PEMANFAATAN BIOMASSA DAN BIOGAS

Rencana pemerintah untuk mengganti minyak tanah dengan gas alam, telah menimbulkan gejolak di masyarakat. Sebab pelaksanaan program tersebut dinilai oleh banyak kalangan terlalu tergesa-gesa. Hingga kompor serta tabung gas diproduksi dengan tergesa-gesa, dan kualitasnya layak diragukan. Sebenarnya, apabila minyak tanah memang akan dihapus, sebagian besar masyarakat lapis bawah, masih lebih familier untuk kembali ke kayu bakar. Namun ketersediaan kayu bakar sendiri, sekarang juga semakin menipis. Sebab kayu albisia misalnya, sekarang merupakan produk bernilai tinggi untuk diekspor ke Jepang.

Produk yang diekspor ke Jepang, sebenarnya hanyalah kayunya. Sementara kulit kayu, cabang, ranting dan daunnya, akan terbuang sia-sia dan lapuk. Di beberapa lokasi penggergajian kayu untuk bahan peti dan matras, serbuk gergajinya juga menggunung, tanpa pernah dimanfaatkan. Demikian pula halnya dengan jerami dan sekam padi, yang selama ini lebih banyak dibakar tanpa manfaat. Padahal semua limbah kayu dan sisa produksi pertanian tersebut, merupakan biomassa yang masih menyimpan energi. Ketika petani membakar jerami padi di sawah, sebenarnya mereka sedang membuang energi (panas) secara sia-sia.

Yang menjadi masalah, petani tidak mampu memanfaatkan energi biomassa tersebut secara efektif dan efisien. Biomassa, bisa langsung dibakar secara massal, dalam sebuah tanur besar untuk memanaskan air, guna menghasilkan uap untuk memutar turbin serta dinamo pembangkit listrik. Namun untuk memanaskan air dalam tungku, masyarakat memerlukan teknologi sederhana yang tepat guna. Paling sedikit, biomassa itu harus terlebih dahulu dipadatkan hingga berbentuk kotak. Jerami gandum dan batang jagung di negeri empat musim, selalu dipadatkan berupa kubus, untuk disimpan di gudang sebagai cadangan pakan ternak maupun energi pemanas ruangan.

# # #

Selain dibakar langsung sebagai penghasil energi, biomassa juga bisa dibakar menjadi arang, baru kemudian dipadatkan sebagai briket. Briket inilah yang kemudian dibakar sebagai penghasil energi. Untuk menghasilkan briket berbahan biomassa, diperlukan industri (pabrik) tersendiri. Dan pabrik ini memerlukan konsumen sebagai penyerap produk yang dihasilkan, serta pasokan bahan baku secara kontinu. Proses pembuatan briket biomassa, sebenarnya cukup sederhana, yakni dengan membakar limbah kayu serta limbah pertanian, hanya sampai menjadi arang hitam. Bukan menjadi abu putih.

Arang ini selanjutnya dicampur dengan perekat dan dipadatkan (dicetak), lalu dijemur. Biomassa atau produk limbah organik apa pun, sebenarnya bisa diolah menjadi briket arang. Namun limbah kayu keras, akan menghasilkan briket dengan kualitas lebih baik dibandingkan dengan limbah serealia. Kelebihan briket arang limbah kayu dan pertanian adalah, tidak menghasilkan asap, sebab panas hanya dihasilkan oleh bara api. Kelemahannya, sebagian besar dari energi biomassa itu hilang pada waktu proses pemanasan menjadi arang. Hingga pembakaran biomassa secara langsung sebenarnya lebih dianjurkan.

Contoh pembakaran biomassa secara langsung adalah pabrik tebu dan CPO (minyak sawit). Proses pemanasan air batang tebu menjadi gula, dilakukan dalam tanur dengan bahan bakar ampas tebu. Pada pabrik CPO, limbah sawit berupa sabut dan tempurung dibakar untuk memanaskan air, guna menghasilkan listrik. Hanya sebagian kecil dari limbah itu, yang dibakar untuk menghasilkan listrik. Namun listrik yang dihasilkan cukup untuk energi pabrik, termasuk penerangan di lingkungan perumahan kompleks kebun. Hingga apabila seluruh limbah dibakar habis, maka hasilnya akan mampu menyuplai listrik bagi perumahan di luar perkebunan.

# # #

Selain dengan dibakar langsung dan dijadikan briket, biomassa juga bisa diproses menjadi biogas. Syarat utama agar biomassa bisa diubah menjadi biogas adalah, biomassa tersebut mengalami proses penguraian. Tanpa proses penguraian, biogas tidak akan terbentuk. Penguraian biomassa dilakukan oleh kapang atau bakteri. Pertama-tama oleh bakteri aerob, baru kemudian oleh bakteri anaerob. Bakteri anaerob diperlukan, sebab pemanenan biogas akan lebih mudah dilakukan, apabila biomassa terendam seluruhnya dalam air. Proses penguraian biomassa menjadi bahan yang siap menghasilkan biogas, disebut pengomposan.

Gas yang keluar dari air itu, selanjutnya ditahan oleh kerudung plastik, untuk dialirkan ke tabung penampung. Tabung penampung juga hanya terbuat dari kantung plastik berdiameter 1,5 m. dengan panjang disesuaikan keperluan. Dari tabung penampungan ini, gas dialirkan ke kompor melalui selang biasa. Selain untuk memasak, biogas juga bisa dimanfaatkan untuk penerangan, dengan menggunakan lampu pompa. Gas akan memijarkan kaus lampu, hingga menghasilkan penerangan. Pemanfaatan limbah peternakan menjadi biogas, sudah dilakukan oleh masyarakat di sentra sapi perah, di Pangalengan, Jawa Barat.

Dengan pemanfaatan biomassa dan biogas, sebenarnya pemerintah bukan hanya sekadar bisa meredam gejolak penolakan masyarakat, melainkan juga melakukan penghematan energi. Sebab biomassa dan biogas adalah energi yang tergantikan (terbarui). Dan ketersediaan biomassa bisa dikatakan tanpa batas. Kalau selama ini biomassa terbuang sia-sia, maka produk tersebut akan menjadi bernilai sebagai energi. Kalau penanganan energi fosil memerlukan teknologi tinggi, maka penanganan biomassa memerlukan teknologi padat karya. Hingga penanganan biomassa sebagai energi juga akan menyerap banyak tenaga kerja. (R) # # #

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s