BIJI BAYAM SEBAGAI PANGAN ALTERNATIF

Sejak tahun 1980an, RRC sangat serius memperhatikan tanaman bayam (Amaranthun SP), sebagai bahan pangan. Upaya ini didukung sepenuhnya oleh USAID. Pertama-tama RRC mengumpulkan spesies bayam dan varietasnya dari seluruh dunia, terutama dari Amerika Tengah dan Amerika Latin. Akhirnya terkumpul sekitar 1.400 varietas bayam, terutama varietas yang menghasilkan biji (grain amaranth). Dari 1.400 plasma nutfah bayam itu, RRC menemukan beberapa spesies liar yang bisa digunakan untuk menciptakan hibrida baru, hingga produktivitasnya lebih tinggi. RRC lalu mengirimkan varietas-varietas bayam itu, untuk diujicoba di 70 negara di dunia.

Mengapa RRC demikian serius mengurus biji bayam? Sebab dengan populasi penduduk lebih dari 1,2 milyar jiwa, RRC tidak hanya bisa menggantungkan diri hanya dari satu komoditas pangan. Itulah sebabnya mereka secara sekaligus membudidayakan gandum, beras, jagung, sorghum, bahkan juga ubijalar, terutama sebagai bahan pakan babi. Dengan juga mengembangkan grain amaranth, maka ada lagi satu alternatif bahan pangan. Hal yang sama, sebenarnya juga dilakukan oleh India, dengan populasi penduduk lebih dari 1 milyar jiwa. Di India, grain amaranth sudah dikembangkan di lereng selatan pegunungan Himalaya. Di kawasan ini, Nepal dan Bhutan juga sudah lama mengembangkan grain amaranth.

Sebenarnya grain amaranth bukan bahan pangan baru. Jauh sebelum bangsa Eropa datang ke benua Amerika, masyarakat Maya dan Aztec sudah membudidayakan bayam untuk diambil bijinya. Tepung (pati) biji bayam yang dicampur dengan madu, mereka bentuk menjadi patung dewa Huitzilopochtli. Dalam sebuah ritual, patung ini dipotong dan dibagi-bagi untuk dimakan. Ritual ini, dianggap oleh Gereja Katolik, mirip dengan pembagian Hosti (Komuni), dalam ritual misa. Hingga penanaman grain amaranth dilarang sama sekali. Selain itu, bangsa Indian sendiri juga menyusut populasinya dari 11 juta tinggal 6,5 juta, hanya dalam waktu 21 tahun (1519 -1540), akibat pembunuhan dan penyakit yang dibawa bangsa Eropa.

# # #

Padahal grain amaranth adalah bahan pangan yang kaya nutrisi. Selain mudah pengerjaannya (dibanding jagung), cepat memasaknya dan juga mudah dicerna oleh lambung serta diserap nutrisinya oleh usus. Karenanya, bubur grain amaranth cocok untuk dijadikan makanan bayi, dan orang dewasa yang baru saja sembuh dari sakit. Terutama dua spesies grain amaranth A. cruentis dan A. hypochondriaca. Melihat potensi seperti ini, juga menyadari kesalahan masa lampau, tahun 1970an, pemerintah Meksiko kembali membudidayakan grain amaranth. Spesies liar yang tersebar di alam kembali dikumpulkan, disilangkan untuk menjadi hibrida baru dan kemudian dibudidayakan secara komersial.

Hingga tidak lama kemudian, snack berbahan tepung grain amaranth dengan aneka rasa, termasuk rasa cokelat dan keju, mulai beredar di Mexico City. Protein dalam grain amaranth sangat tinggi kualitasnya, seperempat mangkuk bubur grain amarant, juga mampu mensuplai 60% kebutuhan tubuh akan zat besi. Grain amaranth juga sama sekali tidak mengandung gluten (zat yang ada pada tepung gandum), hingga cocok untuk mereka yang alergi gluten.  Selain kaya nutrisi dan mudah dicerna, grain amaranth juga mengandung banyak serat yang penting untuk pencernakan dan metabolisme tubuh. Maka snack dari Meksiko ini pun kemudian laku diekspor ke Eropa, dan Amerika Serikat.

