PENCURIAN GELOMBANG CINTA

Gelombang Cinta adalah nama salah satu hibrida anthurium daun (Bird Nest Anthurium). Sejak tahun 2006 yang lalu, tanaman hias pot ini memang sudah naik daun. Anthurium telah menggeser popularitas aglaonema, yang sekitar lima tahun terakhir mendominasi pasar tanaman hias nasional. Booming salah satu komoditas tanaman hias di Indonesia tidak pernah rasional. Dua tahun lalu, anthurium gelombang cinta hanyalah tanaman hias biasa. Karena tidak bernilai sama sekali, maka gelombang cinta dimanfaatkan sebagai daun potong.

Daun potong adalah istilah para floris (perangkai bunga), untuk mewadahi pengertian daun-daunan (hijauan), yang digunakan sebagai bahan rangkaian bunga, bersamaan dengan bunga potong. Tanaman hias yang secara konvensional dimanfaatkan sebagai daun potong adalah asparagus. Namun sejak tiga dekade terakhir, berbagai daun tanaman hias ikut menjadi rangkaian bunga potong. Antara lain scindapsus, filo, paku-pakuan, daun dolar, dan lain-lain termasuk gelombang cinta.

Tanaman hias yang dimanfaatkan sebagai daun potong, akan diproduksi massal, hingga harganya menjadi sangat murah. Termasuk beberapa spesies dan hibrida anthurium daun. Namun sejak tahun lalu, anthurium daun menjadi populer. Kalau sebelumnya harga tanaman hias ini paling tinggi hanya sebatas jutaan rupiah per pot, maka tiba-tiba harganya merayap naik. Mulai dari puluhan juta hingga di atas seratus juta rupiah. Para pedagang dan kolektor tanaman hias seperti kalap, dalam memborong anthurium daun.

# # #

Sejak tahun 2005, sebenarnya para pelaku bisnis tanaman hias sudah merancang program untuk mengorbitkan beberapa jenis komoditas. Hal ini mereka lalukan, karena mereka sadar, suatu ketika popularitas aglaonema akan surut juga. Ternyata sampai dengan pertengahan 2006, posisi aglaonema masih tetap tangguh. Puncaknya adalah lelang Herlequeen, yang mencapai harga Rp 760 juta rupiah. Bulan Agustus tahun ini, Harlequeen sudah diproduksi massal, hingga satu pot dengan lima daun sudah bisa dibeli dengan harga antara Rp 5 sampai dengan 6 juta.

Beberapa jenis tanaman hias yang dicoba untuk diorbitkan oleh para pelaku tanaman hias adalah caladium, sansiveira, puring, alocasia, dan nephentes. Namun tanaman-tanaman tersebut tidak terlalu kuat untuk menggeser dominasi aglaonema. Sansiveira, sebenarnya bahkan telah mulai diorbitkan oleh para pelaku tanaman hias sejak tahun 2002, bersamaan dengan mulai tampilnya aglaonema. Pada tahun itu, pasar tanaman hias nasional masih didominasi oleh adenium dan euphorbia. Namun tahun 2000 sampai dengan 2002, dunia hobi di Indonesia sedang dihebohkan oleh fenomena ikan louhan.

Caladium, sansiveira, puring, alocasia, dan nephentes, masing-masing mempunyai keterbatasan untuk diblowup menjadi tanaman hias favorit. Caladium dan alocasia punya kelemahan, karena faktor dorman (istirahat). Pada periode dorman, caladium dan alocasia tidak mengeluarkan daun. Sansiveira sulit untuk digemari pehobi tanaman hias, karena daunnya yang kaku, dan pola warnanya yang terbatas. Sementara karakter nephentes memang cenderung menjadi tanaman hias yang digemari secara sangat fanatik oleh sekelompok orang, hingga sulit untuk dimassalkan.

Anthurium daun, sebenarnya juga punya kelemahan karena sama sekali tidak punya variasi warna daun. Kecuali yang mengalami penyimpangan hingga menjadi variegata. Namun variasi bentuk anthurium sangat beragam. Mulai dari yang mirip caladium, filo, sampai ke kadaka (asplenium). Kelebihan anthurium daun adalah, tanamannya termasuk daunnya, sangat keras dan kaku. Hingga tanaman ini tahan berada di ruang AC selama beberapa hari tanpa mengalami kerusakan yang berarti. Ukuran anthurium daun juga bisa meraksasa.

# # #

Dengan karakter anthurium daun yang kekar, berwarna hijau, dan berpenampilan  gagah, tanaman hias ini berpeluang untuk menghias bangunan rumah atau gedung dengan ruang yang sangat besar. Diameter tanaman anthurium (dari ujung daun ke ujung daun terpanjang), bisa mencapai lebih dari 2 m. Karena potensinya sebagai penghias bangunan berukuran besar, maka nilai anthurium daun yang sudah berbentuk, bisa  mencapai harga sangat tinggi. Namun pada saat masih booming aglaonema, harga anthurium daun masih sebatas jutaan, paling tinggi puluhan juta rupiah.

Meskipun sudah mulai naik daun tahun lalu, booming anthurium daun, khususnya gelombang cinta, baru terjadi belakangan ini. Dengan iming-iming harga sampai ratusan juta rupiah, maka pencurian pun menjadi marak. Pencuri anthurium daun tidak hanya sebatas di rumah-rumah, melainkan juga di nursery, bahkan di lokasi pameran, dan bursa tanaman. Di Taman Anggrek Indonesia Permai, beberapa stand telah kecurian anthurium. Demikian pula di beberapa event pameran, gelombang cinta telah menjadi incaran pencuri.

Dua spesies andalan anthurium, yakni Anthurium jenmanii dan Anthurium hookerii, sebenarnya telah didiskripsi keberadaannya di Amerika Latin pada tahun 1905. Namun pada tahun-tahun itu, yang naik daun di Indonesia (Hindia Belanda), justru anthurium kuping gajah. Jenmanii dan Hookerii, ketika itu dianggap sebagai tanaman hias yang tidak ada nilai estetiknya. Sekarang, kuping gajah justru menjadi tanaman rakyat yang sama sekali tidak ada nilainya, dibandingkan dengan jenmanii dan hokerii, berikut aneka silangannya. Termasuk gelombang cinta yang sekarang menjadi incaran pencuri.  (R) # # #

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s