KELANGKAAN KOMODITAS CABAI

Belakangan ini harga cabai mengalami lonjakan kenaikan luar biasa. Kenaikan paling tinggi, terjadi pada cabai rawit merah. Selama ini, cabai yang beredar di pasaran terdiri dari cabai merah besar (cabai TW = Taiwan), cabai merah keriting, cabai rawit merah, cabai besar hijau, cabai keriting hijau, dan cabai rawit hijau. Cabai merah keriting, paling banyak diproduksi di sentra cabai di Brebes, Jawa Tengah. Karena sekarang ini kawasan tersebut dilanda banjir, maka produksi cabai merah keriting menyusut drastis. Cabai yang masih hijau langsung dipetik, untuk menghindari kerugian.

Cabai merah besar, yang sering pula disebut sebagai cabai TW, biasanya diproduksi di lahan sawah maupun ladang, di dataran menengah sampai tinggi. Produksi cabai ini, tidak mengenal musim. Artinya, cabai merah besar, selalu ditanam, tidak peduli pada musim penghujan maupun kemarau. Hingga sebenarnya, pasokan cabai merah besar selalu kontinu sepanjang tahun. Tetapi, ketika terjadi lonjakan harga cabai keriting, dan terutama cabai rawit merah, maka harga cabai merah besar pun juga ikut mengalami kenaikan yang  cukup besar.

Cabai rawit ada dua macam. Pertama, cabai rawit hijau. Cabai rawit ini memang selalu dipanen ketika masih hijau, dan fungsinya lebih untuk “lalap” makan tahu, atau tempe goreng. Juga untuk bumbu sate, dan bumbu masakan lainnya, dengan cara dipotong-potong dan dikonsumsi segar. Cabai rawit hijau juga akan menjadi merah, setelah tua. Tetapi cabai rawit hijau, tidak pernah dipanen ketika telah merah. Kedua adalah cabai rawit putih, cabai selir, atau yang di Jawa Tengah disebut “lombok gajih”. Cabai ini berwarna putih kekuningan, ketika muda, dan akan menjadi merah setelah tua.

# # #

Beda dengan cabai rawit hijau yang hanya akan dipanen ketika masih berwarna hijau, maka cabai rawit putih tidak pernah dipanen mentah. Jenis cabai ini justru hanya akan dipanen ketika sudah merah, dan kemudian disebut sebagai cabai rawit merah atau cabai selir. Kelebihan cabai rawit putih yang telah menjadi merah adalah, rasa pedasnya yang luarbiasa. Yang bisa menandingi pedasnya cabai rawit jenius ini hanyalah cabai tit super dari Garut dan Tasikmalaya. Namun cabai tit super, volumenya sangat kecil, dengan konsumen yang juga sangat terbatas.

Cabai rawit putih, dibudidayakan di lahan sawah secara monokultur, sebagaimana halnya cabai merah keriting. Beda dengan cabai rawit hijau, yang dibudidayakan secara tumpangsari, di lahan-lahan kering. Karena dibudidayakan di lahan kering, maka cabai rawit hijau selalu akan mengalami kenaikan harga tiap musim kemarau. Sebab ketika itu produktivitas cabai rawit hijau akan menyusut sangat drastis. Cabai rawit merah adalah kebalikan dari rawit hijau. Cabai ini paling banyak dibudidayakan di lahan sawah, secara monokultur. Ketika terjadi banjir, maka lahan cabai rawit merah ini akan tergenang.

Hingga cabai rawit merah, yang sebenarnya merupakan cabai rawit putih yang telah tua ini, selalu akan mengalami lonjakan harga, justru pada musim penghujan. Namun cabai rawit putih juga bisa dibudidayakan di lahan-lahan kering. Pada musim penghujan inilah para petani cabai rawit putih di lahan kering, akan memperoleh keuntungan luar biasa. Sebab harga cabai rawit merah yang biasanya hanya sekitar Rp15.000 per kg, ketika musim banjir seperti sekarang ini, akan naik menjadi Rp35.000 per kg. di tingkat konsumen.

Meskipun harganya paling tinggi, cabai selir tetap menjadi incaran pemilik warung atau restoran. Sebab pedasnya luar biasa. Hingga satu buah cabai selir, rasa pedasnya bisa disetarakan dengan dua sampai dengan tiga buah cabai keriting atau cabai besar. Tetapi aroma cabai rawit merah ini sama sekali tidak ada. Hingga para pengusaha restoran, selalu mengkombinasi cabai rawit merah, dengan cabai keriting, dan juga cabai merah besar. Hingga pedasnya dapat, aromanya kena, dan warna merahnya juga bisa terlihat sangat jelas dalam tiap masakan.

# # #

Di Indonesia, cabai merupakan komoditas yang mengalami fluktuasi harga paling tinggi. Harga komoditas ini bisa jatuh sekitar Rp 2.000, tetapi juga bisa melambung di atas Rp 20.000. Hal ini bisa terjadi, karena tidak pernah ada pengaturan pola tanam. Di Malang memang pernah didirikan Asosiasi Petani Cabai, tetapi lembaga ini juga tidak bisa berfungsi sebagai pengatur pola tanam. Di Thailand misalnya, petani cabai tergabung dalam koperasi dan asosiasi petani cabai, yang berafiliasi dengan koperasi dan asosiasi petani sayuran, dan lebih tinggi lagi, mereka berafiliasi dengan koperasi dan asosiasi petani hortikultura.

Petani yang akan memanam cabai harus lapor ke ketua kelompok, lalu dilanjutkan ke ketua koperasi, dan ketua asosiasi, untuk dicacat. Di Taiwan dan Jepang, petani sudah punya PC yang online dengan koperasi dan asosiasi, hingga laporan bisa dilakukan secara online. Seorang petani cabai harus membuka PCnya, lalu menulis di web dan milis  petani cabai, bahwa ia akan menanam cabai jenis tertentu, di lahan seluas sekian are, dan diharapkan akan bisa dipanen pada tanggal berapa bulan berapa. Data ini akan terekam di koperasi dan asosiasi, hingga seluruh produksi cabai, bisa terdeteksi.

Dengan cara serapi ini pun, gagal panen, atau panen melimpah tetap bisa terjadi. Hingga fluktuasi harga juga masih akan dialami oleh komoditas cabai di negara semaju Taiwan sekalipun. Dalam menghadapi hal semacam ini, koperasi dan asosiasi akan membantu mengatasinya, dengan membayar petani tetap di atas HPP. Meskipun harga melambung sangat tinggi, konsumen diharapkan tetap tidak akan dirugikan, sebab koperasi dan asosiasi akan membeli ke petani dengan harga di atas HPP, dan menjualnya ke pengecer tetap dengan harga yang bisa terjangkau oleh konsumen. (R) # # #          

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s