Selengkapnya kandungan nutrisi tiap 100 gram grain amaranth adalah sebagai berikut. Air 9.0 g; lemak nabati 7.0 g; protein 15.0 g;  total karbohidrat 63.0 g; serat 2.9 g; kalori 391; forpor 477 mg; riboflavin 0.32 mg; niacin 1.0 mg; asam askorbat (Vitamin C) 3.0 mg; thiamin (Vitamin B1) 0.14 mg; abu 2.6 g; kalcium dan 490 mg. Plasma nutfah grain amaranth kemudian disusun menjadi sebuah katalog, dan disimpan di 11 negara. Taksonomi grain amaranth, kemudian dideskripsikan oleh Feine-Dudley. Dan sejak tahun 1977, RRC mulai menangani koleksi plasma nutfah grain amaranth. Hingga kemudian terkumpul 1400 varietas dan kultifar grain amaranth, termasuk 12 spesies liarnya.

Genus Amaranthus sendiri, memiliki sekitar 60 spesies. Ke 60 spesies ini, ada yang dikembangkan untuk sayuran (green amaranth), tanaman hias (ornamental plant amaranth) dan grain amaranth. Selain masih tetap dipelihara spesies liar amaranthus, yang belum ketahuan kegunaannya. Sebab beberapa spesies amaranthus, di Indonesia, khususnya di Jawa, sering dimanfaatkan sebagai bahan obat tradisional. Grain amaranth sendiri, di Indonesia banyak dibudidayakan justru sebagai tanaman hias. Masyarakat kita mengenalnya sebagai “bayam jènggèr”. Jengger adalah pial ayam jantan. Disebut demikian, karena bunga grain amaranth ini sepintas memang mirip pial ayam jago. Meskipun bentuk bunga grain amaranth sangat beragam, misalnya ada yang mirip dengan malai padi.

# # #

Tipe-tipe grain amaranth itulah yang kemudian dikelompok-kelompokkan oleh para ahli di RRC. Masing-masing spesies didata kelebihan dan kekurangannya, terutama  produktifitas serta daya adaptasinya terhadap aneka jenis lahan serta agroklimat. Kultivar baru grain amaranth yang kemudian dirilis pertamakali adalah MT-3. Kultivar ini merupakan hasil pemuliaan dari Amaranthus cuentus yang berasal dari Meksiko. Program yang sama kemudian juga dikembangkan di Meksiko dan Kenya. Universitas Cuzco di Peru, kemudian juga merilis tiga kultivar  Amaranthus caudatus dengan nama  Oscar Blanco, Noel Vietmeyer, dan Alan Garcia. Tiga kultivar ini telah dibudidayakan secara komersial di areal seluas ratusan hektar oleh para petani di Peru. Selanjutnya, manfaat grain amaranth sebagai pangan alternatif, diperkenalkan oleh masyarakat Meksiko dan Peru kepada masyarakat Nepal.  Termasuk cara memasaknya menjadi semacam dodol, yang di Meksiko disebut alegria, atau kue kebahagiaan. Kue dari grain amaranth yang mirip alegria ini, di Nepal disebut sattoo. Dari Nepal, budi daya grain amaranth menjalar ke India. Di sini, Amaranthus hypochondriacus, dikenal sebagai rajgeera (raja biji-bijian), yang diolah menjadi dodol yang disebut laddoos. Pengembangan grain amaranth di RRC, Nepal dan kemudian India, bisa dimungkinkan karena agroklimat di tifa negara ini sangat cocok untuk budi daya komoditas pangan alternatif tersebut.

