INDONESIA MASIH KEKURANGAN MADU

Sampai sekarang, industri farmasi Indonesia masih harus mengimpor madu dari Australia, Jerman, dan beberapa negara lain. Madu, dimanfaatkan oleh dunia farmasi sebagai cairan pemanis pada obat batuk, serta obat-obatan lain, yang disajikan dalam bentuk cair. Agroindustri madu di Indonesia, sebenarnya telah berkembang cukup pesat, berkat pembinaan Pusat Apiari Pramuka, serta Perum Perhutani. Produksi madu dari para peternak lebah nasional pun, terus meningkat dari tahun ke tahun, meskipun angka pastinya tidak pernah terdeteksi.

Kalau agroindustri madu Indonesia maju dengan pesat dan produksinya juga terus meningkat, mengapa kalangan farmasi masih harus mengimpor produk ini?  Pertama, dibanding dengan kebutuhan dunia farmasi, produksi madu para peternak kita, sebenarnya masih sangat kecil. Kedua, kualitas madu kita masih belum mampu memenuhi persyaratan dunia farmasi, yang umumnya merupakan perusahaan multinasional, hingga menggunakan standar kualitas internasional pula. Persyaratan mutu madu yang masih belum bisa dipenuhi oleh para peternak kita, pada umumnya hanyalah soal kandungan air.

Perdagangan internasional, mensyaratkan kandungan air pada madu maksimal 18% sd. 20%.  Sementara madu produksi para peternak lebah kita, rata-rata berkandungan air antara 20% sd. 25%. Untuk menurunkan kadar air madu lokal agar memenuhi standar internasional, biayanya justru lebih tinggi dibanding kalau industri farmasi mengimpor produk ini dari luar negeri. Yang menjadi pertanyaan, mengapa kualitas madu kita bisa tidak sesuai dengan standar tersebut? Padahal sudah dilakukan pembinaan oleh Apiari Pramuka dan Perhutani?

# # #

Lebah penghasil madu adalah genus Apis. Genus Apis dibagi lagi dalam tiga subgenus. Pertama subgenus Micrapis, yang terdiri dari Apis andreniformis, dan Apis florea (dwarf honey bee). Kedua subgenus Megapis yang hanya terdiri dari satu spesies, yakni Apis dorsata, (giant honey bee). Ketiga subgenus Apis yang terdiri dari  Apis indica, Apis cerana, (eastern honey bee), Apis koschevnikovi, Apis mellifera, (western honey bee), dan Apis nigrocincta. Lebah hutan penghasil madu adalah Apis dorsata, lebah madu kampung adalah Apis indica. Sementara lebah madu yang diternak secara modern adalah Apis cerana, dan Apis mellifera.

Peternak lebah madu di Indonesia, semua sudah menggunakan induk Apis cerana, dan Apis mellifera Mereka juga sudah berperalatan modern, sama dengan standar para peternak lebah madu di Australia, Eropa dan AS. Sebagai kawasan tropis, sebenarnya kita punya lebih banyak tanaman penghasil nektar, dibanding dengan kawasan sub tropis. Namun kelemahan kita, kawasan tropis berudara lebih lembap dibanding dengan kawasan sub tropis atau gurun. Itulah sebabnya mengapa madu arab dan madu sumbawa kualitasnya dikenal baik. Sebab dua kawasan ini relatif kering.

Akibat tingkat kelembapan udara yang tinggi, maka kadar air madu kita juga tinggi pula. Di Eropa, lebah yang digembalakan dalam stup, bisa langsung dipanen apabila sisiran sarang sudah penuh dengan madu, dan masih terbuka. Kadar air  madu akan tetap sesuai dengan standar, yakni 18% sd. 20%. Di Indonesia, apabila hal ini dilakukan, akan menghasilkan madu dengan kadar air di atas 20%, sebab udaranya relatif lembap. Lebah yang digembalakan di kebun kapok yang sedang berbunga lebat, sisiran arang akan sudah penuh hanya dalam jangka waktu dua sampai tiga hari.

# # #

Peternak biasanya akan langsung mengambil sisiran sarang itu, memasukkannya dalam peralatan sentrifugal, untuk diambil madunya. Kadar air madu itu antara 20% sd. 25%. Seharusnya, petani membiarkan lebah mengipasi sarang itu agar kadar airnya turun. Setelah itu, lebah akan menutup lubang-lubang sarang itu dengan lilin. Peternak harus menunggu sampai dua minggu untuk memanen madu tersebut. Kalau hal ini dilakukan, maka kadar air madu pasti sudah di bawah 20%.  Peternak juga akan memperoleh harga yang lebih tinggi, dibanding kalau mereka memanennya secara  langsung.

Ada pula hal yang membuat peternak lebah madu kita belum mampu berproduksi sebaik peternak lebah Australia, Eropa dan AS. Di negara-negara maju itu, peternak lebah adalah bagian dari agroindustri pertanian. Peternak lebah akan selalu dipanggil oleh para petani, untuk membantu menyerbukkan bunga jeruk, apel, jagung, tomat, dan lain-lain, agar produktivitas pertanian itu meningkat. Di Indonesia, peternak lebah yang justru harus meminta ijin, dan membayar pada petani kapok, lengkeng, dan lain-lain agar bisa menggembalakan lebah mereka di areal pertanian tersebut.

Hasil dari peternakan lebah madu ada beberapa. Pertama madu lebah atau nektar. Kedua madu ratu atau royal jelly. Ketiga polen atau tepungsari, dan keempat lilin lebah. Namun tujuan utama peternakan lebah di Australia, Eropa, dan AS, bukan untuk menghasilkan produk-produk tersebut. Tujuan utama peternakan lebah di negara-negara maju itu adalah, untuk meningkatkan hasil pertanian. Dengan adanya lebah yang mengambil madu dan polen dari bunga, maka hasil pertanian akan meningkat sampai 100% dari apabila tidak diserbukkan oleh lebah madu. (R) # # #

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s