MENURUNNYA PRODUKTIVITAS TEBU

Pada jaman Belanda, produktivitas tebu di Jawa, bisa mencapai 100 ton batang segar per hektar per musim tanam (11 bulan). Rendemen tebu pada waktu itu bisa mencapai 20%. Hingga dari tiap hektar lahan sawah berpengairan teknis di Jawa, tiap 11 bulan musim penanaman tebu, bisa dihasilkan 20 ton gula pasir. Ketika itu Jawa merupakan eksportir gula pasir utama di dunia. Kondisi itu sekarang berbalik. Meski masih termasuk sebagai 10 besar negara penghasil gula tebu (ranking 9), saat ini Indonesia sudah menjadi importir gula yang cukup besar.

Ada beberapa faktor yang menjadi penyebab turunnya produktivitas tebu nasional. Pertama, benih tebu kualitas baik harus dibeli dari perusahaan pembenih. Dalam hal ini dari perusahaan inti, baik PTPN (PT Perkebunan Nusantara), maupun perkebunan swasta. Agar memperoleh hasil optimal, petani tidak bisa menggunakan benih buatan sendiri, dari batang tebu hasil panennya. Hingga setiap penanaman baru, petani harus kembali membeli benih baru pula. Tunggul tebu benih unggul dari pembenih profesional ini pun, hanya bisa dipelihara ulang, paling banyak selama dua kali. Setelah itu tanaman harus dibongkar, dan dirotasi dengan padi.

Dengan cara ini, hasil 100 ton per hektar per tahun pasti bisa diraih. Namun karena pertimbangan efisiensi, para petani tebu sekarang, biasa memelihara tunggul tebunya sampai lebih dari lima kali panen. Dengan akibat, hasil panen batang tebu akan terus menurun, hingga tinggal 60 ton per hektar per tahun, atau malahan lebih rendah lagi. Hingga pemeliharaan ulang tunggul tebu, memang harus dibatasi paling banyak hanya dua kali, dan sawah harus dirotasi dengan padi atau palawija, untuk mengembalikan tingkat kesuburannya. Dua hal inilah yang sekarang justru tidak dilakukan lagi oleh petani.

# # #

Faktor berikut yang menjadi penyebab turunnya produktivitas tebu di Jawa adalah, adanya degradasi kesuburan lahan. Sejak selama 40 tahun terakhir, lahan sawah di Jawa telah sedemikain dieksploitasi, hingga telah mengalami kerusakan. Penyebabnya, terutama karena penggunaan urea yang berlebihan, tanpa diimbangi dengan asupan bahan organik. Jerami dan limbah pertanian lainnya sebagai bahan organik yang akan menjaga tingkat kesuburan lahan, selama ini selalu dibakar oleh patani. Akibat kebanyakan urea dan kurang bahan organik, lahan sawah di Jawa menjadi lengket ketika basah, dan liat serta keras ketika kering.

Kondisi lahan yang rusak demikian, mengakibatkan produktivitasnya terus menurun. Bukan hanya ketika ditanami tebu, melainkan juga padi, palawija dan sayuran. Ada beberapa solusi untuk mengembalikan tingkat kesuburan lahan di Jawa. Pertama, dengan menumpuk jerami di lahan sawah, agar bisa membusuk dan dicampur dengan tanah pada musim tanam berikutnya. Cara ini tergolong paling murah, dan sudah mulai dilakukan oleh para petani di Jawa. Meskipun prosentasenya masih sangat kecil. Cara kedua, dengan memasukkan bahan organik, baik berupa kompos, pupuk hijau, maupun pupuk kandang ke lahan sawah.

Para petani di DIY, dan Jawa Tengah, yang selama ini selalu memanfaatkan jerami padi sebagai pakan ternak, telah secara rutin memangkas ranting dan daun tanaman ki hujan (trembesi, Samanea saman) di pinggir jalan, untuk dimasukkan ke lahan sawah sebagai pupuk hijau. Dengan cara ini, lahan akan terus terpelihara tingkat kesuburannya, sebab selalu mendapat asupan bahan organik. Merotasi tanaman dari padi dan tebu ke palawija, misalnya jagung, dan kedelai, juga akan berpengaruh terhadap tingkat kesuburan lahan, dengan catatan limbah jagung dan kedelai tersebut jangan dibakar, melainkan dibiarkan membusuk dan dikembalikan ke tanah.

# # #

Agar diperoleh tingkat produktivitas tinggi, tanaman tebu mutlak perlu dipupuk dengan pupuk ZA (Zwavelzuur Ammonia), yang terdiri dari senyawa sulfur dalam bentuk sulfat yang mudah diserap, serta nitrogen dalam bentuk amonium yang mudah larut dan diserap tanaman. Kandungan Pupuk ZA adalah belerang 24 % dan nitrogen 21 %. Harga pupuk ZA sedikit lebih tinggi dari pupuk urea. Selain harganya lebih tinggi, pupuk ZA juga sering sulit ditemukan di pasar. Itulah sebabnya petani sering mengganti ZA dengan urea, dengan akibat akan terjadi penurunan rendemen gula. Petani sering tidak menyadari penurunan rendemen ini, sebab dengan dipupuk urea, volume hasil panen batang akan meningkat.

Dengan dipupuk urea, batang tebu justru akan menjadi lebih besar dan gemuk dibanding dengan dipupuk menggunakan ZA. Namun kadar air batang tebu juga akan meningkat, sementara kadar gulanya menurun. Kalau tebu petani dibeli pabrik dengan perhitungan bobotnya, maka petani akan untung. Tetapi pabrik tidak membeli tebu petani, melainkan dengan menggilingnya dan membayar petani dengan sistem bagi hasil. Kalau rendemen gulanya tinggi, pendapatan petani naik. Sementara kalau rendemennya turun, maka pendapatan petani akan berkurang. Hingga idealnya, petani tetap memupuk tebu mereka dengan ZA, dan bukan dengan urea. Meskipun untuk itu petani harus mengeluarkan biaya lebih tinggi.

Sistem bagi hasil yang diterapkan oleh PTPN terhadap petani, sebenarnya juga tidak adil. Sebab yang dibagi hanyalah hasil gulanya, sementara tetes dan ampas dianggap sebagai limbah, dan merupakan hak pabrik gula. Sistem inilah yang sering disalahgunakan oleh aparat PTPN guna menambah penghasilan. Caranya, dengan menahan tebu petani selama mungkin sebelum digiling. Semakin lama tebu tertahan, sebelum digiling, rendemen gulanya akan semakin menurun, sementara rendemen tetes yang menjadi hak pabrik meningkat. Padahal tetes masih memiliki nilai ekonomis cukup tinggi. Faktor ini sedikit banyak juga membuat produktivitas petani tebu di Indonesia terus merosot. (R) # # #

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s