PUPUK ALTERNATIF UNTUK PADI

Musim tanam padi tahun 2007 ini agak mengalami kelambatan. Meskipun hujan sudah mulai turun pada bulan September, namun pada bulan November, hujan malahan berhenti. Di beberapa kawasan, juga sama sekali belum turun hujan. Hingga praktis, musim tanam tahun 2007 ini jatuh pada bulan Desember. Pada saat musim tanam berlangsung, terjadi kelangkaan pupuk di pasaran. Petani padi, selama ini memupuk tanaman mereka dengan Urea (nitrogen), pada awal pertumbuhan. Kemudian pada saat menjelang tanaman bunting, petani memberi SP 36 (phospat). Petani padi hampir tidak pernah memupuk tanaman mereka dengan NPK (Nitrogen, Phospat, dan Kalium).

Petani tidak pernah menggunakan pupuk lengkap NPK, karena harganya lebih tinggi dari SP 36, dan Urea. Saat ini harga Urea menurut ketentuan pemerintah                Rp 1.200,- per kg. Namun dalam praktek, petani harus membeli dengan harga                Rp 1.240,- per kg. Harga eceran SP 36 subsidi Rp 1.550,- per kg. Sementara harga NPK subsidi  Rp 1.750,- per kg. Idealnya, kebutuhan padi per hektar per musim tanam, sebanyak 300 kg. urea senilai Rp 372.000,- dan 100 kg. Sp 36 Rp 155.000,- atau total Rp 527.000,-. Kalau petani menggunakan NPK, maka dosis Ureanya harus dikurangi menjadi 250 kg. senilai Rp 310.000,- dan NPKnya 150 kg. senilai               Rp 262.500,- atau total Rp 572.500,- hingga ada selisih Rp 45.500,- per hektar per musim tanam.

Bahkan, andaikata petani tetap menggunakan dosis urea 300 kg. dan NPK 100 kg. total biaya pupuk yang harus dikeluarkan menjadi Rp 547.000,- hingga ada selisih Rp 20.000,- dibanding kalau petani menggunakan SP 36. Yang jadi masalah sekarang, NPK juga langka. Hingga petani terpaksa harus membeli pupuk non subsidi, yang harganya bisa melambung jauh di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) pupuk bersubsidi, yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Kebutuhan pupuk buatan, memang mutlak kalau petani menanam IR 64, yang benihnya merupakan hasil pemuliaan. Tanpa diberi urea dan SP 36, hasil panen akan merosot jauh di bawah standar rata-rata 4 ton gabah per hektar.

# # #

Sebenarnya, petani bisa menyiasati kelangkaan pupuk ini dengan berbagai cara. Para pekebun sawit, sekarang selalu mengembalikan tandan buah kosong (TBK), ke kebun. Dengan cara ini pupuk bisa dihemat sampai 50% tanpa menurunkan volume produksi maupun kualitas tandan buah sawit (TBS). Selama ini petani lebih banyak membakar jerami padi di sawah, hingga nutrisi yang ada pada jerami itu diubah menjadi energi (panas), yang terbuang sia-sia. Beberapa petani sekarang sudah mulai menumpuk jerami hasil panen I, di antara tanaman padi musim tanam II.  Nanti pada musim tanam III, jerami hasil panen II kembali ditumpuk, sementara jerami I sudah bisa dicampur tanah sebagai pupuk organik.

Sekam pun, selama ini hanya terbuang sia-sia. Di penggilingan gabah, sekam lebih banyak menumpuk kemudian dibakar. Pemanfaatan limbah ini untuk litter ternak ayam broiller atau bahan bakar batu-bata, volumenya masih sangat kecil. Padahal, sekam ini juga bisa dikembalikan ke lahan sawah, dan akan mampu memperbaiki struktur tanah hingga menjadi lebih gembur dan tidak lengket karena kebanyakan Urea. Idealnya, tiap hektar lahan memerlukan paling sedikit 5 ton bahan organik, per musim tanam. Jerami dan sekam dari tiap hektar lahan, bobotnya pasti lebih dari 5 ton. Hingga, dengan mengembalikan jerami dan sekam ke lahan sawah, maka biaya pemupukan bisa dihemat paling sedikit 30%, tanpa menurunkan volume dan kualitas hasil. Pada kebun sawit, penurunan biaya pupuk malahan bisa mencapai 50%.

