POHON PENGHIJAUAN

Konferensi PBB Mengenai Perubahan Iklim (United Nations For Climate Change Conference, UNFCCC), telah sukses, dengan hasil Peta Jalan Bali (Bali Road Map). Indonesia sebagai tuan rumah, harus menunjukkan sikap serius kepada dunia, dengan cara aktif menanam pohon. Itu harus dilakukan oleh instansi pemerintah, BUMN, perusahaan swasta, lembaga keagamaan, sekolah, perguruan tinggi, LSM, dan juga masyarakat luas. Yang kemudian menjadi pertanyaan adalah, pohon apa saja yang harus kita tanam? Sebab meskipun Indonesia beriklim tropis, tetapi variasi agroklimat kita sangat besar.

Kita tidak bisa menanam lamtoro (Leucaena glauca) di kawasan pegunungan. Sebaliknya kaliandra (Calliandra calothyrsus) tidak akan tumbuh baik di dataran rendah. Kawasan pantai berair payau, hanya bisa dihijaukan dengan bakau (Rhizophora Sp, 8 spesies), api-api (Avicenia Sp, 9 spesies), dan nipah (Nypa fruticans). Tanaman yang cocok untuk kawasan pantai berpasir adalah ketapang (Terminalia catapa), nyamplung (Calophyllum inophyllum), keben (Baringtonia asiatica), dan pandan duri (Pandanus tectorius). Selain terbagi menjadi pantai, dataran rendah, dan dataran tinggi, kawasan Indonesia juga masih bisa dikelompokkan lagi menjadi kawasan yang ekstrim basah (Bukit Tinggi, Bogor), normal, dan ekstrim kering (NTT). Kawasan-kawasan ini memerlukan pohon yang berbeda untuk penghijauan.

Hingga dataran tinggi di sekitar Bogor misalnya, memerlukan jenis tanaman yang berbeda dengan dataran tinggi di Jawa Timur yang relatif kering. Bahkan sama-sama dataran tinggi di kawasan kering seperti di NTT pun, diperlukan jenis tanaman yang berbeda pula. Di dataran tinggi pulau Lembata misalnya, bagian yang menghadap ke selatan, tanahnya relatif, hingga kondisinya sama dengan di Jawa. Di sini kaliandra, dan tanaman sayuran bisa tumbuh sangat subur. Sebaliknya, bagian yang menghadap ke utara, kering kerontang seperti di Australia Utara. Di sini yang bisa tumbuh hanya pohon ekaliptus (Eucalyptus Sp. 700 spesies).

# # #

Memilih pohon penghijauan, juga harus memperhatikan fungsi pohon tersebut, terkait dengan peruntukan lahan yang akan dihijaukan. Orang sering bertanya-tanya, mengapa peneduh di tepi jalan raya  tidak pernah menggunakan pohon buah-buahan? Sebab pohon buah-buahan, ketika berbuah, buahnya akan berjatuhan dan mengganggu lalu-lintas. Selain itu, pohon buah-buahan di tepi jalan, juga akan mengundang masyarakat, terutama anak-anak, untuk memanjatnya. Ini juga akan membahayakan lalu-lintas dan anak-anak itu sendiri. Hingga pohon peneduh di tepi jalan, selalu dipilih yang tidak ada buahnya.

Pohon asam (Tamarindus indica) meski berbuah, dipilih sebagai peneduh jalan, karena buahnya tidak membahayakan ketika berjatuhan, dan masyarakat juga malas untuk mengkonsumsinya langsung. Pohon peneduh di tepi jalan, juga harus dipilih yang dahannya tidak mudah patah, perakarannya cukup kuat, hingga tidak mudah ditumbangkan angin. Akar pohon juga tidak boleh mendesak badan jalan hingga pecah. Selain asam, pohon peneduh jalan favorit adalah trembesi (Samanea saman), mahoni (Swietenia mahagoni), angsana (Pterocarpus indicus), dan jaranan (Dolichandrone spathacea). Meskipun pohon jaranan, sebenarnya memiliki kelemahan, karena selalu meranggas justru pada musim kemarau.

