PERTUMBUHAN AGROINDUSTRI JAGUNG

Agroindustri jagung Indonesia, dari tahun 2001 sd. 2005, telah tumbuh sebesar 66,6%. Tahun 2000 produksi jagung nasional masih sekitar 9 juta ton. Tahun 2005, angka produksi kita sudah mencapai 15 juta ton jagung pipilan. Dengan angka produksi sebesar itu, Indonesia menduduki ranking ke 6 penghasil jagung terbesar di dunia. Ranking pertama Amerika Serikat, 280 juta ton; menyusul RRC ranking kedua, 131 juta ton; Brasil ketiga, 35 juta ton; Meksiko keempat, 21 juta ton; dan Argentina kelima, 20 juta ton. Pertumbuhan agroindustri jagung ini cukup menggembirakan, dibanding produksi gabah (padi) kita yang hampir stagnan.

Sejak tahun 2001, kenaikan produksi gabah kita sangat kecil. Tahun 2001 produksi gabah nasional 50,4 juta ton; tahun 2002 naik menjadi 51,4 juta ton;  tahun 2003 naik lagi 52,1 juta ton, dan tahun 2004, 54 juta ton. Tetapi tahun 2005 turun sedikit menjadi 53,9. Prosentase kenaikan tertinggi produksi gabah kita dari 2001 sd. 2005 hanya sebesar 8%. Namun agroindustri gabah kita masih cukup sehat, sebab Indonesia berada pada posisi ketiga setelah RRC 182 juta ton, dan India 137,6 juta ton. Produksi gabah ini paralel dengan populasi penduduk Indonesia yang berada pada ranking 4 setelah RRC, India, dan AS.

Dengan populasi penduduk ranking 4 terbesar di dunia, produksi pangan (karbohidrat) nasional kita, termasuk jagung, seharusnya juga berada pada posisi ke 4. Potensi lahan, agroklimat, tenaga kerja, modal, dan pasar, sebenarnya memungkinkan Indonesia untuk terus memacu produksi jagung sampai bisa menggeser Argentina dan Meksiko. Meskipun, posisi ke 6 Indonesia sebagai penghasil jagung, sebenarnya masih lebih baik dari India, yang seharusnya berada pada ranking kedua. Kalau acuannya populasi penduduk, seharusnya produsen jagung terbesar adalah RRC, nomor dua India, dan ketiga baru AS.

# # #

Yang dimaksud dengan produksi jagung, dalam hal ini hanya sebatas jagung kuning sebagai pakan ternak, dan jagung putih untuk tepung (makanan manusia). Tidak termasuk di dalamnya jagung manis (sweet corn), dan jagung yang dipanen tebonnya (batangnya) untuk bahan silase pakan ternak. Di AS, batang jagung dipanen pada umur 60 sd. 70 hari, kemudian dicacah, dilayukan, diberi dedak dan tetes, lalu disimpan dalam silo hingga menjadi silase. Silase tahan disimpan sampai satu tahun, hingga bisa untuk pakan sapi dan domba pada musim dingin. Di RRC, ternak yang paling banyak dipelihara bukan sapi melainkan babi.

Sebagai pakan babi, RRC bukan mengandalkan jagung, melainkan ubijalar. Hingga RRC merupakan penghasil ubijalar terbesar di dunia. Produksi ubijalar RRC mencapai 105 juta ton, atau 82,6% dari total produksi ubijalar dunia. 60% dari hasil ubijalar RRC digunakan untuk pakan babi. Karenanya, RRC tidak terlalu memacu produktivitas jagung. AS, sebagai penghasil jagung terbesar di dunia, padahal populasi penduduknya nomor tiga, menjadi pengekspor produk jagung terbesar di dunia. Selain jagung kuning sebagai bahan pakan ternak, AS juga pengekspor tepung jagung (maizena) terbesar di dunia.

Karena di AS, jagung adalah pakan sapi, maka negeri ini juga menjadi pengekspor produk sapi, baik daging segar maupun produk olahannya, susu, maupun keju dan mentega. Meskipun produsen sapi terbesar di dunia adalah Australia. Hingga jagung, bagi para AS, mampu memberikan nilai tambah yang cukup berarti bagi petani, produsen pakan ternak, peternak, agroindustri produk peternakan, dan perdagangan produk tersebut. Sebab yang diekspor oleh AS bukan sekadar jagung pipilan atau tepung maizena, melainkan produk daging dan susu olahan. Nilai produk sapi ini jelas jauh lebih tinggi dibanding produk jagung.

# # #

Peningkatan produksi jagung Indonesia, juga dunia, antara lain juga disebabkan oleh serapan agroindustri ethanol. Menipisnya cadangan minyak dan gas bumi dunia, telah mengakibatkan energi alternatif terperhatikan. Salah satunya adalah jagung. Sebagai produsen jagung terbesar di dunia, AS sangat memanfaatkan potensi komoditas ini sebagai bahan ethanol. Akibatnya, harga jagung meningkat tajam, yang kemudian diikuti oleh peningkatan minat petani dan pengusaha agribisnis untuk membudidayakannya. Dampak dari kenaikan nilai jagung ini juga merambat sampai ke negara berkembang, termasuk Indonesia.

Salah satu provinsi yang paling serius mengembangkan agribisnis jagung adalah Gorontalo. Provinsi baru di Pulau Sulawesi ini, telah bekerjasama dengan perusahaan multinasional yang bergerak di sub sektor peternakan, untuk secara serius merancang program agroindustri jagung dari hulu sampai ke hilir. Mulai dari penyediaan benih, pengadaan modal, aspek budidayanya sendiri, pasca panen, sampai ke proses pengolahan menjadi pakan ternak, dan distribusinya ke sentra-sentra peternakan. Gorontalo merupakan contoh program pengembangan satu komoditas strategis yang cukup berhasil di Indonesia.

Berkembangnya teknologi pembenihan, juga telah ikut mendorong naiknya produktivitas jagung secara nasional, sampai ke tingkat produksi 8 ton per  hektar permusim tanam. Baik melalui penciptaan varietas baru, terutama benih Open Polynated (OP), maupun benih hibrida. Indonesia masih belum sampai ke teknologi transgenik, dengan penyusupan bakteri. Di AS, produk pertanian dengan benih transgenik yang dikembangkan AS, telah ditolak oleh banyak negara. Terutama negara-negara Uni Eropa, dan Jepang. Ini membuat peluang Indonesia untuk terus meningkatkan produksi jagung, menjadi sangat besar. (R) # # #

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s