KUALITAS DAGING MENJELANG LEBARAN

Tiap lebaran, masyarakat Betawi di DKI Jakarta, akan memasak daging kerbau. Baik dimasak semur, srundeng, atau dengan kuah santan. Sentra penjualan daging kerbau segar menjelang lebaran ada di Pasar Cisalak, Cimanggis, kota Depok. Masyarakat Betawi dari seluruh kawasan DKI Jakarta, akan berdatangan ke Pasar Cisalak, untuk membeli daging kerbau, sejak sekitar satu minggu sebelum lebaran tiba. Sekarang, di beberapa pasar tradisional di DKI juga mulai dijual daging kerbau. Namun masyarakat Betawi merasa kurang afdol kalau tidak membeli daging kerbau di pasar Cisalak.

Masyarakat Indonesia, secara tradisional merayakan hari raya lebaran dengan memasak daging. Ketupat sebagai makanan pokok khas lebaran, akan selalu disantap dengan daging ayam yang dimasak opor, dan daging sapi atau kerbau yang dimasak rendang, atau srundeng. Hingga permintaan daging akan mengalami lonjakan yang sangat drastis tiap menjelang lebaran. Badan Pengawasan Obat dan Makanan (POM), juga menjadi sangat sibuk menjelang lebaran tahun 2007 ini. Produk pangan yang dicermati Badan POM adalah daging. Baik daging sapi, maupun ayam, yang diperkirakan menyalahi ketentuan perundangan.

Jauh sebelum hari raya lebaran, bahkan sebelum bulan suci Ramadhan, Departemen Pertanian, dan Departemen Perdagangan, sudah saling meributkan masalah impor jeroan sapi. Kualitas produk daging memang menjadi permasalahan sangat serius di Indonesia. Kasus paling menonjol adalah, pemberian formalin pada semua produk daging. Baik daging sapi, kambing (domba), maupun daging ayam dan ikan. Formalin adalah bahan kimia formaldehida (metanal, H2CO). Formalin dikenal masyarakat luas sebagai pengawet mayat. Sebab bahan ini merupakan disinfektan yang sangat baik.

# # #

Dalam industri, formalin digunakan untuk membuat polimer, karpet, melamin, kayulapis, kaca, kertas, pupuk urea dan lain-lain. Di negara mana pun, formalin tidak pernah direkomendasikan sebagai bahan pengawet makanan, karena akan membahayakan kesehatan manusia yang mengkonsumsinya. Bahan pengawet yang dibenarkan untuk digunakan sebagai pengawet produk makanan adalah asam benzoat, chitosan, dan cuka kayu, itu pun dalam dosis terbatas. Isu yang juga selalu menarik tiap menjelang lebaran adalah, kasus daging glonggongan. Pertamakali kasus ini muncul di Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah.

Daging glonggongan adalah daging ternak, terutama sapi, yang sebelum dipotong, diberi minum air sebanyak mungkin. Cara pemberian minum ini, sangat tidak berperikebinatangan (tidak beretika), yakni dengan memasukkan selang ke tenggorokan sapi, sampai ke dalam lambung. Air lalu digelontorkan ke dalam lambung sapi. Tujuannya, agar daging sapi menjadi jenuh dengan air, dan bobotnya meningkat dengan sangat tinggi. Cara ini jelas dilarang oleh pemerintah, karena tidak beretika dan tidak dibenarkan oleh agama apa pun. Namun yang utama adalah, cara ini sangat merugikan konsumen. Sebab konsumen harus membayar lebih tinggi untuk bobot daging yang sama, karena adanya tambahan bobot air.

Cara membedakan daging normal dengan daging glonggongan adalah, dengan menggantungnya. Daging glonggongan akan meneteskan air, selama digantung. Karenanya, pedagang daging glonggongan tidak akan menggantung daging dagangan mereka. Meskipun tidak digantung, tempat meletakkan daging glonggongan juga akan basah. Hingga sebenarnya, konsumen bisa dengan mudah membedakan daging sapi normal dengan daging glonggongan. Menjelang lebaran 2007 ini, Badan POM juga melakukan pengawasan terhadap praktek curang para pedagang daging ini, dan pelakunya diberi peringatan keras, dagingnya juga disita.

# # #

Cara pemberian air dosis tinggi ini juga diterapkan pada daging ayam broiller. Meskipun praktek ini tetap merugikan konsumen, namun para pedagang ayam broiller lebih berperikebinatangan. Mereka menyuntikkan air pada daging dada ayam yang sudah dipotong dan sudah dibersihkan. Dengan disuntik air, ayam akan menggembung dan tampak gemuk, dengan bobot yang juga akan naik beberapa ons. Karena ayam yang disuntik mencapai jumlah ratusan, maka keuntungan pedagang akan berlipatganda. Cara ini pun termasuk yang ditemukan oleh Badan POM. Selain itu, juga ditemukan pula pedagang yang menjual daging ayam yang sebelumnya sudah mati.

Praktek kecurangan para pedagang daging ini akan terus berlangsung, apabila tidak dilakukan pengawasan secara kontinu, bukan hanya pada saat menjelang lebaran. Selain itu juga perlu dilakukan pelatihan kepada para pedagang, yang dilanjutkan dengan pemberlakuan standar kualifikasi profesi. Sebab pedagang yang akan meraih keuntungan paling tinggi, pada akhirnya hanyalah yang jujur dan memberikan produk terbaiknya kepada konsumen. Di negara maju, pemberian standar profesi pedagang ini mutlak diberlakukan, dengan pengawasan oleh lembaga independen sebagai wakil konsumen.

Di Indonesia, Badan POM memang sudah melakukan tugas dengan baik. Namun tindakan Badan POM ini akan menjadi sia-sia, apabila Departemen Perdagangan, dan Dinas Perdagangan, tidak serta merta turun tangan memberikan perhatian kepada para pedagang. Sangat banyak hal yang harus dibenahi di negeri ini. Awalnya, harus ada database produsen, distributor, dan pengecer dari komoditas penting, termasuk daging. Para pelaku bisnis komoditas penting ini, juga memerlukan peningkatan kualitas, kredit lunak, pembentukan kelembagaan (kelompok, koperasi, asosiasi), dan kemudian juga sertifikasi, sebagai tanda dari tingkatan standar profesi mereka. (R) # # #

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s