BUDI DAYA KODOK

Saya ingin membesarkan kodok hijau, karena harganya cukup bagus. Benih saya tangkap dari alam, dikurung dalam jaring, dan diberi pakan pelet. Sebab kodok hijau tangkapan dari alam sekarang makin langka. (Ojib, Purwakarta)

Sdr. Ojib, kodok memang komoditas dengan nilai tinggi, namun dengan pangsa pasar sangat khusus. Jalur jalan raya Pantai Utara Jawa Barat (Pantura), sejak dulu terkenal dengan warung swikenya. Meskipun dengan pasar sangat khusus, sampai sekarang permintaan paha kodok, baik untuk konsumsi lokal maupun ekspor, tetap lebih tinggi dari pasokan. Maka budi daya kodok merupakan alternatif paling tepat.  Kodok hasil tangkapan dari alam, terdiri dari kodok hijau (Blyth’s River Frog, Giant Asian River Frog, Limnonectes blythii), kodok sawah (Crab-eating Frog, Fejervarya cancrivora), kodok rawa (Cricket Frog, Fejervarya limnocharis)) dan kodok batu sumatera (Limnonectes macrodon).

Empat jenis kodok Indonesia tersebut, memang semakin sulit dijumpai di alam. Selain karena diburu, penggunaan pestisida di sawah, telah menurunkan populasi serangga, yang merupakan pakan alami kodok. Upaya penjinakan dan peternakannya, sudah banyak dilakukan, namun semua mengalami kegagalan, karena berbagai faktor. Terutama, karena faktor ketersediaan pakan alami. Empat jenis kodok alam itu, hanya mau makan pakan alami, yang terdiri dari serangga, dan ketam sawah (kepiting sawah, yuyu). Selain itu, pemijahan kodok secara alami juga masih menemui kegagalan.

Pada tahun 1980an, diintroduksi kodok bullfrog (American Bullfrog, Rana catesbeiana) dari Amerika Serikat. Kodok ini berukuran raksasa. Ukurannya sebesar kodok batu dari Sumatera Barat, namun bentuknya lebih “gemuk” dan buntek. Sementara kodok batu Sumbar lebih langsing. Kodok ini berasal dari perbatasan Kanada dengan Amerika Serikat yang beriklim sub tropis. Disebut bullfrog (kodok banteng) karena ukurannya yang bisa mencapai bobot 0,3 sampai 0,5 kg per ekor.     Bullfrog sudah diternakkan dengan sukses, dan mau mengonsumsi pakan buatan (pellet). Bullfrog yang masuk Indonesia, berasal dari Taiwan.

Jadi kalau Anda ingin membudidayakan kodok, janganlah menggunakan benih berupa berudu, atau anak kodok lokal (kodok hijau, kodok sawah, kodok rawa, atau kodok batu Sumetara Barat). Carilah benih berupa induk jantan dan betina, kodok bullfrog. Para peternak bullfrog yang sudah berhasil dalam skala rumah tangga antara lain terdapat di Sukabumi (Jabar), Sleman (DIY), dan di sekitar Denpasar (Bali). Kelebihan bullfrog adalah, jenis kodok ini mau makan pakan buatan berupa pellet. Selain itu, ketersediaan benihnya juga lebih terjamin, dibanding empat jenis kodok lokal kita.

Kodok termasuk jenis amfibia, yang mampu hidup di darat maupun perairan. Maka lokasi pemeliharaan kodok harus berupa kolam, dengan sebagian berupa daratan.  Selain sebagai tempat berpisah (kawin dan bertelur), kolam juga berfungsi sebagai tempat pembesaran berudu sampai menjadi kodok. Di habitat aslinya, daratan digunakan oleh kodok untuk duduk menunggu datangnya serangga sebagai santapan mereka. Meskipun sudah diberi pakan pellet, bullfrog juga tetap masih memerlukan daratan untuk duduk-duduk menunggu datangnya serangga.

Lembaga nasional yang punya informasi tentang kodok, termasuk pengadaan benihnya adalah: Loka Riset Pemuliaan dan Teknologi Budi daya Perikanan Air Tawar, Jl. Raya No. 2, Sukamandi, Subang, Jawa Barat 41256, Telp. (260) 520500, dan (260) 520663
Fax (260) 520662 dan 520663. Dari lembaga ini lah kita bisa memperoleh informasi tentang agroindustri kodok di Indonesia, termasuk aplikasi pakannya. # # #

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s