BUNGA-BUNGA VALENTINE

Valentine, Hari Kasih Sayang, atau Saint Valentine’s Day, awalnya merupakan hari peringatan terhadap belasan  Martir Katolik, yang semuanya bernama Valentine. Martir adalah Imam Katolik, yang tewas dalam menjalankan syiar agama. Namun sejak 1969, Gereja Katolik secara resmi mengumumkan, hanya ada dua martir yang diperingati tiap tanggal 14 Februari. Yang pertama Valentine of Terni (Valentinus ep. Interamnensis m. Romae), yang menjadi martir sekitar tahun 197. Kedua, Valentine of Rome (Valentinus presb. m. Romae), yang menjadi martir sekitar tahun 269.

Selama ratusan tahun, Saint Valentine’s Day diperingati, dengan saling mengekspresikan cinta, terutama cinta antar kekasih. Meskipun cinta yang semangatnya diambil dari Santo Valentine, sebenarnya berupa cinta dengan makna yang lebih luas. Mulai dari cinta orang tua kepada anak, cinta antar saudara, cinta antara murid dengan guru atau sebaliknya, dan lain-lain. Namun yang paling dominan tetap cinta antara dua individu yang sedang dimabuk asmara. Cinta asmara inilah yang kemudian menjadi ciri khas dari perayaan Valentine.

Ekspresi cinta di sekitar Saint Valentine’s Day, umumnya berupa pengiriman kartu, cokelat, dan yang terutama bunga. Selain itu, pasangan yang sedang dimabuk cinta, juga akan mengadakan kencan khusus, agar masing-masing bisa lebih intens mengekspresikan cinta mereka. Di era digital seperti sekarang ini, pengiriman kartu valentine, tentu berkurang intensitasnya. Sebab SMS dan E-Mail tentu bisa lebih efektiv dan sekaligus efisien untuk mengungkapkan cinta. Meskipun era digital itu tetap tidak mematikan tradisi pengiriman kartu, yang disatukan dengan bunga dan cokelat.

Ekspresi cinta, dengan segala aktivitas dan pernik-perniknya di sekitar Saint Valentine’s Day, telah mengubah makna perayaan tersebut. Martir Katolik lalu menjadi tidak penting lagi. Saint Valentine’s Day telah menjadi milik generasi muda, atau para ABG. Tidak penting agama mereka, tidak peduli kebangsaannya, Saint Valentine’s Day harus dirayakan dalam rangka memupuk, meningkatkan, dan tentu saja memelihara cinta kasih di antara dua individu. Saint Valentine’s Day juga menjadi ajang untuk mencari pasangan hidup.

# # #

Salah satu bentuk ekspresi cinta di sekitar Saint Valentine’s Day adalah pemberian bunga. Terutama dalam bentuk kuntum tunggal, baik satu kuntum, atau beberapa kuntum yang diikat jadi satu. Bukan berupa rangkaian, yang diberi asesoris daun hias. Warna bunga harus merah, yakni lambang cinta yang membara. Merahnyapun harus merah darah. Bukan merah muda, pink, kuning, atau malahan putih. Bunga favorit sebagai ekspresi cinta dalam Saint Valentine’s Day, adalah mawar (Rosa), Carnation (Dianthus), dan Calla Lily (Calla), khususnya yang berwarna merah.

Dalam tradisi Eropa, dan Timur Tengah, warna bunga, khususnya mawar, diberi makna untuk berbagai ekspresi. Merah berarti cinta atau “Aku cinta padamu”. Pink juga bermakna cinta, tetapi dalam arti ekspresi kelembutan. Pink tua, juga bermakna cinta, tetapi khusus sebagai ucapan syukur atau terimakasih, terhadap orang tua, teman, atau relasi lain. Pink cerah menunjukkan rasa kagum dan simpati, dan belum sampai ke ungkapan cinta yang sesungguhnya. Putih adalah ekspresi kesucinan, kemurnian, kerendahhatian, dan persahabatan.

