TRANSPORTASI PRODUK AGRO

Belakangan ini terjadi permasalahan transportasi pada penyeberangan (feri) Merak – Bakauhuni. Rute penyeberangan ini sangat vital, karena menghubungkan dua pulau penting di Indonesia, yakni Jawa dengan Sumatera. Terhambatnya jalur penyeberangan Merak – Bakauhuni, telah mengakibatkan produk agro, terutama produk segar, terpaksa harus dibuang karena membusuk. Meskipun kasus ini semata-mata urusan departemen teknis yang menangani transportasi, namun sektor agro juga ikut terkena imbasnya. Untuk itu, harus mulai dipikirkan alternatif penanganan, agar produk agro segar dari dan ke Sumatera bisa tersalurkan dengan lancar.

Sebenarnya, produk segar dari Sumatera, tidak hanya dikapalkan ke Jawa, melainkan juga diekspor ke luar negeri. Nusantara Tropical Fruit (NTF) misalnya, mengekspor pisang segar ke luar negeri, melalui pelabuhan Panjang. Produk segar ini memerlukan pengemasan khusus, dan juga pengaturan suhu selama dalam perjalanan. Dengan pengemasan khusus yang hampa udara (atau pemberian CO2), serta dengan pengaturan suhu cold storage pada 14° C, maka pisang segar itu bisa dipertahankan tingkat kesegarannya sampai dengan satu bulan. Penanganan seperti ini, juga bisa diterapkan untuk komoditas sayuran serta buah-buahan lain.

Produk-produk agro yang mutlak harus diangkut segar selain sayuran dan buah-buahan adalah bunga, tanaman hias, dan ikan serta produk perikanan lainnya. Produk-produk agro ini memang bisa diawetkan, kemudian dipasarkan dalam bentuk awetannya. Namun produk segarnya tetap diperlukan oleh pasar, dalam volume yang juga cukup besar. Produk agro segar ini, memerlukan penanganan yang cepat, hingga bisa sampai ke tangan konsumen dalam keadaan sebaik mungkin. Beberapa komoditas seperti lobster, bahkan harus didisplai di restoran dalam keadaan hidup. Biaya transportasi inilah yang akan dibayar tinggi oleh konsumen.

# # #

Sarana transportasi terdiri dari darat, laut, dan udara. Sarana transportasi darat, terdiri dari mobil (truk), dan kereta api. Produk agro yang awet dan toleran terhadap waktu pengiriman, misalnya beras, gandum, dan jagung, dikirim melalui kapal laut. Bahkan produk segar seperti pisang pun, tetap bisa dikirim secara massal dengan  kargo kapal laut, setelah melalui penanganan khusus. Bahkan ikan dan daging segar pun, setelah dibekukan bisa dikirim dengan kapal laut. Selama ini, biaya pengiriman produk agro dari Sumatera ke Jawa atau sebaliknya, tidak pernah dilakukan secara massal melalui kargo kapal laut.

Pengiriman melalui kargo udara, diperlukan untuk komoditas yang perlu cepat sekali sampai ke konsumen dalam keadaan segar, volumenya tidak besar, dan harganya relatif tinggi. Thailand, mengirim durian segar melalui kargo laut, namun mengirim leci ke Eropa dan Kanada dengan kargo udara. Sebab leci perlu lebih cepat sampai ke konsumen, volumenya tidak besar dan harganya relatif lebih tinggi dibanding durian. Produk bunga dan sayuran dengan nilai cukup tinggi, juga dikirim melalui kargo udara. Di Indonesia, buah-buahan dengan harga tinggi dan volume terbatas, juga dikirim melalui kargo udara.

Pengangkutan melalui transportasi darat, sebenarnya hanya diperlukan untuk membawa produk pertanian dalam jarak pendek. Misalnya dari kebun ke pelabuhan laut atau udara. Kemudian dari pelabuhan ke gudang penyimpanan sementara, sebelum digerai di pengecer. Kecuali di RRC, AS, dan juga di Benua Afrika, yang kawasannya hanya bisa dilayani oleh transportasi darat serta udara. Di sini, transportasi sungai serta kendaraan darat menjadi sangat penting. Sebab transportasi laut secara massal memang tidak dimungkinkan, sementara transportasi udara bisa menjadi terlalu mahal.

# # #

Produk agro segar pun, sebenarnya juga menuntut penanganan yang berbeda-beda, sebelum diangkut dari lokasi produksi, ke gudang, pelabuhan laut/udara, atau ke gerai pengecer. Bahkan sama-sama produk bunga, buah atau sayuran pun, tetap memerlukan penanganan yang berlain-lainan. Sayuran buah (tomat, cabai, terong), umbi (kentang, wortel, bawang), polong (buncis, kacang panjang),  dan daun (kol, caisim, seledri, bawang daun); harus ditangani dengan cara berlain-lainan satu sama lain, agar bisa tetap dalam kondisi segar ketika tiba di tangan konsumen. Penanganan yang berlain-lainan ini, sekaligus juga menuntut packing dan transportasi yang berlainan pula.

Di Indonesia, pengangkutan bermacam-macam sayuran tersebut, masih dilakukan dengan satu cara, dalam satu sarana transportasi. Misalnya, pickup dari kawasan Puncak, Jawa Barat, mengangkut kol, wortel, daun bawang, seledri, dan lain-lain mejadi satu, dengan packing yang kuranglebih sama. Tomat, kentang, brokoli, dan cabai besar, juga dipacking dan diangkut dengan kendaraan yang sama. Hingga salah satu dari jenis sayuran yang paling lemah, akan mengalami tingkat kerusakan paling tinggi. Daun bawang dan seledri, akan kalah kalau ditindih tomat. Sebaliknya tomat juga akan rusak kalau diadu dengan wortel dan kentang.

Maraknya perusahaan ritil raksasa bermerk asing, mestinya ikut memacu transportasi produk pertanian segar dengan rantai pendingin. Hingga mulai dari kebun, selama dalam perjalanan, selama di pasar swalayan, dan selama disimpan di rumah konsumen, buah dan sayuran selalu berada dalam kondisi khusus. Selama ini, pendinginan sayuran dan buah misalnya, hanya dilakukan selama di pasar swalayan, dan di rumah konsumen (dalam kulkas). Sementara selama dalam perjalanan dari kebun ke pasar, swalayan, sayuran dibiarkan kepanasan. Kondisi inilah yang pelan-pelan harus diubah. Termasuk transportasi dari dan ke Sumatera. (R) # # #

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s