Meskipun sejak tahun 1500an budi daya grain amaranth dilarang di seluruh daratan Amerika Latin, masyarakat Quecha yang tinggal di pegunungan setinggi 2700 sd. 3500 m. dpl, di Peru, tetap membudidayakan komoditas ini. Mereka menanam grain amaranth di sela-sela tanaman jagung dan kentang. Masyarakat Quecha, tidak hanya mengkonsumsi grain amaranth sebagai pangan, melainkan juga membuatnya minuman seperti bir yang mereka sebut Chicha, yang selalu mereka minum dalam pesta untuk menghormati ibu pertiwi. Dari masyarakat Quecha, inilah para ahli pertanian kembali mempelajari budi daya dan pemanfaatan grain amaranth, yang selama hampir empat abad dilarang untuk dibudidayakan.

Dari hasil penelitian ini, grain amaranth kembali dibudidayakan di Meksiko, Peru, RRC, Nepal dan India. Dari empat negeri ini, RRC tampak paling antusias untuk mengembangkan grain amaranth secara lebih serius. Minat RRC terhadap grain amaranth ini bukan sesuatu yang aneh. Sebab komoditas pangan ini telah selama ribuan tahun menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indian Maya dan Aztect di Amerika Latin. Kekuasaan Gereja Katolik yang sangat besar pada abad pertengahan, telah membuat grain amaranth bernasib tidak terlalu baik. Lain dengan kentang, jagung, singkong dan ubi jalar yang semuanya juga asli Amerika Latin, tetapi bisa segera menjadi komoditas penting di dunia.

# # #

Sebutan Amaranthus sendiri, berasal dari bahasa Yunani Anthos, yang berarti bunga.  Dalam bahasa Yunani kuno, amaranth yang juga disebut chrusanthemon dan elichrusos, dikeramatkan dan hanya untuk dipersembahkan kepada dewa Artemis. Dalam kondisi kekurangan pangan, terutama beras, Indonesia harus belajar banyak dari RRC dan India. Mereka sadar bahwa populasi penduduknya sangat besar, hingga tidak cukup hanya mengandalkan satu sumber karbohidrat. Andalan pangan RRC dan India adalah gandum, beras dan jagung. Masyarakat Eropa mengandalkan gandum, jagung dan kentang. Tetapi RRC juga masih sangat tertarik untuk mengembangkan amaranth grain.

Memang pengambangan amaranth grain di RRC, belum tentu untuk makanan manusia secara langsung. Sebab RRC juga mengembangkan ubijalar, hingga menjadi penghasil ubijalar terbesar di dunia, yakni 82,6% dari total produksi ubijalar dunia. Luas areal tanaman ubijalar di negeri ini mencapai 49.000 km2, dengan hasil panen 105 juta ton. Namun 60% dari hasil ubijalar ini mereka gunakan untuk pakan babi. Ada kemungkinan pembudidayaan grain amaranth di RRC ini juga akan mirip dengan ubijalar. Sama halnya dengan masyarakat AS yang membudidayakan jagung, dan memanfaatkannya sebagai pakan sapi. Namun apa pun yang akan mereka lakukan, RRC dan India jelas berpikir sangat strategis untuk masa depan ketercukupan pangan mereka.

Indonesia sebenarnya juga banyak memiliki komoditas penghasil karbohidrat. Baik yang berhabitat asli di sini seperti talas, suweg, uwi-uwian, dan sukun, serta pendatang dari Amerika Latin seperti ubijalar, singkong, ganyong, dan garut. Namun kita tidak pernah secara serius mengembangkan komoditas tersebut, untuk ketercukupan pangan kita. Tidak ada gagasan untuk secara besar-besaran membudidayakan ubijalar, kemudian ubi maupun batang dan daunnya diberikan kepada kambing atau domba. Hingga kita sulit untuk berharap pemerintah kita mau mengikuti jejak RRC dan India, yang dengan sangat serius mengurus grain amaranth. Komoditas yang selama hampir empat abad tersisihkan dari peradaban dunia. (R) # # #   

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s