KEDELAI HITAM BARU

Bulan September yang lalu, Menteri Pertanian RI, Anton Apriantono, melalui Dirjen Tanaman Pangan, Sutarto Alimoeso, telah melepas kedelai hitam varietas baru, bernama Mallika. Ini merupakan hasil pemuliaan para peneliti dari Fakultas Pertanian, Universitas Gajah Mada, Yogyakarta. Kedelai hitam adalah varietas kedelai, yang penggunaannya hanya terbatas untuk bahan baku kecap. Di dunia ini, diperkirakan ada sekitar 200 varietas kedelai budi daya. Selain kedelai hitam, dikenal pula kedelai kuning, kekuningan, putih kekuningan, abu-abu, cokelat, kecokelatan, hitam, dan kehitaman.

Karena pemanfaatannya hanya sebatas untuk kecap, maka budi daya kedelai hitam juga sangat terbatas, hanya untuk memasok industri kecap. Varietas kedelai hitam lain adalah KDL H1 yang selama ini sudah banyak dibudidayakan oleh petani kita. Varietas kedelai hitam yang dibudidayakan di Jepang adalah Black Jet, dan Hokkaido Black. Sementara RRC, punya varietas kedelai hitam Tainan 3. Dalam merilis kedelai hitam, Mallika, Dirjen Tanaman Pangan menyebutkan, bahwa varietas baru ini diharapkan dapat meningkatkan hasil kedelai kita dari rata-rata 1,3 ton per hektar, menjadi sekitar 3 ton per hektar.

Selama ini Asia Timur dan Asia Tenggara, banyak memerlukan kedelai hitam untuk industri kecap. Sebab masakan di Asia Timur dan Asia Tenggara, memang banyak yang menggunakan kecap sebagai bumbunya. Kecap adalah saus masakan, yang terbuat dari kedelai hitam, gula merah, dan bumbu-bumbu lainnya, mulai dari salam, lengkuas, daun jeruk purut, sereh, ragi tempe, dan garam. Kecap harus berbahan baku kedelai hitam, karena kedelai kuning, abu-abu, atau cokelat, akan menghasilkan kecap dengan warna terang, bukan warna gelap seperti kecap kedelai hitam yang sudah terlanjur dikenal masyarakat selama ini.

# # #

Kalau kedelai kuning, abu-abu, dan cokelat tidak lazim menjadi bahan kecap, sebaliknya kedelai hitam juga tidak biasa dijadikan bahan tahu atau tempe. Dua poduk makanan yang paling populer di Indonesia. Sebenarnya, perbedaan kedelai hitam dan kedelai kuning/putih, hanya terletak pada warna kulit bijinya. Sementara biji kedelainya sendiri tetap sama, yakni berwarna kekuningan. Namun warna kulit biji ini akan sangat berpengaruh pada produk yang dihasilkan. Tahu dan tempe berbahan baku kedelai hitam, juga akan berwarna kehitaman, hingga tidak akan disukai oleh konsumen. Kalau kulit kedelai ini bisa dibuang (disosoh) 100%, biji kedelai hitam dan kuning sulit untuk dibedakan.

Budi daya kedelai hitam, juga sama dengan kedelai kuning. Biji kedelai hanya bisa bertahan (masa dorman) paling tinggi selama tiga bulan, setelah terlepas dari polongnya. Hingga biji kedelai yang baru saja dipanen, paling lama hanya bisa disimpan untuk jangka waktu tiga bulan saja. Selanjutnya, daya kecambah kedelai akan menurun. Para petani menyiasati pengadaan benih kedelai ini, dengan cara menanamnya pada pematang sawah ketika mereka menanam padi pada musim rendengan. Hasil panen kedelai dari pematang sawah inilah, yang kemudian digunakannya sebagai benih pada musim tanam kedelai berikutnya. Hasil panen dari budi daya kedelai musim kemarau ini, kembali mereka simpan, untuk dijadikan benih pada musim berikutnya. Hingga pada lahan tadah hujan yang hanya bisa ditanami padi dan palawija dua kali setahun pun, petani bisa tetap punya benih kedelai.

Kedelai hitam maupun kuning, sama-sama hanya bisa dibudidayakan di lahan sawah, pada musim kemarau. Lahan sawah ini juga harus sudah pernah ditanami kedelai sebelumnya. Lahan yang sama sekali belum ditanami kedelai, harus terlebih dahulu diberi (diinokulasi) benih bakteri Rhizobium. Bakteri ini akan bersimbiosis dengan akar kedelai, untuk menyimpan nitrogen yang ditangkap oleh daun secara langsung dari udara. Hingga sawah yang pada musim kemaraunya ditanami kedelai, pada musim penghujan akan menjadi lebih subur untuk budi daya padi. Sebab bintil akar kedelai yang terinveksi bakteri Rhizobium itu, menyimpan cukup banyak nitrogen yang mampu menyuburkan lahan sawah.

# # #

Harapan Dirjen Tanaman Pangan, agar kedelai hitam Mallika mampu berproduksi rata-rata tiga ton per hektar per musim tanam, sebenarnya sangat sulit untuk diwujudkan oleh petani. Sebab tingkat produksi kedelai nasional kita, masih sebatas 1,3 ton per hektar per musim tanam. Kalau angka ini akan ditingkatkan, maka paling tinggi hanyalah sebesar dua ton per hektar per musim tanam. Hasil kedelai di AS dan RRC yang bisa mencapai 4 ton per hektar per musim tanam, terutama disebabkan oleh faktor cahaya matahari. Di kawasan sub tropis, pada musim panas matahari akan bersinar sampai 17 jam sehari. Hingga fotosintesis kedelai akan berlangsung optimal.

Di negeri tropis seperti Indonesia, panas matahari paling panjang hanyalah 12 jam. Itupun masih sering terhadang oleh mendung pada musim penghujan. Pada musim kemarau, ketika tidak ada mendung, panjang hari justru kurang dari 12 jam. Hingga fotosintesis kedelai tidak pernah berlangsung sempurna di kawasan tropis. Kendala ini bisa kita atasi dengan perluasan areal tanam, di lahan sawah pada musim kemarau, dengan pengairan intensif. Pengairan dari saluran irigasi teknis, umumnya akan terhenti justru pada musim kemarau. Hingga alternatifnya adalah, memanfaatkkan air sungai yang diangkat dengan pompa sedot, atau menggunakan sumur dalam.

Pola budi daya di lahan sawah adalah, pada musim penghujan, petani akan bertanam padi, kalau hujan turun pada bulan Oktober, maka musim tanam akan jatuh pada bulan November, dan panen terjadi pada bulan  Februari. Selama itulah petani bisa menanam kedelai di pematang sawah sebagai benih. Benih ini akan kembali ditanam di pematang sawah, pada penanaman padi gadu antara Maret sd. Mei. Lahan sawah bekas panen padi ini tidak perlu diolah lagi, dan langsung ditugal untuk ditanami kedelai. Pada bulan Agustus, kedelai sudah bisa dipanen. Antara Agustus sd. Oktober, lahan masih bisa ditanami jagung atau ubijalar. Hingga petani bisa panen padi 2 X dan palawija 2 X. Salah satu hasil panennya adalah kedelai. Bisa kedelai hitam, bisa pula kedelai biasa. (R) # # #

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s