Bunga kuning melambangkan persahabatan yang mendalam, meskipun di negara-negara yang menggunakan bahasa Jerman untuk percakapan sehari-hari, mawar kuning bisa dimaknai sebagai tuduhan terhadap ketidaksetiaan, atau perasaan cemburu. Mawar kuning dengan warna merah di ujungnya, selain melambangkan persahabatan, juga bisa dimaknai sebagai ungkapan jatuh cinta. Warna oranye, menunjukkan gairah yang tak tertahankan, sementara ungu, atau biru, menunjukkan kesedihan dan kemurungan. Hingga rangkaian bunga ucapan dukacita, selalu diberi pita ungu atau biru.

Meskipun Saint Valentine’s Day sudah menjadi kultur ABG sedunia, patokan makna warna bunga, tetap mengikuti tradisi Eropa dan AS. Hingga mawar, anyelir, kala lelly dan bunga-bunga lain yang dipersiapkan para nursery, hanyalah yang warna merah darah. Agroindustri bunga di Aalsmeer, Negeri Belanda biasanya selalu menciptakan hibrida mawar baru, yang lebih sesuai dengan trend ABG dunia. Suatu ketika, bisa saja bunga Saint Valentine’s Day tidak harus merah darah, tetapi pink, atau warna-warna lain. Bintang film, grup musik, dan olahragawan dunia, biasanya akan sangat berpengaruh terhadap trend para ABG ini.

# # #

The Saint Valentine’s Day, sejak sekitar satu setengah dekade terakhir, juga telah menjadi bagian dari kehidupan remaja di kota-kota besar di Indonesia. Hingga pengiriman bunga, sekaligus dengan kartu ungkapan kasih sayang, juga telah menjadi bagian dari kultur mereka. Hingga sejak Natal, kemudian tahun baru Masehi, Imlek, dan kemudian Valentine, bisnis bunga menjadi hidup. Di negara-negara maju seperti Eropa, AS, Jepang, Taiwan dan lain-lain, bisnis bunga ini malahan berlanjut sampai ke hari raya Paskah, pada bulan Maret atau April. Meskipun bunga paskah, harus selalu lily (Lilium longiflorum) warna putih.

Variasi tanaman hias, dan bunga yang dijadikan komoditas khusus ini, juga berbeda-beda sesuai dengan hari yang dirayakannya. Natal identik dengan cemara dan pointsettia warna merah. Tahun baru Masehi dan Imlek tidak ada bunga khusus. Imlek malahan lebih memanfaatkan buah, bukan bunga, sebagai hiasan. Khususnya jeruk dan buah naga. Saint Valentine’s Day memerlukan mawar, carnations (anyelir), atau kalla lely warna merah. Itu semua merupakan bunga-bunga dengan pasar khusus, meskipun hari-hari biasa juga tetap diperlukan.

Bulan Agustus dan September, para petani dan pekebun mawar di Cipanas, Lembang, Bandungan, dan Batu, sudah mulai memangkas dan memupuk tanaman  mereka. Pekerjaan ini akan terus mereka lakukan sampai dengan bulan November, pada setiap tahunnya. Tanaman yang dipangkas pada bulan September, sudah bisa dipanen bunganya pada perayaan Natal dan tahun baru. Sementara yang dipangkas bulan November, diharapkan bisa dipanen untuk perayaan Imlek dan Saint Valentine’s Day. Trend perayaan Saint Valentine’s Day dikalangan para ABG, sedikit banyak telah berkontribusi menggerakkan agroindustri bunga di negeri kita.

Sebenarnya anthurium, aster, dahlia, krisan, geranium, dan juga anggrek, banyak sekali yang warnanya merah. Namun secara umum yang paling banyak diserap pasar di sekitar Saint Valentine’s Day, hanyalah mawar. Tradisi yang sudah berlangsung berabad-abad ini, tentu sulit untuk diubah. Di kepulauan Nusantara ini,  pemberian bunga hanya lazim terhadap makhluk halus, atau roh nenek moyang yang telah meninggal. Tetapi para ABG lebih condong untuk ikut tradisi Barat, dengan mawar merahnya di sekitar Saint Valentine’s Day. (R) # # #

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s