MASALAH BISNIS SAPI POTONG

Bulan Februari lalu, Asosiasi Pedagang Daging se-Jabodetabek, demonstrasi ke Istana Merdeka. Harga eceran daging sapi yang sebelumnya Rp 38.000, sampai dengan Rp 49.000, belakangan naik menjadi Rp 49.000 sampai dengan Rp 52.000. Para pendemo beranggapan, bahwa kenaikan harga daging sapi antara Rp 3.000, sampai  Rp 5.000, disebabkan oleh adanya praktek monopoli. Mereka menuntut pemerintah menstabilkan harga daging sesuai kemampuan daya beli masyarakat, menindak pengusaha, dan importir sapi maupun daging yang semena-mena menaikkan harga, menurunkan harga daging, sapi impor, lokal, serta menghapus monopoli.

Setelah para pengusaha dan perajin tahu tempe, kini giliran pedagang daging yang berdemo. Ini sebuah ironi. Sebab di negara mana pun, yang akan protes kalau harga naik, selalu konsumen. Bukan pedagang dan pengusaha. Kalau harga beras naik, yang protes pasti pembeli beras. Bukan pedagangnya. Demikian pula kalau kedelai harganya naik, konsekuensinya harga tempe, dan tahu juga akan naik. Hingga yang seharusnya berdemo konsumen tahu, dan tempe. Kalau harga daging sapi naik, seharusnya pedagang senang. Bukannya berdemonstrasi.

Naiknya harga kedelai, daging sapi, dan sekarang ini minyak goreng, sebenarnya merupakan dampak global dari kenaikan harga minyak bumi. Ketika tulisan ini disusun, harga minyak bumi sudah mendekati US $ 111. Selain kedelai, daging sapi, dan minyak goreng, yang harganya juga terus naik antara lain gandum (tepung terigu), gula, telur, daging ayam, dan ikan. Kemudian akan disusul produk tekstil, bahkan semua barang kebutuhan masyarakat pasti akan naik harga, karena terseret oleh kenaikan harga minyak bumi.

# # #

Sejak terjadi krisis ekonomi tahun 1998, agroindustri sapi potong Indonesia sebenarnya sangat tertolong. Kalau tidak, tingkat konsumsi daging akan terus meningkat, sementara populasi sapi justru menyusut, hingga impor daging, sapi potong, dan sapi bakalan cenderung meningkat. Dengan adanya krisis ekonomi, konsumen daging sapi menurun tajam. Indikasinya, los daging sapi di pasar-pasar yang dulunya penuh, sekarang hanya diisi dua pertiganya, bahkan ada yang hanya terisi sepertiganya, atau kosong sama sekali.

Populasi induk sapi nasional kita, saat ini sekitar 12.000.000 ekor. Dengan kebutuhan nasional yang mencapai 1.500.000 ekor per tahun, sebenarnya kita memerlukan induk sapi sekitar 15.000.000 ekor. Dengan induk hanya 12.000.000 ekor, ketika permintaan daging meningkat, dan peternak memerlukan uang, selalu terjadi pemotongan induk sapi produktif. Petani yang memerlukan uang akan menjual sapi mereka, termasuk induk betina produktif, ke siapa saja. Kalau semua peternak sedang memerlukan uang, maka induk sapi produktif itu akan sampai ke rumah potong hewan.

Pasokan daging sapi nasional saat ini berasal dari sapi domestik (72%) dan sapi impor (28%). Selain itu juga masih ada daging impor. Yang dimaksud sebagai sapi domestik, sebenarnya juga bisa berupa sapi impor, namun yang diimpor masih berupa sapi bakalan, untuk digemukkan di perusahaan penggemukan sapi. Hingga sebenarnya agroindustri sapi potong kita juga sangat rawan. Hingga krisis ekonomi yang terjadi sejak tahun 1998, sebenarnya telah menyelamatkan agroindustri peternakan sapi potong di Indonesia.

Kalau laju peningkatan konsumsi daging sapi masih seperti sebelum krisis ekonomi 1998, populasi induk kita mungkin sudah menyusut tinggal 10.000.000 ekor.
Meskipun tahun 2008 ini kondisi perekonomian kita, bahkan juga dunia, akan cenderung makin memburuk, namun bukan berarti agroindustri sapi potong kita akan aman. Sebab kita tidak pernah membangun sistem peternakan yang terencana, mulai dari pembibitan, penggemukan, pemotongan, penyimpanan, dan pendistribusian. Agroindustri peternakan sapi potong kita, masih lebih banyak mengandalkan pola subsisten dari para peternak dan pedagang (blantik) tradisional.

# # #

Dalam sistem peternakan tradisional, sebenarnya juga ada breeder dan grower. Breeder adalah peternak yang memelihara sapi potong betina. Yang dipelihara, umumnya jenis ongole, brahman, bali, (domestifikasi dari banteng, Boss javanicus), sapi madura (silangan sapi bali, sapi ongole dan sapi brahman). Para petani breeder ini, tidak perlu memelihara pejantan. Untuk mengawinkan induk betina yang mereka pelihara, peternak akan memanggil petugas inseminasi buatan dari dinas peternakan setempat. Peternak bisa memilih jenis induk jantannya. Setelah beranak, sapi potong akan tetap menyusui induknya sampai lepas sapih.

Anak sapi ini masih akan dipelihara oleh peternak, sampai mencapai bobot di atas 100 kg, baru akan dijual sebagai anak sapi. Bisa pula anak sapi itu dibesarkan lagi sampai mencapai bobot 300 kg, baru dijual sebagai sapi bakalan. Peternak yang membeli sapi bakalan berbobot 300 kg, dan kemudian menggemukkannya, adalah grower. Dengan pertambahan bobot hidup 0,5 kg per hari, dalam jangka waktu 1 tahun sapi itu akan mencapai bobot 500 kg. Dengan harga hidup Rp 15.000 per kg, petani akan memperoleh margin Rp 3.000.000, dari modal awalnya Rp 4.500.000,- Bagi peternak tradisional, tenaga kerja sendiri tidak pernah mereka hitung sebagai biaya, hingga margin itu sangat tinggi.

Krisis ekonomi sekarang ini, tidak terlalu memukul peternak sapi. Sebab harga sapi tidak pernah jatuh, meskipun juga tidak pernah melambung tinggi. Melambungnya harga daging belakangan ini, sebenarnya karena terkait dengan kenaikan harga minyak bumi serta harga-harga bahan kebutuhan pokok lainnya. Peternak, akan cenderung menahan ternak mereka, kalau harga turun terlalu rendah. Sebelum krisis ekonomi 1998, perdagangan ternak, usaha pemotongan,  dan distribusi daging, merupakan bisnis yang menyerap banyak tenaga kerja. Sekarang bisnis itu lesu, meski harga daging terus naik. (R) # # # 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s