MENYIASATI FLU BABI

Saya peternak  babi di Bantul DIY, dengan 10 induk. Sejak adanya flu babi, orang jadi takut. Harga babi hidup juga jatuh dari Rp 14.000 menjadi Rp 8.000 per kg, sementara biayanya tetap. Bagaimana solusinya? (P. Rumiyanto)

Sdr. Rumiyanto, flu (influenza) akibat virus H1N1, sebenarnya tidak tepat disebut flu babi. Sebab selama ini flu H1N1, lebih banyak menyerang manusia (human influenza), dan hanya ada beberapa kasus pada unggas (avian influenza) serta babi (swine influenza). Virus H1N1 dikategorikan sub tipe A, yang  sekaligus memuat protein hemagglutinin (H) dan neuraminidase (N). Ada 16 sub tipe virus H, dan 9 sub tipe virus N, yang berjangkit pada unggas. Sub tipe virus yang menyerang manusia, hanya H1, 2, dan 3; serta N 1 dan 2. Virus tipe A, H1N1, dikenal bisa berjangkit pada manusia, unggas, dan mamalia termasuk babi, dan terdiri dari beberapa strain.

Sejak Juni 2009, badan kesehatan dunia World Health Organization (WHO), telah mendeklarasikan bahwa influenza akibat virus H1N1, telah menjadi pandemik. Masyarakat dunia pun panik. Termasuk Anda sebagai peternak babi. Padahal proses penularan virus H1N1 pada kasus “flu babi” di Indonesia, selalu terjadi dari manusia ke manusia. Hingga sebenarnya, orang tidak perlu takut pada babi, termasuk mengonsumsi dagingnya. Beda dengan kasus flu burung (H5N1), yang awal penularannya terjadi dari unggas ke manusia.

Tetapi kepanikan massa, memang sulit untuk diredam dengan cara apa pun. Bahkan media massa, juga masih menggunakan istilah flu babi, untuk menyebut influenza akibat virus H1N1, yang sebenarnya tidak tepat. Dampaknya, Anda sebagai peternak babi menjadi korban. Kasus seperti yang Anda alami, sebenarnya umum terjadi pada bisnis peternakan apa pun. Ketika kasus flu burung H5N1 merebak, para pengusaha perunggasan banyak yang bangkrut, dan alih profesi. Namun tetap saja ada yang bisa bertahan sampai sekarang.

Solusi yang dijalankan oleh para peternak unggas ketika kasus flu burung merebak, adalah dengan berhenti sementara, dan melakukan sanitasi lokasi kandang. Kemudian melanjutkan usahanya lagi. Resikonya, mereka menderita kerugian, mulai hanya jutaan rupiah, sampai milyaran. Dalam kehidupan, resiko memang harus selalu diperhitungkan, dan apabila benar-benar terjadi, kita siap menghadapinya. Dalam kasus flu H1N1, para peternak babi bisa mengambil beberapa langkah, untuk mengantisipasi agar kerugian tidak menjadi semakin besar.

Pertama, dilakukan sanitasi lokasi kandang, sekaligus pengetatan standar serta prosedur kerja. Misalnya selama berada di kandang, pekerja harus memakai sepatu boot, sarung tangan, dan masker. Kualitas pakan juga harus lebih dijaga, agar babi selalu sehat. Kedua, diusahakan mencari dana talangan (pinjaman), untuk menanggulangi cash flow. Setelah dana talangan diperoleh dengan jaminan babi itu sendiri, Anda bisa bertahan dengan tetap memelihara ternak, tanpa buru-buru menjualnya, sambil terus menunggu harga kembali membaik.

Tidak ada seorang ahli pun, yang bisa meramal dengan tepat, kapan pandemik flu H1N1 akan mencapai puncaknya, dan kemudian mereda. Berdasarkan wabah flu pernah terjadi, misalnya flu spanyol (H1N1, 1918  – 1920); flu rusia (H2N2, 1889–1890); flu asia (H3N2, 1956 – 1958); flu hongkong (H3N2, 1968 – 1969); dan flu burung (H5N1, 2004 – 2007), maka rentang waktu wabah hanya berlangsung antara satu sampai dengan empat tahun. Dampak kasus flu burung pada unggas konsumsi (ayam pedaging dan petelur), hanya berlangsung sekitar 2 tahun. Tetapi terhadap unggas hias (perkutut, burung ocehan), masih terus berlanjut sampai sekarang.

Tahun 2005 adalah puncak pandemik flu burung. Para peternak ayam pedaging dan petelur, langsung menjual ayam mereka, kemudian berhenti berproduksi. Dampaknya, terjadi kelangkaan telur dan daging, hingga harga kembali stabil. Sejak itu, usaha pemeliharaan lele, dan konsumsi daging itik (restoran bebek goreng) tumbuh dengan pesat. Fenomena pertumbuhan konsumsi lele, dan daging itik, terus berlangsung sampai sekarang, meskipun agroindustri ayam pedaging, dan petelur sudah kembali normal.

Alternatif terburuk yang bisa Anda lakukan dalam mengantisipasi keadaan adalah, segera menjual seluruh induk babi itu, menutup usaha Anda, dan menggantinya dengan usaha lain. Langkah ini pun juga mengandung resiko, sebab Anda sudah terbiasa dengan irama beternak babi, dengan relasi yang juga sudah terjalin secara spesifik. Kalau Anda beralih usaha, berarti semua harus dimulai dari nol lagi. Hingga alternatif mencari dana talangan, memang paling tepat. Paling tidak, Anda bisa sementara menyusutkan usaha, sambil terus bertahan sampai keadaan kembali normal. ***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s