SUPLAI PRODUK PANGAN SEKITAR LEBARAN

Intensitas distribusi produk pangan, mengalami perubahan pada sekitar Hari Raya Lebaran setiap tahunnya. Suplai daging sapi, telur dan ayam potong mengalami peningkatan tajam selama bulan puasa dan menjelang lebaran. Namun produk ikan dan perikanan, mengalami penurunan. Di hampir semua pasar swalayan, gerai daging dipenuhi antrean panjang pembeli. Sementara gerai ikan, terlebih ikan asin, tampak sepi. Di beberapa pasar tradisional, untuk sementara para pedagang ikan alih profesi menjadi penjual daging. Gerai sayuran juga diserbu pembeli, yang memborong  komoditas ini untuk stok selama lebaran.

Sampai dengan satu minggu setelah Lebaran, Pasar Induk Beras di Cipinang, serta Pasar Induk Sayur Mayur dan Buah-buahan di Kramat Jati, Jakarta, akan tampak sepi. Demikian pula dengan pasar tradisional, dan kios-kios buah di sekitar terminal dan stasiun kereta api, yang tampak lengang. Ada beberapa penyebab mengapa hal ini terjadi. Pertama, para pedagang grosir dan pengecer produk pangan di Jakarta, hampir semuanya mudik. Pembeli produk pangan pun juga mengalami penurunan. Sebab banyak warung dan restoran tutup. Konsumen produk pangan memang mengalami penurunan cukup tajam di sekitar Lebaran.

Namun di lain pihak, warung, restoran, toko, dan pasar-pasar tradisional di daerah, menjadi sangat hidup di sekitar Lebaran. Terlebih warung dan kios suvenir di lokasi wisata di daerah, yang di sekitar Lebaran sampai dengan seminggu sesudahnya, akan kebanjiran pengunjung. Suasana ini, terutama tampak sangat mencolok di Jawa, Madura, Sumatera, Kalimantan Selatan, dan Makasar. Sementara di Kalimantan, Manado, Maluku, Bali, Papua dan NTT, perubahan pola suplai produk pangan ini hampir tidak tampak. Yang terjadi hanyalah, warung-warung padang, warteg, warung lamongan, mi bakso, dan tukang gorengan banyak yang tidak jualan.

# # #

Ramainya warung dan pasar tradisional di daerah, disebabkan oleh besarnya nilai uang yang dibawa oleh para pemudik, dan pelancong. Dalam kurun waktu sekitar dua minggu, sebagian uang yang pada hari-hari biasa beredar di Jakarta, telah berpindah edar di daerah. Sebagian besar dari uang ini, akan digunakan untuk belanja produk pangan, atau membeli makanan siap santap. Fenomena ini sangat mencolok di daerah, yang masyarakatnya menjadi perantau ke kawasan metropolis, urban, dan sub urban. Baik sebagai pembantu rumah tangga (PRT), buruh kasar, tukang, pekerja angkutan, maupun pedagang.

Kawasan yang rutin kebanjiran pemudik dengan profesi tadi antara lain Tapanuli Selatan (jasa angkutan, inang-inang), Sumatera Barat (restoran padang, pedagang kaki lima), Cianjur dan Indramayu (PRT), Sumedang (tahu), Tasik (tahu, kerupuk, kredit), Tegal (warteg, martabak), Gunung Kidul dan Wonogiri (PRT, Bakso), Sukoharjo (jamu gendong), Lamongan (warung pecel lele), dan Madura (soto/sate). Secara kuantitatif, nilai uang yang dibawa ke kawasan ini cukup besar di sekitar lebaran. Karena para pekerja sektor informal ini tidak diatur hari liburnya, maka mereka bisa mulai mudik kapan saja, dan pulang kapan saja sesuka mereka, hingga uang yang mereka belanjakan untuk produk pangan, cukup besar nilainya.

Para PRT misalnya, memang terkait dengan kesediaan majikan memberi libur lebaran. Namun sekarang para PRT ini sudah punya jaringan tersendiri di antara mereka, melalui komunikasi SMS yang murah. Melalui jaringan ini, mereka bisa punya posisi tawar yang lebih tinggi dengan majikan. Baik untuk menentukan berapa lama mereka harus berlibur, melainkan juga menyangkut kenaikan gaji, bahkan sekarang ini sudah menjadi trend, bahwa masa kerja mereka hanya sebatas dari sesudah lebaran, sampai dengan menjelang lebaran tahun berikutnya. Sebab dengan mudah mereka memperoleh pekerjaan baru, dengan majikan baru, dengan kondisi pekerjaan lebih baik, dan dengan gaji yang lebih tinggi.

# # #

Para karyawan/wati kantor pemerintah, dan perusahaan swasta, memang sangat terbatas hari liburnya. Agar bisa cukup waktu untuk mudik, mereka harus mengambil cuti tahunan. Meskipun sudah ditambah dengan cuti tahunan pun, liburan para karyawan kantor pemerintah serta swasta ini tetap sangat terbatas. Dengan jangka waktu mudik yang lebih pendek, secara teoritis, uang yang mereka belanjakan untuk produk pangan, juga menjadi sangat terbatas pula. Namun dalam praktek, produk pangan yang mereka beli selama di kampung, nilainya lebih tinggi dibanding para pekerja sektor informal. Sebab meskipun status ekonomi mereka bisa saja lebih rendah dari para pekerja sektor informal, namun status sosial, politik dan kultural para pegawai kantoran ini, relatif lebih tinggi.

Produk pangan berupa sayuran segar, umumnya tidak terlalu mengalami peningkatan suplai yang signifikan  di pasar-pasar daerah menjelang dan setelah lebaran. Tetapi produk pangan lokal yang agak tahan lama, akan mengalami lonjakan pasar yang cukup berarti. Para pemudik asal Kulon Progo dan Gunung Kidul (DIY), hampir pasti akan mengkonsumsi produk pangan asal singkong. Misalnya tiwul, gatot, geblek, slondok dan lain-lain. Selain mengkonsumsi secara langsung di kampung, mereka juga akan membawa pulang ke Jakarta sebagai oleh-oleh. Demikian pula dengan produk pangan lokal lain dari beras, jagung, keladi, talas, kacang-kacangan terutama produk tempe, maupun produk pangan asal hewan ternak.

Tidak semua produk pangan tadi, akan dibeli dengan cara transaksi langsung. Pangan-pangan khas kampung yang menjadi favorit para pemudik asal kota, selalu disediakan jauh hari oleh orang tua, saudara serta sanak famili di kampung tersebut secara gratis. Tetapi sebaliknya, para pemudik asal kota besar itu pasti akan menyediakan sejumlah uang untuk dibagi-bagi kepada orangtua, saudara, serta sanak famili di kampung dengan gratis pula. Hingga secara tidak langsung, acara mudik adalah pola distribusi dan perdagangan produk pangan secara tidak langsung. Ini semua telah mengakibatkan roda perekonomian di Jakarta dan kota-kota besar di Indonesia, sejenak mengendur di sekitar hari raya lebaran. (R) # # #

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s