IRONI JATUHNYA HARGA GABAH

Kali ini, jatuhnya harga gabah di tingkat petani, benar-benar merupakan sebuah ironi. Sebab di lain pihak, harga beras, terutama di pasar internasional, justru sedang mengalami kenaikan, sampai di atas 700 dolar AS per ton. Sementara harga gabah di dalam negeri, justru jatuh hingga di bawah Rp1.500 per kg di tingkat petani. Informasi yang disampaikan media massa ini, sayangnya tidak pernah disertai penjelasan, gabah kategori apa yang harganya jatuh. Sebab pemerintah, dalam hal ini Departemen Pertanian, telah mengeluarkan tabel kualitas gabah.

Mulai dari gabah kering giling (GKG), gabah kering simpan (GKS), dan gabah kering panen (GKP). Masing-masing kategori gabah, masih disertai pula dengan tabel kadar air. GKG dan GKS, harus berkadar air di bawah 15%. Sementara Pemerintah, juga tahu bahwa panen padi rendengan antara Februari sd. Maret, terjadi pada puncak musim penghujan. Panen pada massa itu, potensial menghasilkan GKP di atas 25%, yang akan mengakibatkan harga gabah jatuh sampai di bawah Rp1.500 per kg. Untuk menyiasati hal ini, mutlak diperlukan alat pengering (heater).

Heater yang diperlukan oleh petani, bukanlah yang bersumber tenaga  dari listrik, atau minyak bumi, melainkan dari tungku berbahan bakar sekam, atau limbah pertanian lainnya. Dengan demikian, petani tidak pelu mengeluarkan biaya tambahan untuk membayar energi guna pengeringan gabah. Dengan heater berbahan bakar sekam, petani akan dapat meningkatkan kualitas gabah mereka, tanpa perlu mengeluarkan biaya tambahan. Namun akan terlalu mahal juga, kalau masing-masing petani harus membangun heater untuk mengeringkan gabah mereka.

# # #

Yang terjadi di Thailand, Vietnam, dan India, para petani membentuk kelompok dan koperasi. Kelompok dan koperasi inilah yang membangun heater untuk kepentingan anggota mereka. Hingga gabah dari masing-masing petani, tidak akan terlantar, karena tidak terkeringkan. Selain itu, koperasi juga akan membeli gabah petani, dengan harga standar, meskipun harga gabah di pasaran sedang jatuh. Sebab ketika harga gabah sedang tinggi, koperasi akan memungut sebagian dari nilai gabah petani, untuk ditabung di koperasi. Hingga petani selalu akan memperoleh harga gabah sesuai dengan standar biaya produksi.

Koperasi, bisa melakukan hal ini, karena memperoleh pinjaman lunak dari bank-bank pemerintah. Pinjaman lunak untuk koperasi ini, sangat diperlukan, karena mereka perlu menyimpan gabah petani dalam silo, untuk digiling sesuai dengan kebutuhan konsumsi. Produk serealia (biji-bijian), memang harus disimpan dalam bentuk gabah, bukan berupa beras atau tepung, untuk menghindari perusakan oleh kutu. Dengan pola seperti ini, petani padi di Thailand, Vietnam, dan India, tidak pernah dirugikan oleh jatuhnya harga gabah, ketika panen raya.

Kelemahan petani padi di Indonesia adalah, belum terorganisir dalam wadah kelompok dan koperasi. Kelompok tani yang sekarang ini sudah ada, ke atas terwadahi dalam Kontak Tani dan Nelayan Andalan (KTNA), yang sama dengan Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI), lebih bersifat politis daripada teknis. Agar bisa benar-benar mewakili kepentingan petani, kelompok tani padi, di tingkat lebih tinggi harus terwadahi dalam koperasi petani padi, dan juga asosiasi petani padi. Dengan cara ini, koperasi maupun asosiasi, akan benar-benar bisa membela kepentingan petani.

Selama petani masih ditelantarkan, bahkan dimanfaatkan untuk kepentingan politik penguasa, baik melalui KTNA maupun HKTI, maka mereka akan selalu termarjinalkan. Koperasi yang sekarang ini ada di lingkungan petani, adalah Koperasi Unit Desa (KUD) yang hanya berada di tingkat kecamatan. Sementara di tingkat desa, yang ada adalah Badan Usaha Unit Desa (BUUD). KUD adalah koperasi serba usaha, yang anggotanya tidak homogen petani. Karenanya, KUD lebih sering menjadi alat BULOG/DOLOG, atau perusahaan pupuk/pestisida, untuk menekan petani.

# # #

Jatuhnya harga gabah di tingkat petani, selalu rutin terjadi tiap tahun. Tetapi tidak pernah ada upaya serius dari pemerintah untuk mengatasinya. Pada jaman Orde Baru, petani padi memang sengaja dikorbankan. Mereka hanya difungsikan sebagai alat produksi beras murah, agar stabilitsa politik tetap terjaga. Beras murah, sangat diperlukan oleh buruh, pegawai negeri, dan ABRI, yang merupakan pilar utama pemerintah. Kalau beras mahal, buruh, pegawai negeri dan ABRI akan rawan memberontak. Sementara petani, bisa cukup aman ditekan, tanpa takut memberontak.

Sejak reformasi pada tahun 1998, Indonesia telah ganti presiden sebanyak empat kali. Tetapi semua pemerintahan itu, belum ada yang berpihak pada kepentingan pangan nasional. Kepentingan pangan nasional adalah, masyarakat harus tercukupi kebutuhan berasnya, dengan harga yang terjangkau. Namun di lain pihak, petani juga tidak bisa dikorbankan. Petani harus menerima imbalan yang layak dari jerih payah mereka mengadakan beras. Untuk itu, pemerintah harus membiayai pembentukan kelembagaan petani, berupa kelompok, koperasi dan asosiasi petani padi.

Secara teknis, budi daya padi juga harus disertai dengan bahan organik yang cukup. Dengan aplikasi urea 3 kuintal per hektar, seharusnya lahan tersebut diberi sekurang-kurangnya sebanyak 5 ton pupuk organik. Tanpa pupuk organik, maka urea yang 3 kuintal itu akan mubazir, dan justru merusak tanah. Kedua, aplikasi urea 3 kuintal, baru akan sepadan, apabila petani menggunakan benih unggul. Kalau petani menggunakan benih buatan sendiri, maka urea itu juga akan mubazir. Kecuali petani menggunakan benih-benih lokal unggul seperti mentik wangi dan pandan wangi. (R) # # #
    

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s