KRISIS TELUR DAN IKAN

Awal tahun 2008 juga ditandai dengan kenaikan harga telur dan ikan. Telur yang harganya naik dari Rp 9.000,- menjadi Rp 12.000,- adalah telur ayam ras petelur (layer). Telur itikpun sebenarnya juga mengalami kenaikan, tetapi tidak terlalu kelihatan, karena penjualannya tidak kiloan, melainkan butiran. Dari sebelumnya    Rp 800,- per butir, menjadi Rp 1.000,- per butir. Harga ikan yang mengalami kenaikan, terutama ikan laut. Sekarang awal tahun Januari 2008, ikan laut bukan hanya mengalami kenaikan, melainkan juga kelangkaan.

Kenaikan telur unggas, yakni ayam, itik,dan puyuh, disebabkan oleh kenaikan harga jagung, bungkil, dan tepung ikan. Tiga komoditas ini merupakan komponen utama pakan unggas. Biaya pakan dalam agroindustri unggas, mencapai 70% dari keseluruhan biaya produksi. Hingga kenaikan harga komponen pakan, akan sangat berpengaruh terhadap kenaikan produk tersebut. Kenaikan harga jagung, disebabkan oleh terserapnya produk ini untuk ethanol. Sementara kenaikan harga bungkil, disebabkan oleh kenaikan harga kedelai.

Yang disebut tepung ikan dalam agroindustri peternakan unggas, sebenarnya adalah udang renik yang dijaring dari Pasifik Tenggara. Harga tepung ikan itu praktis hanya berupa biaya transportasi dan operasional penangkapan. Karena kenaikan harga BBM, maka harga tepung ikan juga ikut terdongkrak naik. Kenaikan harga telur, dan sebenarnya juga daging unggas, bersifat permanen, karena faktor kenaikan harga pakan. Dalam keadaan seperti ini, agroindustri itik gembalaan, dan juga ayam kampung menjadi punya prospek cukup baik.

# # #

Produk ikan yang masuk ke pasar, terdiri dari hasil eksplorasi laut, dan hasil budi daya. Sebenarnya ada pula eksplorasi sungai, danau, dan rawa, namun volumenya sangat kecil jika dibanding dengan hasil eksplorasi laut. Hasil eksplorasi laut, sebenarnya juga bukan hanya terdiri dari ikan, melainkan juga udang, kerang, cumi-cumi, kepiting, dan lain-lain. Ikan budi daya terdiri dari budi daya air tawar, dan budi daya air payau. Produk ikan budi daya, variasinya sangat terbatas. Yang populer hanyalah ikan mas, gurami, nila, patin, lele, dan bandeng. Udang pun, sekarang lebih banyak yang berasal dari tambak, dibanding dengan yang tangkapan dari laut.

Kenaikan harga ikan belakangan ini, disebabkan oleh tiga faktor sekaligus. Ikan budi daya, mengalami kenaikan karena faktor pakan, yang persentasenya juga mencapai 70% dari keseluruhan komponen biaya keseluruhan. Ikan hasil eksplorasi, terkena dampak kenaikan harga BBM secara langsung. Sebab eksplorasi hasil laut, sekarang tidak lagi dilakukan dengan perahu layar, melainkan perahu motor. Namun, dampak kenaikan harga BBM terhadap harga jual ikan laut, masih relatif kecil. Kenaikan harga ikan laut yang cukup tajam belakangan ini, lebih disebabkan oleh faktor cuaca.

Selama November sampai Maret, cuaca memang sangat jelek. Hingga nelayan banyak yang tidak bisa melaut. Akibatnya, ikan laut menjadi langka di pasaran, dan harganya melambung tinggi. Pada saat-saat seperti ini, harga ikan air tawar seperti nila, lele, mas, ikut pula terdongkrak naik. Demikian pula dengan ikan air payau, terutama bandeng dan nila. Sebab nila termasuk ikan yang daya adaptasinya sangat tinggi, hingga ikan air tawar ini bisa dibudidayakan di air payau, bahkan dalam karamba air laut. Kenaikan harga ikan air tawar dan payau, disebabkan oleh kenaikan harga pakan, dan juga kenaikan harga ikan laut.

* * *

Kelangkaan ikan, dan produk eksplorasi laut, bersifat rutin dan hanya sementara. Setelah bulan April, musim angin barat akan berganti dengan musim angin selatan. Ketika itulah laut akan ramah untuk kegiatan eksplorasi, hingga harga ikan akan kembali normal. Lain halnya dengan ikan budi daya, baik budi daya air tawar maupun payau. Kenaikan harga pakan, akibat melambungnya harga kedelai (bungkil), bersifat permanen. Salah satu cara menanggulangi masalah ini adalah, dengan mencari alternatif  bahan bungkil non kedelai. Banyak komoditas, yang bisa dikembangkan untuk bungkil alternatif.

Komoditas yang produktivitas dan kandungan proteinnya lebih baik dari kedelai antara lain koro benguk (Mucuna pruriens), dan kecipir (Psophocarpus tetragonolobus). Dua komoditas ini berpeluang sangat besar sebagai bahan bungkil alternatif, dan juga dimungkinkan untuk diolah secara massal oleh industri modern. Namun sampai sekarang, produsen pakan ternak dan ikan masih belum mengetahui potensi dua komoditas ini. Pengembangan protein hewani alternatif tidak mungkin dilakukan secara massal, melalui industri modern. Produk penghasil protein hewani alternatif, hanya mungkin dikembangkan oleh para peternak sendiri, secara individual, atau melalui kelompok dan koperasi.

Komoditas sumber protein hewani ini, antara lain kepala udang, bekicot, cacing, ulat hongkong, dan masih banyak lagi. Cacing misalnya, pernah dihebohkan sebagai komoditas ajaib, yang bisa membuat orang kaya mendadak. Padahal yang paling rasional, cacing diproduksi untuk dimanfaatkan kotorannya sebagai pupuk (cascing), dan pakan ikan. Dengan cara itu, para petani ikan akan mendapatkan nilai tambah cukup besar, sebab tidak perlu tergantung dari tepung ikan impor. Selain untuk pakan ikan, cacing juga berpotensi untuk pakan itik. Hingga telur itik bisa menjadi substitusi telur ayam ras. (R) # # #

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s