PELUANG BUDI DAYA GANDUM TROPIS

Dalam beberapa bulan terakhir ini, harga tepung terigu (tepung gandum), naik terus. Bulan September tahun lalu, harga eceran tepung terigu kualitas sedang  Rp  3.500,- per kg. Bulan September tahun ini, harga tepung terigu kualitas sama sudah mencapai Rp 4.500,-  per kg. Kenaikan dalam waktu setahun, mencapai  Rp 1.000,- atau 28,5%. Kenaikan harga terigu kualitas tinggi dari Rp 3.942,- menjadi Rp 4.674,- atau Rp 732,- justru hanya 18,5%. Yang mengalami kenaikan paling tinggi malahan terigu kualitas rendah. Kalau tahun lalu per kg Rp 2.943,- maka tahun ini menjadi Rp   4.136,- Berarti ada kenaikan Rp 1.193,- atau 40,5%.

Terigu kualitas rendah, yang akan dikonsumsi oleh masyarakat kelas bawah berupa roti dan mi, persentase kenaikannya justru dua kali lipat dari terigu kualitas tinggi, untuk masyarakat atas. Hal ini lebih memprihatinkan lagi, karena seluruh tepung terigu yang kita konsumsi merupakan produk impor. Dan impor gandum kita, dari tahun ke tahun terus mengalami kenaikan. Dari tahun 2000, sampai dengan 2004, impor gandum kita masih 4 juta ton. Sejak tahun 2005, volume impor melonjak menjadi 5 juta ton, dengan nilai Rp 7,2 trilyun. Pertanyaan kita adalah, apakah negara tropis seperti Indonesia tidak bisa membudidayakan gandum?

Sebab Jepang dan RRC yang beriklim sub tropis, bisa membudidayakan padi. Pertanyaan yang lebih spesifik lagi adalah, adakah varietas gandum tropis? Sebab padi yang dibudidayakan di Jepang dan RRC (Oryza sativa var. japonica) adalah padi varietas sub tropis. Sementara padi kita (Oryza sativa var. indica/javanica) adalah padi varietas tropis. India, dan Meksiko, sudah sejak lama berhasil menciptakan gandum tropis, dan juga membudidayakannya dalam skala komersial. Indonesia, telah mengintroduksi benih gandum tropis ini, dan juga mengembangkan varietas nasional. Namun sampai sekarang belum membudidayakannya secara komersial.

# # #

Yang saat ini paling banyak dibudidayakan di dunia adalah Gandum hexaploid (berkromosom enam), atau disebut sebagai gandum biasa (common wheat – Triticum aestivum). Gandum hexaploid lainnya adalah spelt (Triticum spelta) yang dibudidayakan terbatas di beberapa negara. Dua gandum hexaploid ini, merupakan keturunan gandum purba atau eikorn (Triticum monococcum), yang berkromosom dua (diploid). Sampai sekarang eikorn masih dibudidayakan di India, Pakistan, Afganistan dan Timur Tengah. Gandum genus Triticum lainnya adalah emmer (Triticum dicocon), durum (Triticum durum) dan kamut atau QK-77 (Triticum polonicum) yang semuanya tetraploid (berkromosom empat).

Emer, durum, dan eikorn adalah keturunan gandum liar Triticum dicoccoides. Gandum liar ini, merupakan hasil silangan alami antara rumput diploid Triticum urartu, dengan rumput makanan kambing Aegilops searsii atau Aegilops speltoides. Tiga spesies alami gandum diploid inilah yang kemudian dibudidayakan manusia sekitar 10.000 tahun yang lalu di Mesopotamia (sekarang Irak). Emer, durum, dan eikorn, kemudian disilangkan kembali dengan rumput diploid (Aegilops tauschii) untuk menciptakan gandum berkromosom enam (hexaploid). Selain gandum triticum yang disebut wheat, ada pula gandum barley (Hordeum vulgare, Hordeum distichum dan Hordeum tetrastichum),  Oat (Avena sativa) dan Rye (Secale cereale).

