DAMPAK SURPLUS BERAS DI PASAR DUNIA

Tahun 2007 ini, stok beras di pasar dunia mengalami surplus lebih dari 20 juta ton. Kondisi ini positif bila dilihat dari kacamata konsumsi. Sebagai pengimpor beras, Indonesia pasti senang, karena tidak akan terjadi gejolak kenaikan harga, yang merugikan konsumen. Meskipun realisasi impor beras Indonesia, tahun ini diperkirakan hanya sekitar 1,5 juta ton. Yang menjadi masalah, surplus beras di pasar dunia ini bisa berdampak negatif, terhadap pendapatan petani padi pada musim panen awal tahun 2008 nanti. Sebab kemungkinan besar harga gabah akan jatuh.

Surplus yang mencapai lebih dari 20 juta ton ini terjadi, karena secara keseluruhan produksi gabah dunia memang terus mengalami peningkatan yang signifikan sejak tahun 2001. Penghasil beras utama di dunia hanyalah negara-negara Asia. Eropa sama sekali tidak menanam padi, meskipun sebenarnya bisa melakukannya. Afrika, Amerika, dan Australia, meskipun membudidayakan padi, volumenya terlalu kecil, hingga sama sekali tidak akan berpengaruh terhadap volume stok beras di pasar dunia.

Total produksi gabah dunia memang mengalami kenaikan yang cukup berarti pada tahun 2005 yang lalu. Tahun 2001 total produksi gabah  571,6 (juta ton); tahun 2002 mengalami penurunan menjadi  543,3. Tahun 2003 sedikit naik menjadi 561,3. Tahun 2004 sebesar 576,4; dan tahun 2005 melonjak menjadi 604.7. Meskipun tahun 2006 Vietnam dan RRC tertimpa musibah banjir, namun penurunan produksi dari dua negara ini tidak terlalu besar volumenya, hingga tidak terlalu  berpengaruh terhadap surplus beras di pasar dunia.

# # #

Sepuluh negara penghasil gabah terbesar di dunia adalah RRC 182 (juta ton); India 137,6; Indonesia 53,9; Bangladesh 39,7; Vietnam 35,7; Thailand 29,4; Myanmar 25,3; Filippina 14,6; Jepang 11,3; dan Korea Selatan 6,4. Dari sepuluh besar negara penghasil beras ini, hampir seluruhnya berhasil mendongkrak produksi selama 2001 – 2005. Tahun 2001, produksi gabah RRC 179,3. Tahun 2002 turun menjadi 176,3; tahun 2003 anjlok tinggal 162,3, tetapi tahun 2004 naik lagi 180,5, dan tahun 2005 menjadi 182.

India sebagai penghasil padi terbesar nomor dua,  mengalami fluktuasi produksi, dari 2001 sd. 2005. Tahun 2001 produksi India 139,9 juta ton; 2002 anjlok menjadi 107,7; tahun 2003 naik lagi ke 132,7; 2004 turun lagi 24,6; dan 2005 menjadi 137,6 juta ton. Indonesia sebagai penghasil padi nomor tiga, mengalami kenaikan meskipun tidak terlalu besar. Tahun 2001 produksi gabah kita 50,4 juta ton; tahun 2002 menjadi 51,4; tahun 2003 naik 52,1; 2004 naik lagi 54 juta ton dan 2005 53,9. Penghasil beras lain, umumnya juga mengalami kenaikan produksi cukup berarti.

Bangladesh dari 36,2 (2001), menjadi 39,7 (2005); Vietnam 32,1 jadi 35,7; Thailand 26,5 ke 29,4; Myanmar 21,9 ke 25,3; Filipina 12,9 ke 14,6; Jepang stabil di angka 11,3; Korea Selatan turun dari 7,4 ke 6,4; Pakistan 5,8 ke 8,3; Kamboja 4,1 ke 5,9, Nepal 4,1 ke 4,2; Srilanka 2,6 ke 3,2; Korea utara dari 2 ke 2,5; Iran 1,9 ke 2,7; dan Malaysaia dari 2 ke 2,2. Hingga selama 2001-2005, negara penghasil gabah di atas 1 juta ton yang mengalami penurunan produksi, hanyalah Korea Selatan, dengan angka penurunan 1 juta ton.

Di lain pihak, di masyarakat juga terjadi perubahan pola konsumsi karbohidrat. Pola makan masyarakat Indonesia misalnya, mulai beralih dari nasi beras menjadi mi, roti dan bakso. Bahan mi dan roti adalah tepung gandum (terigu) yang 100% kita impor. Sejak lima tahun terakhir angka impor tepung gandum terus mengalami kenaikan, hingga mencapai 1 juta ton (dari 4 juta ton menjadi 5 juta ton). Hingga selama 5 tahun terakhir, setiap tahunnya ada pengurangan konsumsi beras yang diperkirakan juga mencapai 1 juta ton.

# # #

Selain beralih ke gandum, konsumsi karbohidrat masyarakat Indonesia juga bergeser ke bakso. Bakso adalah tepung cassava yang dicampur dengan daging segar, terutama daging sapi. Meskipun angka pasti serapan cassava ke industri bakso tidak tercatat dengan akurat, namun angka peningkatan ini pasti paralel dengan penurunan ekspor cassava kita ke Uni Eropa, yang selama lima tahun terakhir juga terus menurun. Dengan adanya pergeseran pola konsumsi karbohidrat, dari beras ke gandum dan cassava ini, maka terjadi pula penurunan daya serap masyarakat terhadap beras.

Pergeseran pola konsumsi karbohidrat seperti ini, diduga juga terjadi di beberapa negara konsumen beras. Meskipun penyebabnya belum tentu sama dengan yang terjadi di Indonesia. Daya serap karbohidrat pada masyarakat RRC yang perekonomiannya meningkat pesat misalnya, bukan beralih ke karbohidrat non beras, melainkan memang menurun akibat dikonversi oleh protein nabati/hewani, serta sayuran dan buah-buahan. Masyarakat kelas menengah dan atas di Indonesia pun, juga mengalami pergeseran pola konsumsi seperti halnya di RRC.

Akibat dari pergeseran pola konsumsi karbohidrat tersebut, maka telah terjadi pula penurunan konsumsi beras, sementara pada lima tahun terakhir ini justru ada lonjakan produksi. Inilah yang telah membuat surplus beras di perdagangan dunia mengalami lonjakan yang juga cukup berarti. Stok beras yang mengalami surplus tersebut, akan aman disimpan sampai tiga tahun mendatang, apabila masih berupa gabah dalam silo. Namun apabila sudah berupa beras, daya simpannya menjadi lebih terbatas dan akan segera mengalami kerusakan. (R) # # #

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s