INDUSTRI PERUNGGASAN MAKIN TERPURUK

Setelah diterjang “badai” flu burung (avian influenza), kembali agroindustri perunggasan nasional dihajar oleh penutupan impor induk, oleh Direktur Jenderal (Dirjen) Peternakan, Departemen Pertanian (Deptan).

Dengan alasan mencegah penularan virus flu burung H7N3, Dirjen Peternakan Deptan telah melarang impor induk ayam (parent stock), dan super induk (grant parent stock) dari AS. Dampak dari penghentian impor induk adalah produksi ayam umur sehari (day old chick = DOC), akan berkurang, atau terhenti sama sekali. Kalau hal ini terjadi, maka agroindustri perunggasan, dengan produk akhir berupa daging ayam (broiller), dan telur ayam (layer), akan ikut mengalami guncangan. Efek dominonya akan menimpa agroindustri pakan, petani jagung, pedagang pasar, dan seterusnya.

Agroindustri perunggasan, memang menjadi sangat tergantung pada negara maju, terutama AS. Daging ayam broiller, dan telur ayam layer, dihasilkan oleh ayam produksi, yang disebut final stock. Tingkat produktivitas final stock paling tinggi, hingga ayam pedaging misalnya, sudah bisa mencapai bobot 1 kg. pada umur hanya 40 hari, atau malahan kurang dari itu. Produktivitas telur ayam layer, juga sangat tinggi, hingga bisa mencapai lebih dari 300 butir dalam setahun. Ayam kampung biasa, baru akan mencapai bobot 1 kg, setelah dipelihara sekitar 6 bulan. Produktivitas telur ayam kampung, kurang dari 100 butir dalam setahun.

Ayam final stock, dihasilkan oleh pembenih (breeder), berupa DOC. Hingga peternak ayam potong maupun petelur, cukup membeli DOC, lalu memeliharanya dan memanen ayam potong serta telur. DOC dihasilkan oleh parent stock (PS). Parent stock berasal dari grant parent stock (GPS). Grant parent stock, dihasilkan oleh grant-grant parent stock (GGPS). GGPS inilah yang diproduksi oleh breeder raksasa di AS, dari hasil persilangan berbagai induk ayam “galur murni”. Salah satu induk galur murni itu adalah ayam cemani kita (ayam kedu), yang disebut black bantam. Black bantam, dibawa ke Inggris pada jaman pemerintahan Raffles, baru kemudian dibawa ke AS.

# # #

Idealnya, Indonesia memang jangan mengimpor GPS, apalagi PS. Agroindustri perunggasan kita akan lebih diuntungkan apabila yang kita impor GGPS. Yang menjadi masalah, para breeder di AS, tidak akan pernah mau melepas GGPS mereka yang masih produktif. GGPS yang dilepas, pasti yang sudah terhitung kuno, dan tingkat produktivitasnya ketinggalan jaman. Ini adalah bisnis, hingga nasib negara berkembang memang akan seperti ini. Dan yang mengalaminya bukan hanya Indonesia, melainkan juga negara-negara lain termasuk RRC. Para breeder di AS, memang akan ketat untuk tidak melepas GGPS mereka, sebab untuk menghasilkannya, diperlukan induk ayam galur murni, dengan penelitian yang panjang.

Ketakutan Dirjen Peternakan Deptan terhadap virus H7N3, juga sangat beralasan. Mewabahnya virus flu burung strain lama (H5N3), sudah banyak makan korban, dan merepotkan banyak pihak di Indonesia. Korbannya bukan hanya peternak yang kolaps, melainkan juga jiwa manusia, yang tertular virus flu burung. Memang belum ada bukti ilmiah, yang menunjukkan bahwa virus H5N3, bisa menular dari unggas ke manusia, apalagi dari manusia ke manusia. Sampai sekarang juga belum ketahuan, bagaimana prosesnya, hingga virus H5N3 bisa menular ke manusia. Apakah langsung dari ayam yang terjangkiti flu burung, secara langsung ke manusia, atau melalui hewan vector (pembawa).

Dari pada kita timbul korban yang lebih parah lagi, maka keputusan Dirjen itu sebenarnya sangat tepat. Resikonya, dalam jangka waktu dekat ini, kita pasti akan kekurangan daging ayam dan telur murah. Padahal rakyat kecil baru saja diguncang dengan harga tahu dan tempe yang melambung tinggi, gara-gara kedelai impor dari AS, yang harganya juga melonjak tajam. Rakyat akan kesulitan untuk mencari lauk alternatif. Sebab ayam broiller dan telur layer, adalah lauk mewah paling murah bagi rakyat banyak. Daging sapi atau daging kambing, jelas sudah sulit terbeli. Hingga alternatifnya adalah ikan laut, atau ikan air tawar.

# # #

Buah simalakama perunggasan ini, sebenarnya juga merupakan kesalahan kebijakan pemerintah. Pada komoditas pangan, kita hanya mengandalkan beras. Hingga kedelai terabaikan, jagung terbengkelai, umbi-umbian tak tergarap, dan gandum sama sekali tak tersentuh. Impor gandum kita yang menguras devisa itu, rata-rata mencapai 5 juta ton per tahun. Sementara RRC dan India, dua negara dengan populasi penduduk di atas 1 milyar jiwa, siap dengan beberapa alternatif pangan. RRC adalah penghasil beras, gandum, kentang, dan ubi jalar nomor satu di dunia. Jagung nomor dua setelah AS.

Dalam dunia perunggasan RRC tidak hanya menggantungkan diri ke ayam. Mereka juga mengurus itik dengan cukup baik. Induk itik untuk menghasilkan telur maupun daging, mereka produksi sendiri. Indonesia, selayaknya mencontoh hal-hal baik dari RRC. Kita punya ras-ras unggul itik lokal. Mulai dari itik karawang, itik tegal, itik magelang, itik mojosari, itik bali, dan itik alabio. Belum lagi itik manila (entog) yang berpotensi sebagai penghasil daging. Pemerintah tampaknya tidak terlalu tertarik untuk mengembangkan unggas-unggas lokal ini, sebab peternak kecil jelas tidak bisa memberikan upeti sebagaimana halnya pengusaha peternakan besar.

Jadi, apabila larangan impor PS dan GPS dari AS tidak dicabut, rakyat Indonesia harus siap-siap makan dengan kerupuk dan sayuran. Paling jauh dengan ikan laut maupun tawar. Sebab tahu tempe mahal, sekarang daging dan telur ayam akan segea menghilang dari pasar. Kalau selama ini rakyat sudah antre beras, antre minyak tanah, antre Bantuan Tunai Langsung (BTL), maka sebentar lagi, mereka juga akan antre daging dan telur ayam. Kecuali keputusan itu segera dicabut. Ini sesuatu yang bisa saja terjadi. Sebab keputusan Dirjen Peternakan tentang larangan impor daging sapi dari New Zealand, juga dicabut kembali, hanya dalam waktu beberapa hari. (R) # # #

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s