Pohon yang akan ditanam di halaman rumah, harus lebih selektif lagi. Sebab harus disesuaikan dengan luas halaman tersebut. Kalau halamannya cukup luas, bisa ditanami pohon-pohon besar yang bertajuk rimbun. Halaman rumah yang sempit hanya bisa diberi perdu atau semak sebagai penghijauan. Tetapi dalam praktek, sering orang menanam beringin karet (Ficus elastica), sebagai tanaman hias mungil di halaman rumah yang sempit. Dalam waktu lima sampai 10 tahun tanaman hias mungil itu, sudah akan berubah menjadi pohon raksasa, yang tajuknya memenuhi halaman, serta perakarannya merusak bangunan.

Memilih pohon penghijauan, juga harus mempertimbangkan tujuan utama penanaman. Apakah 100% menjadi peneduh, misalnya asam, trembesi, angsana dan mahoni, atau untuk tujuan lain. Misalnya diharapkan kayunya, diharapkan buahnya, getahnya, daunnya, bunganya, dan lain-lain. Sukun (Artocarpus communis), mete (Anacardium occidentale), dan kemiri (Aleuritus moluccana) sebagai pohon penghijauan di NTT, tujuan utamanya bukan sekadar menghijaukan lahan kritis, melainkan juga untuk dipetik buahnya. Kenanga (Cananga odorata forma macrophylla), menjadi tanaman penghijauan karena bisa dipetik bunganya untuk didestilasi menjadi Cananga Oil, dan setelah 20 tahun juga bisa dipanen kayunya.

# # #

Menghijaukan lahan kritis, tentu berbeda dengan menghijaukan lahan yang tidak kritis. Yang disebut lahan kritis adalah lahan yang sama sekali tidak ada pohonnya, dan juga tidak digarap untuk budi daya tanaman produksi. Lahan tersebut bisa merupakan lereng bukit atau gunung yang curam, bisa pula dataran berbatu-batu, atau pantai yang terkena abrasi. Lahan kritis di datara tinggi, paling mudah dihijaukan dengan kaliandra. Sementara di dataran rendah dengan lamtoro. Dua tanaman ini mampu menghijaukan lahan kritis dalam jangka waktu yang sangat pendek. Baru setelah hijau, lahan tersebut ditanami dengan pohon-pohon besar, sesuai dengan agroklimat setempat, dan tujuan penanaman.

Lahan kritis di pantai yang terkena abrasi, mutlak hanya bisa dihijaukan dengan bakau, api-api, dan nipah. Tanpa tiga tumbuhan ini abrasi air laut akan terus menggerus daratan. Beda dengan pantai berpasir, yang pohon penghijauannya lebih  bervariasi. Kalau kita ingin menghijaukan lahan berkapur, misalnya di Kabupaten  Gunung Kidul, DIY, dan Wonogiri, Jateng, maka pilihan yang paling tepat adalah jati (Tectona grandis), dan sana keling (Dalbergia latifolia). Sebab dua pohon ini paling cocok tumbuh di lahan tandus yang berkapur. Selain itu, kayu jati dan sana keling, harganya sangat tinggi. Hingga selain bertujuan menghijaukan lahan kritis, dua pohon ini juga mampu memberikan pendapatan yang cukup baik bagi para petani.

Pulau Jawa saat ini juga sudah mengalami krisis kayu bakar dan arang. Harga arang di tingkat konsumen di Jawa, sudah jauh lebih tinggi dibanding harga ekspor briket arang FOB. Hingga penanaman pohon yang berkayu keras dan baik untuk arang, menjadi sangat mendesak. Di kawasan mangrove kita punya bakau yang kualitas arangnya paling baik. Di pegunungan ada akasia gunung (Acacia catechu, dan Acacia auriculiformis), yang bisa tumbuh cepat dan kualitas arangnya sama baik dengan bakau. Pohon yang juga ampuh untuk penghijauan adalah bambu (Bambusa Sp; Gigantochloa Sp; Dendrocalamus Sp; Dinochoa Sp; Schizostachym Sp; dan Nastus Sp). Sebab Jawa juga sudah krisis bambu, sekaligus krisis rebung bambu sebagai sayuran. (R) # # #

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s