Budi daya barley, oat dan rye, tidak seluas gandun biasa. Pemanfaatan tiga genus gandum ini, paling banyak untuk bir, wisky dan pakan ternak. Meskipun sebagian hasil juga dimanfaatkan untuk bahan roti. Semua jenis gandum ini merupakan tanaman gurun dan  sub tropis. Namun India, dan Meksiko, sudah sejak lama membudidayakan gandum tropis. India menggeser areal budi daya gandum mereka dari sebelah utara garis balik utara (23°30′ LU), yang merupakan kawasan sub tropis; ke sebelah selatan yang merupakan kawasan tropis. Meksiko yang juga dilewati garis balik utara, juga melakukan hal sama, hingga dua negara ini berhasil menciptakan varietas gandum tropis.

Yang juga berpotensi menciptakan gandum tropis adalah Brasil di Amerika Selatan, dan Mozambik di Afrika Selatan. Sebab dua negara ini dilalui oleh garis balik selatan. Indonesia sudah sejak jaman Belanda mengintroduksi gandum. Namun gandum yang diintroduksi oleh Belanda adalah gandum sub tropis. Baru setelah kemerdekaan, kita mulai mengintroduksi gandum tropis dari India (Punjab-81, WL-2265, SA-75);  Pakistan (Pavon-76, Soghat-90, Kiran-95, WL-711); RRC (F-44,Yuan-039,Yuan-1045);  dan Meksiko (DWR-162, DWR-195). Melalui berbagai ujicoba oleh Departemen Pertanian, kita sendiri juga sudah punya varietas unggulan nasional, yakni Nias, Dewata.

# # #

Badan Tenaga Nuklir Nasional juga sudah mengembangkan beberapa varietas gandum tropis. Antara lain adalah CPN-01 (galur harapan), CPN-02 (galur harapan),  CBD-16 (mutan baru, M4), CBD-17 (mutan baru, M4), CBD-18 (mutan baru, M4), CBD-19 (mutan baru, M4), CBD-20 (mutan baru, M4), CBD-21 (mutan baru, M4), CBD-23 (mutan baru, M4). Gandum-gandum tropis ini pernah diujicoba di beberapa kawasan Indonesia. Antara lain di Cipanas, dan Kuningan, Jabar, Kopeng, Jateng, Ruteng (Flores, NTT), dan beberapa kawasan lain yang rata-rata berketinggian 800 m. dpl. Namun sampai sekarang, belum ada upaya yang menyeluruh untuk mengembangkan gandum di satu tempat secara lengkap dari hulu sampai ke hilir.

Karena berasal dari kawasan sub tropis di sebelah utara garis balik utara, maka kawasan Indonesia yang berpotensi mengembangkan gandum, hanya yang berketinggian di atas 800 m. dpl. Namun tidak semua dataran tinggi Indonesia berpotensi bagi budi daya gandum. Sebab sebagai tumbuhan dengan habitat asli kawasan sub tropis yang kering, maka gandum juga menghendaki kelembapan udara rendah. Kawasan dataran tinggi di Indonesia yang cocok untuk pengembangan gandum adalah Sulawesi, Khususnya Sulawesi Tenggara, Jawa Timur, Bali, NTB, dan NTT. Hingga sebenarnya areal yang berpotensi bagi penanaman gandum di Indonesia, sangat terbatas.

Kawasan kering tersebut, justru punya kelebihan untuk budi daya gandum, sebab beda dengan padi, komoditas ini dibudidayakan di lahan kering seperti halnya jagung. Hingga introduksi gandum ke petani jagung, relatif lebih mudah dilakukan. Namun pemerintah harus membuat program secara menyeluruh, sampai dengan upaya penepungan secara sederhana, dan standardisasi produk akhir. Hanya dengan cara seperti ini, Indonesia bisa sedikit demi sedikit melepaskan diri dari belitan impor gandum. Selain dengan upaya budi daya gandum sendiri, cara untuk mengurangi ketergantungan adalah dengan memanfaatkan tepung garut, singkong, dan karbohidrat lainnya sebagai substitusi. (R) # # #

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s