TERPURUKNYA AGROINDUSTRI TEMPE

Kenaikan harga kedelai impor dari Rp 350.000,- per kuintal menjadi Rp 750.000,- per kuintal, telah mengakibatkan agroindustri tempe terpuruk. Sebab selama ini, agroindustri tempe, terutama yang berskala besar dan menengah, lebih banyak mengandalkan kedelai impor. Beda dengan agroindustri tahu, yang lebih banyak mengandalkan kedelai lokal. Tempe, memang lebih mengandalkan volume kedelai, dan mengabaikan rendemen sari kedelainya. Sementara tahu tidak terlalu mempermasalahkan volume, melainkan lebih memperhatikan rendemen sari kedelainya.

Kedelai impor, berukuran besar-besar, hingga volumenya ketika dibuat tempe, menjadi lebih banyak. Sementara kedelai lokal, volumenya lebih kecil, tetapi padat, hingga rendemen sari kedelainya, yang merupakan bahan tahu, lebih banyak. Negeri ini, meskipun merupakan pelahap tempe, tetapi sebesar 1,2 juta ton atau 60% dari kebutuhan kedelai nasional harus diimpor. Aparat pemerintah, seakan menghambat pertumbuhan produksi nasional, sebab impor merupakan lahan yang sangat subur bagi korupsi di negeri ini. Sebab secara logika, memacu produksi kedelai Nasional hingga mencapai total 2 juta ton per tahun, tidak terlalu sulit.

Kenaikan harga kedelai di pasar global, terutama disebabkan oleh merosotnya agribisnis kedelai di AS. Petani AS sekarang lebih senang membudidayakan jagung, sebab belakangan, harganya lebih tinggi dari kedelai. Ini disebabkan oleh kenaikan harga minyak bumi yang sulit untuk ditekan. Jagung selain menjadi pakan ternak, sekarang juga dicari-cari oleh industri ethanol, sebagai substitusi BBM. Sebenarnya, yang terpukul akibat kenaikan harga kedelai, bukan hanya produsen tempe, melainkan juga peternakan unggas. Sebab, bungkil kedelai, sebagai komponen utama pakan ternak, juga masih impor, dan ikut naik harganya.

# # #

Kita tidak mungkin memaksa AS untuk kembali menanam kedelai. Kita sendirilah seharusnya yang mampu memenuhi kebutuhan kedelai dalam negeri, meskipun tingkat produktivitas kita masih di bawah 1,5 ton per hektar per tahun. Cara paling mudah adalah, dengan meminta PTPN dan Perkebunan swasta, untuk membudidayakan kedelai, pada lahan bekas tebangan, sebelum tanaman baru menjadi besar. Kedua, dengan investasi pengairan, di lahan sawah, terutama di Pantai Utara Jawa. Dengan tingkat produktivitas 1,1 ton per hektar per musim tanam, sebenarnya diperlukan 1 juta hektar lahan kedelai.

Dengan asumsi lahan yang sama bisa ditanami kedelai sebanyak 2 X, maka lahan yang diperlukan 0,5 juta hektar. Lahan dengan luas antara 0,5 sampai dengan 1 juta hektar, sebenarnya tersedia, tanpa perlu membuka lahan baru. Sebab lahan tersebut tidak perlu berada dalam satu hamparan. Kalau upaya ini berhasil, devisa yang kita gunakan untuk impor kedelai, bisa diberikan sebagai insentif, bagi petani atau pengusaha yang telah berhasil menekan atau menghentikan sama sekali impor kedelai. Hal seperti ini tidak pernah diupayakan dengan serius, karena swasembada kedelai, akan mengakibatkan para pelaku korupsi dari impor kedelai, kehilangan penghasilan.

Sebenarnya, masyarakat Indonesia, khususnya Jawa, punya cukup banyak variasi bahan tempe non kedelai. Mulai dari lamtoro, koro, koro benguk, kecipir, dedak (lembaga) jagung, dan tempe bongkrek (ampas kelapa). Tempe bongkrek, memang telah dilarang pemerintah untuk diproduksi dan dipasarkan, khususnya di kawasan Banyumas, Jawa Tengah. Sebab apabila pembuatan tempe ini menggunakan wadah tembaga, akan terkontaminasi, hingga produk yang dihasilkan mengandung asam bongkrek, yang sangat beracun. Sudah cukup banyak kasus kematian massal, akibat keracunan tempe bongkrek.

# # #

Tetapi tempe jagung, lamtoro, dan koro benguk, sampai sekarang masih diproduksi, dan dikonsumsi secara terbatas di kawasan Jawa Tengah dan DIY. Bahkan tempe benguk, sampai sekarang masih bisa dijumpai dijual di pasar-pasar tradisional di kawasan tersebut. Sayangnya, aneka jenis tempe ini sama sekali tidak pernah dipopulerkan oleh pemerintah. Kalau ada hotel atau restoran papan atas di Jateng dan DIY, yang secara rutin menyajikan tempe lamtoro dan tempe benguk, dan ada seleb, pengusaha atau pejabat pemerintah yang mengkonsumsinya, maka produk tersebut akan terangkat popularitasnya.

Karena hal tersebut tidak dilakukan, maka pelan-pelan aneka tempe non kedelai itu terpinggirkan. Jadilah tempe kedelai merajai pasar. Kalau kedelai itu 100% merupakan hasil keringat petani Indonesia, tidak menjadi masalah. Tetapi 60% kedelai itu merupakan hasil petani AS. Bahkan tempe produksi massal di kota-kota besar di Indonesia, 100% merupakan kedelai impor. Jadi, kalau ada tukang becak, atau kuli bangunan makan di Warteg dengan lauk tempe, secara tidak langsung dia telah berkontribusi memperkaya petani kedelai di AS. Hal ini sengaja dibiarkan oleh aparat pemerintah, yang selama ini diuntungkan oleh bisnis impor kedelai.

Dengan beralihnya petani AS dari menanam kedelai ke jagung, harga kedelai akan terus melambung. Tinggal ada dua pilihan bagi aparat pemerintah kita. Segera tingkatkan produktivitas kedelai nasional, dengan tambahan lahan 1 juta hektar. Kalau hal ini tidak dilakukan, orang tidak akan mau makan tempe yang mahal. Mereka juga akan kehilangan peluang korupsi. Kalau kedelai impor mahal, pelan-pelan petani kita akan mulai antusias untuk menanam kedelai. Sebab selama ini, kedelai lokal kita, harganya justru lebih tinggi dibanding kedelai impor. Memang untuk bahan tahu dan kecap, kualitas kedelai lokal lebih baik dibanding yang impor. (R) # # #  

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s