DAYA SAING PRODUK SUSU NASIONAL

Agroindustri susu sapi nasional, selama ini selalu dirundung masalah. Berbagai masalah yang selalu menimpa para peternak sapi perah ini, bisa dikelompokkan menjadi dua. Pertama masalah yang berasal dari kelemahan para peternak sendiri, dan kedua masalah yang berasal dari kebijakan pemerintah, yang selama ini tidak berpihak pada para peternak. Kelemahan para peternak sapi kita pun, sebenarnya juga merupakan dampak dari kelemahan pihak pemerintah. Terutama Ditjen dan Dinas Peternakan, yang tidak pernah menata agroindustri susu kita, hingga bisa sama efisien dengan peternak negeri sub tropis.

Produktivitas peternak kita selama ini sangat rendah, rata-rata hanya berkisar 14 liter per ekor per hari laktasi. Padahal rata-rata peternak di negeri sub tropis mampu berproduksi rata-rata 20 liter per ekor per hari laktasi. Rendahnya produktivitas sapi perah nasional ini, disebabkan oleh faktor genetik, pakan, perawatan, dan lokasi pemeliharaan yang berada di elevasi di bawah 1.000 m. dpl. Idealnya, sapi perah dipelihara di lokasi dengan ketinggian di atas 1.000 m. dpl. Sapi perah yang dipelihara peternak kita, masih banyak yang berasal dari induk lokal, keturunan sapi perah yang didatangkan oleh pemerintah Belanda.

Secara ekonomis, seorang peternak sapi perah harus mampu menangani minimal 50 ekor sapi. Sebab fixed cost biaya memanajeri 10 ekor sapi, 50 ekor atau 100 ekor, merupakan beban tak langsung, yang nilainya sama. Sementara biaya pakan dan tenaga kasarnya merupakan variable cost, hingga merupakan beban langsung dari produk susu yang dihasilkan. Selama ini, para peternak kita masih memelihara sapi perah mereka, dalam kandang yang berada di rumah masing-masing. Agar efisien, idealnya mereka memelihara sapi perah ini dalam kandang kolektif, yang dikelola oleh seorang manajer secara kolektif pula.

# # #

Upaya untuk memperbaiki kualitas genetika sapi perah, sudah dilakukan pemerintah sejak tahun 1997. Caranya, selain dengan mendatangkan sapi perah bakalan secara langsung, juga dengan mengimpor induk jantan unggul, atau membeli  semen (sperma beku), dari para breeder di negeri penghasil susu utama. Upaya ini sudah terbukti mampu meningkatkan produktivitas sapi laktasi hingga bisa mencapai 20 liter per ekor per hari. Namun belum semua peternak mampu membeli sapi betina kualitas unggul ini. Hingga upaya peningkatan produktivitas melalui perbaikan genetika, masih belum bisa terlaksana secara optimal.

Kendala kedua soal pakan. Karena produktivitas susu rendah, maka peternak kesulitan untuk membeli konsentrat. Biaya satu ekor sapi laktasi, terutama untuk pakan, nilainya sama dengan 8 liter susu per ekor per hari. Ini hanya biaya untuk sapi laktasi, tanpa memperhitungkan sapi yang tidak laktasi. Misalnya sapi fase bunting, dan juga sapi bakalan. Meskipun biaya pakan sapi bakalan, nantinya akan kembali ketika sapi itu dijual sebagai sapi potong (jantan) maupun calon induk (betina, sapi dara). Peternak harus disiplin, bahwa biaya tersebut benar-benar dibelikan konsentrat, untuk diberikan kepada sapi, dan bukan untuk keperluan lain.

Pakan berupa hijauan juga menjadi kendala tersendiri. Seekor sapi dewasa bobot memerlukan hijauan sebesar 10% dari bobot hidup per hari. Hingga seekor sapi perah bobot 500 kg, memerlukan  hijauan sebanyak 50 kg, per hari. Kalau di satu sentra peternakan  terdapat populasi sapi  50.000 ekor, maka kebutuhan hijauan akan mencapai 2.500 ton per hari, atau 150.000 ton per dua bulan. Tiap hektar lahan, mampu menghasilkan 40 ton hijauan (misalnya rumput gajah), per dua bulan. maka untuk memenuhi kebutuhan 150.000 ton hijauan itu diperlukan lahan rumput seluas 150.000 : 40 = 3.750 hektar lahan.

Membudidayakan rumput untuk pakan ternak di satu sentra peternakan sapi perah, sebenarnya juga menguntungkan. Budi daya rumput ini biasanya dilakukan di lereng terasering lahan pertanian, atau di bawah tegakan tanaman keras. Meskipun produktivitas rumput di bawah tegakan tanaman keras, tidak akan setinggi produktivitas rumput di lahan monokultur. Dengan hasil 40 ton per hektar per dua bulan, dalam satu tahun bisa dihasilkan 240 ton hijauan. Kalau harga hijauan Rp 100,- per kg, maka hasil per hektar lahan per tahun Rp 24.000.000,- tanpa perlu pengolahan lahan (tinggal memangkas dan memupuk).

# # #

Kebijakan pemerintah yang merugikan peternak adalah, pengenaan bea masuk produk susu yang hanya sebesar 5% dari nilai produk tersebut. Hingga produk susu impor yang dijual di pasar bebas menjadi lebih murah dari produk susu lokal. Harga susu segar dalam kemasan eks impor, hanya Rp 20.000,- per kg. Sementara harga susu lokal dengan kemasan sama mencapai Rp 25.000,- Hingga praktis yang merajai pasar susu segar dalam kemasan di pasar-pasar swalayan, adalah susu segar eks impor. Ini menjadi sangat ironis, sebab biaya angkut dari Australia atau New Zealand ke Jakarta, pasti jauh lebih tinggi dibanding biaya angkut dari Pangalengan ke Jakarta.

Pemerintah memang tidak harus begitu saja memproteksi peternak kita, dengan menaikkan bea masuk menjadi 10 atau 15% misalnya, agar produk susu segar impor, atau susu bubuk untuk dikemas, bisa lebih murah dibanding dengan susu lokal. Sebab proteksi juga akan mengakibatkan para peternak kita keenakan, sementara produktivitas dan efisiensi mereka sangat rendah. Hingga upaya proteksi dengan menaikkan bea masuk, juga harus disertai pula dengan perbaikan kelembagaan, teknis budi daya, dan pemberian kredit investasi dan modal kerja bagi peternak. Dari serangkaian upaya tadi, perbaikan kelembagaan merupakan yang paling urgent.

Agroindustri susu di Indonesia, telah terlanjur berkembang, melibatkan modal yang cukup besar, dengan jumlah tenaga kerja yang juga sangat besar. Kalau agroindustri ini selalu dirundung masalah, maka ketahanannya bisa semakin melemah, hingga akan terjadi kebangkrutan massal. Sebelum hal itu terjadi, ada baiknya pemerintah kembali menginventarisir, menata, dan membenahi agroindustri peternakan ini. Kalau hal ini diupayakan dengan serius, maka agroindustri yang menyerap jutaan tenaga kerja ini bisa terselamatkan, bahkan juga tersehatkan. Kalau hal ini tidak dilakukan, maka jutaan tenaga kerja itu akan terancam menganggur. (R) # # #

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s