Para petani di kawasan DIY, dan Kabupaten Klaten, Jateng, selama ini sudah terbiasa mengembalikan kulit kacang tanah ke lahan sawah mereka. Namun mereka belum mengembalikan jerami dan sekam. Bisa saja alasan tidak mengembalikan jerami ini, karena digunakan sebagai pakan ternak, khususnya sapi. Hal ini sebenarnya sangat positif, sebab petani bisa mendapat nilai tambah dari usaha penggemukan sapi. Dan kotoran sapi berikut sisa jerami dan hijauan lainnya, kalau dikembalikan ke lahan sawah, hasilnya akan lebih baik lagi. Dengan pemberian pupuk kandang sekitar 5 ton, penghematan pupuk urea dan SP 36 bisa lebih mencapai 60%.

Yang sudah dilakukan oleh para petani padi di kawasan DIY dan Jateng adalah, memberi pupuk hijau berupa daun trembesi (ki hujan, Samanea saman). Jalan desa di sawah di kawasan ini, banyak yang ditanami trembesi sebagai peneduh. Secara rutin para petani memangkas dahan dan ranting trembesi ini, lalu menaruh atau membenamkannya di lumpur sawah. Dalam waktu sekitar 1 minggu, daun trembesi itu sudah hancur dan akan menjadi pupuk yang sangat baik. Selain trembesi, daun lamtoro, kaliandra, albisia, dan glirisidia, juga merupakan pupuk hijau yang sangat baik. Yang perlu diupayakan adalah, volume pupuk hijau itu paling sedikit harus 5 ton per hektar per musim tanam.

# # #

Jerami, sekam padi, pupuk hijau, dan pupuk kandang, lebih memberi unsur hara N. Kalau pun ada unsur P, persentasenya kecil sekali. Unsur P dengan persentase tinggi, bisa diperoleh dari pupuk guano, yakni kotoran kelelawar pemakan serangga (bukan pemakan buah), atau kotoran walet. Bahkan fosil guano pun, kandungan phospatnya masih sangat tinggi. Pupuk guano phospat, sebenarnya adalah fosil kotoran kelelawar dari jaman 800.000 sampai dengan 1 juta tahun yang lalu. Gua-gua di pegunungan kapur, seperti di Gunung Kidul, Wonogiri, dan Pacitan, banyak yang mengandung deposit guano phospat, dan sebagian sudah dieksplorasi. Batuan phospat ini setelah ditambang langsung digiling, dan dikemas sebagai guano phospat.

Meski harganya lebih tinggi, penggunaan guano phospat sebagai pengganti SP 36, mampu meningkatkan hasil panen antara 1 sd. 2 ton per hektar per musim tanam. Namun ketersediaan guano phospat maupun guano segar, juga masih sangat terbatas, hingga belum mampu mensubstitusi SP 36. Sebenarnya, penggunaan NPK sebagai pengganti SP 36, juga akan mampu meningkatkan hasil panen, antara 1 sd. 2 ton per hektar. Sebab NPK merupakan pupuk lengkap, dengan kandungan kalium. Selain dalam NPK, kalium juga terdapat dalam pupuk tunggal KCL.

Fungsi kalium bagi tanaman antara lain bisa meningkatkan kadar gula pada buah, serta mencegah kerontokan. Pada padi, fungsi kedua ini menjadi sangat penting. Sebab padi unggul seperti IR 64, dikenal mudah sekali rontok. Hingga persentase kehilangan pada waktu panen, menjadi sangat tinggi. Meskipun gabah yang rontok di lahan sawah ketika panen, sebenarnya tidak pernah hilang. Karena itik gembalaan akan segera datang untuk memakan gabah rontok tersebut, sambil makan biota air berupa anak kodok, cacing, siput, dan rumput. Unsur K, antara lain bisa diperoleh dari sabut kelapa. Hingga memasukkan sabut kelapa ke lahan sawah, juga bisa meningkatkan hasil panen. (R) # # #

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s