AGRO EXPO YANG SEPI PEMBELI

Beberapa tahun terakhir ini, pameran sarana-prasarana, dan komoditas pertanian, makin sering diadakan. Dalam satu tahun ada lebih dari 10 pameran seperti ini di Jakarta. Penyelenggaranya macam-macam. Mulai dari instansi pemerintah, perusahaan swasta, sampai ke organisasi kemasyarakatan. Tujuan diselenggarakannya pameran seperti ini macam-macam. Mulai dari untuk promosi, sampai ke bisnis murni. Tema dan slogannya juga hebat-hebat. Meskipun slogannya sudah “Surga Belanja Tanaman”  dengan spanduk panjang dengan tipogafi mencolok, ternyata sepi pengunjung dan pembeli. Meski sepi, pihak penyelenggara (event organizer), tidak sedih. Sebab uang sewa stand sudah masuk kantong.

Yang sedih adalah para penyewa stand, yang terdiri dari pedagang tanaman hias, tanaman buah, tanaman obat, pengusaha pupuk, pestisida, dan alat-alat pertanian. Kalau pengunjung sepi, mereka akan rugi. Selain sewa stand, mereka sudah keluar pula biaya displai, transpor, serta tenaga kerja untuk menunggu stand. Seluruh biaya itu, diharapkan bisa ditutup dari hasil penjualan, setelah dikurangi harga pokok, atau harga beli produk. Kalau pengunjung sepi, mereka akan kapok. Hingga pada event berikutnya, akan berpikir panjang untuk mengikuti pameran-pameran seperti ini. Termasuk pameran di Lapangan Banteng yang sudah terselenggara rutin tiap bulan Agustus, selama satu bulan.

Di Thailand, Agro Expo seperti ini diselenggarakan dengan frekuensi dan intensitas yang lebih tinggi lagi. Tetapi semuanya ramai pengunjung dan pembeli. Demikian pula di Jepang, di Uni Eropa, khususnya di Inggris, Perancis, dan Belanda, serta di AS. Di Thailand, kegiatan-kegiatan ini lebih sering disebut sebagai “festival”. Sebab kegiatan mereka memang ada unsur kompetitifnya. Penyelenggara kegiatan, biasanya panitia yang terdiri dari unsur pemerintah, kelompok tani, koperasi, dan asosiasi sesuai dengan tema festival tersebut. Kalau yang diselenggarakan festival durian, maka salah satu penyelenggaranya pasti Asosiasi Petani Durian. Karena namanya festival, maka selalu ada durian yang dikonteskan.

# # #

Bagi “Negeri Gajah Putih” ini, Agro Expo hanyalah salah satu perangkat untuk memacu produktivitas nasional, di sektor pertanian. Hingga perangkat lain juga sangat mereka perhatikan. Petani diorganisir dalam wadah kelompok, yang akan mengurus masalah teknis pertanian, dan tak berbadan hukum;  koperasi yang akan menangani bisnis hingga harus berbadan hukum; serta asosiasi yang akan menjalankan fungsi komunikasi dengan kalangan luar, termasuk pemerintah. Selain perangkat kelembagaan, Thailand juga menata database pertanian, sesuai dengan komoditasnya. Hingga daftar anggota kelompok, lengkap dengan track recordnya, juga difile di departemen dan dinas pertanian, serta bank.

Urusan permodalan juga menjadi salah satu perangkat untuk memacu produktivitas. Untuk itu di Thailand ada Bank Agro. Karena ada date base petani, serta ada jaminan dari koperasi dan asosiasi, Bank Agro tidak takut meminjamkan uang, meskipun petani tidak punya proposal dan koleteral. Selanjutnya, kelompok, koperasi dan asosiasi, akan membantu petani memasarkan produk mereka. Caranya, dengan secara rutin menyenggarakan Agro Expo. Hingga Agro Expo di Thailand, bisa menjadi sangat spesifik. Misalnya festival mangga, pisang, rambutan, lengkeng, dan lain-lain. Karena namanya festival, pada kesempatan seperti ini petani bukan sekadar mempromosikan serta memasarkan produk mereka, melainkan juga mengadunya dengan produk serupa dari sesama petani.

