STRATEGI MENGHADAPI KEKERINGAN

Musim kemarau telah datang, dan petani mengeluh karena tidak ada air. Waduk telah susut airnya, hingga saluran irigasi banyak yang mengering. Padahal pertanian mutlak memerlukan air. Pada musim kemarau andaikan air ada, produksi  komoditas pertanian justru akan meningkat kuantitas dan kualitasnya. Sebab intensitas sinar matahari lebih tinggi dibanding pada musim penghujan. Pertanian adalah sebuah industri, untuk mengolah nutrisi dari dalam tanah, air, dan CO2, dengan bantuan sinar matahari. Hasilnya terutama karbohidrat, dan protein. Namun yang terjadi, justru hal yang kontra produktif. Pada musim kemarau ketika sinar matahari sangat panas, air justru tidak ada.

Sebaliknya, ketika air melimpah pada musim penghujan, sinar matahari sering absen karena terhalang mendung. Hingga pertanian sebagai sebuah industri, sebenarnya harus memanfaatkan potensi alam ini dengan sebaik mungkin. Manusia tidak mungkin menyingkirkan mendung pada musim penghujan, berapa pun biaya akan dikeluarkan. Pengadaan sinar buatan untuk pertanian, juga hanya feasible untuk bunga atau komoditas lain yang dibudidayakan dalam greenhouse. Komoditas yang dibudidayakan di alam terbuka, tetap harus memanfaatkan kemurahan alam. Bahkan negara maju seperti MEE, AS, dan Jepang pun, masih belum mampu mengatasi kendala alam ini.

Namun pengadaan air irigasi untuk pertanian, di mana-mana menjadi prioritas. Termasuk di negara-negara berkembang seperti Thailand. Terlebih di negeri gurun seperti di Timur Tengah sana. Di negeri gurun, hujan bisa datang setiap tiga tahun sekali, itu pun sangat sebentar. Namun air tidak hanya berasal dari hujan, atau aliran sungai. Dulu, masyarakat gurun memang hanya tinggal di sekitar aliran sungai besar. Hingga peradapan yang tinggi selalu muncul pada bangsa-bangsa yang bermukim di lembah sungai besar. Misalnya di lembah sungai Tigris dan Euphrat di Irak sekarang, di lembah sungai Nil di Mesir, dan di lembah sungai Yordan di Israel sekarang. Peradaban itu bermunculan di sana, karena dulu, masyarakat gurun juga sangat bergantung pada air sungai.

# # #

Namun pada akhirnya masyarakat gurun itu belajar dari tumbuhan di sekeliling mereka. Mengapa kaktus tetap bisa hidup di kawasan yang ekstrim kering tersebut? Ternyata kaktus dan juga sukulen, mampu memanfaatkan air dengan sangat efisien. Daun kaktus berubah menjadi duri. Klorofil sebagai alat fotosintesis dipindahkan ke batangnya. Agar cadangan air tidak cepat menguap, batang kaktus berlapis lilin, dan kadangkala berbulu, selain berduri tajam. Karena hujan belum tentu  datang setiap tahun, dan turun sangat lebat hanya dua tiga kali, maka pada waktu itulah, jaringan akar kaktus yang mirip dengan spon itu akan menyerap air sebanyak mungkin, untuk disimpan dalam jaringan batangnya.

Namun kaktus juga masih punya cara lain untuk mencari air. Meskipun udara gurun terkenal sangat kering, namun uap air tetap masih ada. Pada malam gurun yang sangat dingin, sebagian dari uap air ini akan berubah menjadi embun. Embun itu akan menempel pada duri dan batang kaktus, dan akan meleleh ke bawah pelan-pelan. Di pangkal batang, air embun itu akan langsung diserap oleh akar, untuk disimpan pada jaringan batang. Pertanian gurun kemudian sangat memanfaatkan pelajaran dari kaktus ini. Pasir gurun yang pasti akan mudah sekali menyerap air, diberi lapisan plastik kedap air. Di atas plasik itu kemudian dihamparkan pasir dengan campuran bahan organik. Agar kelembapan mikro terjaga dengan baik, hamparan “ladang” ini perlu disungkup dengan plastik, hingga menjadi greenhouse.

Dengan cara ini masyarakat gurun bisa bertani. Air yang sangat mahal itu mereka upayakan pengadaannya dengan berbagai cara. Mulai dari mengebor sumur dalam, menampung air hujan meski hanya akan datang beberapa kali dalam dua atau tiga tahun, bahkan juga dengan memroses air laut menjadi tawar. Cara-cara itu ditempuh, sebab masyarakat gurun memang sangat menghargai air. Agak beda dengan masyarakat tropis, khususnya yang tinggal di pulau-pulau yang banyak hujannya. Etnis NTT atau masyarakat Gunung Kidul, yang kawasannya kering kerontang, jauh bisa lebih menghargai air dibanding dengan masyarakat Jawa Barat misalnya, yang diberi anugerah air berkelimpahan.

# # #

Kawasan paling kering di Indonesia adalah NTT. Namun di provinsi ini, hujan masih rutin turun setiap tahun selama sekitar tiga bulan. Kalau air yang turun selama tiga bulan itu ditampung, maka pada musim kemarau, NTT tidak perlu menderita kekeringan. Di sekitar gurun di Australia Tengah, para peternak negeri kangguru ini menampung air hujan dalam waduk buatan, yang tanahnya dilapis lumpur. Masyarakat Aborigin, menyebut waduk-waduk tampungan air yang terbentuk secara alamiah, dengan nama Bilabong. Masyarakat Gunung Kidul, DIY, juga sudah terbiasa memanfaatkan air hujan ini dalam waduk-waduk kecil yang mereka sebut embong. Para petani Thailand, menampung air hujan dalam lubang raksasa, yang mereka beri lapisan plastik kedap air.

Kalau para petani di Karawang mau membangun sumur berlapis plastik, untuk menampung air hujan, maka pada musim kemarau mereka bisa memanfaatkannya untuk menanam sayuran atau palawija. Penampungan air hujan, tetap merupakan alternatif terakhir, apabila di kawasan tersebut tidak ada sungai, dan juga tidak ada cekungan berisi air tanah. Pantai Utara Jawa, banyak dialiri sungai besar, yang pada musim kemarau tetap mengalirkan air dengan debut yang juga cukup besar. Namun air-air ini masih belum termanfaatkan secara optimal oleh para petani. Yang sudah memanfaatkan secara optimal air sungai ini, masih sangat terbatas hanya pada beberapa petani. Mereka memanfaatkan air yang disedot dengan pompa ini, tetap untuk menanam padi.

Padahal, air yang cukup mahal pada musim kemarau ini, akan lebih ideal untuk budi daya sayuran dan palawija. Selain hasilnya lebih bernilai ekonomis, tanah juga akan bisa diistirahatkan, hingga pada musim penghujan nanti hasil padi akan meningkat. Kalau di kawasan tersebut tidak ada aliran sungai, tetapi ada cekungan air tanah, maka pembangunan sumur dalam (deepwell), menjadi dimungkinkan. Biaya untuk mengebor dan membangun instalasi deepwell, nilainya kurang lebih sama dengan biaya untuk membangun tampungan air. Bedanya, tampungan air tetap memerlukan lahan yang akan digali dan diisi air. Tiga cara pengadaan air inilah, pada prinsipnya yang harus diupayakan, agar petani bisa memanfaatkan sinar matahari yang optimal, pada musim kemarau. (R) # # #

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s