, bahkan juga di restoran India di Singapura dan Malaysia. Meskipun tidak terlalu pekat, bumbu nasi goreng kambing di Indonesia, aroma jintannya masih sangat kuat. Jintan adalah aroma khas masakan Timur Tengah.

# # #

Di Eropa, beberapa restoran kebab justru baru buka pada tengah malam. Hingga konsumennya adalah para pekerja malam. Mulai dari polisi, perawat, satpam, sopir taksi, petugas telekomunikasi, wartawan, atau mereka yang sedang tidak bisa tidur. Menyantap kebab pada malam yang dingin, memang sangat cocok, mengingat bumbunya yang pekat dan pedas. Belum lagi faktor daging kambing yang pasti akan mampu menghangatkan tubuh. Di Timur Tengah, sehabis menyantap nasi kebab selalu diikuti dengan minum susu, atau yoghurt. Sebab mayoritas masyarakat Timur Tengah beragama Islam hingga tidak minum minuman beralkohol. Namun di Eropa, kebab juga disajikan dengan red wine, seperti halnya steak.

Bagi Umat Islam yang berpuasa, nasi kebab merupakan alternatif makan sahur yang menarik. Pertama, bumbu kebab yang pedas, dan daging kambingnya akan mampu menggugah selera makan pada dini hari yang dingin. Kedua, nasi yang tercampur lemak kambing, dan mentega, akan lama tercerna oleh lambung. Hingga sahur dengan menyantap nasi kebab akan membuat perut tetap kenyang sampai dengan sore hari, ketika saat berbuka puasa tiba. Terlebih kalau yang kita santap adalah kebab asli Iran, yang lengkap dengan kuning telur mentah di atasnya. Agar tidak repot menyiapkannya, nasi kebab bisa dimasak pada sore hari, dan tinggal memanaskannya ketika akan disajikan pada saat makan sahur.

Bagi para penderita diabetes, menyantap nasi kebab asli dari beras basmati bisa membantu menyehatkan dan menguatkan tubuh. Sebab nasi beras basmati terkenal sebagai nasi diet bagi para penderita diabetes. Namun para penderita tekanan darah tinggi, diharapkan tidak menyantap nasi kebab dengan daging domba atau sapi. Untuk mereka harus dihidangkan kebab alternatif dengan daging ayam, ikan, atau kambing. Sebab daging kambing asli, bukan domba, kadar kolesterolnya justru sangat rendah. Lebih rendah dibanding dengan daging sapi. Sayangnya, di pasar daging di Indonesia, daging domba selalu diklaim sebagai daging kambing. Kecuali di pasar swalayan besar, yang membedakan lamb atau mutton (domba), dengan chevon (kambing). (R) # # #

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s