Selain sangat spesifik, Agro Expo di Thailand, juga diselenggarakan secara berjenjang. Festival jeruk misalnya, diselenggarakan mulai dari tingkat kecamatan, kabupaten, provinsi, dan nasional. Yang menyelenggarakan festival jeruk, tentunya hanya provinsi penghasil jeruk. Sebab di Thailand, sudah dilakukan pemetaan komoditas secara riil, bukan sekadar di atas kertas. Karena sudah diselenggarakan secara berjenjang, maka para petani selalu siap untuk tampil pada tingkat yang lebih tinggi. Petani jeruk yang akan dikirim ke festival tingkat nasional misalnya, haruslah merupakan pemenang pada kontes tingkat provinsi.

Dalam Agro Expo seperti ini, Thailand juga menyelenggarakan seminar, diskusi, dan juga rapat kerja asosiasi, serta koperasi. Baik rapat kerja tingkat kabupaten, provinsi, maupun nasional. Dalam kesempatan seperti ini, media massa cetak, radio, televisi dan internet, ikut pula berperan. Hingga selain menjadi ajang kontes, Agro Expo seperti ini juga menjadi sarana promosi bagi komoditas pertanian itu sendiri. Orientasi mereka adalah pasar ekspor, hingga dalam pemeran demikian selalu diundang perwakilan pemerintah asing, wartawan, serta wisatawan. Dampak dari Agro Expo yang rutin, spesifik komoditas, serta berjenjang demikian, akan tampak nyata pada peningkatan ekspor.

# # #

Agro Expo di Indonesia menjadi sepi pengunjung, juga sepi pembeli, karena tujuannya sekadar memasarkan stand, kepada pedagang tanaman, khususnya tanaman hias. Konsumen tanaman hias sangat terbatas, dibanding buah-buahan serta sayuran. Hingga wajar kalau makin lama, pengunjung pameran demikian juga semakin menyusut. Heboh Anthurium tahun lalu, memang sempat mendongkrak omset Agro Expo. Tetapi anthurium adalah komoditas tipu-tipu. Sama halnya dengan cacing, jangkrik, makuto dewo, louhan. dan lobster air tawar. Komoditas itu dibuat heboh, atau istilahnya digoreng, hingga pasarnya terdongkrak.

Tetapi konsumen anthurium hanyalah sebatas pedagang, atau spekulan, yang berharap akan bisa menangguk keuntungan besar dari bisnis tersebut. Sementara konsumen yang sebenarnya, tidak pernah ada. Pemilik hotel bintang lima, istana presiden, atau kantor perusahaan multinasional, pasti tidak mau membeli anthurium seharga ratusan juga sebagai dekorasi ruangan. Sementara kolektor gila yang mau membeli tanaman mahal tersebut, jumlahnya pasti tidak banyak. Ramainya Agro Expo karena permainan goreng-menggoreng seperti ini, sebenarnya justru menguras energi nasional. Sebab ramainya pasar hanyalah ramai semu.

Meskipun frekuensi dan intensitas Agro Expo semakin tinggi, tidak pernah ada pihak yang memonitornya, hingga beberapa kegiatan bertubrukan waktunya. Karena peserta Agro Expo seperti ini jumlahnya terbatas, maka salah satu pameran atau dua-duanya akan menjadi korban. Yang paling menjadi korban, pasti pedagang tanaman, yang sudah mengeluarkan biaya sewa stand, partisi, transpor, dan penunggu pameran. Kalau situasi ini dibiarkan, maka kondidi agri kita akan semakin lemah. Sebab hampir semua Agro Expo selalu tanpa tema. Berarti juga tanpa tujuan. Satu-satunya tujuan hanyalah agar stand yang tersedia laku. Sementara pengunjung tak mau datang. (R) # # #

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s