NASIB PINANG YANG MENGENASKAN

Tiap tanggal 17 Agustus, selalu ada puluhan, bahkan mungkin ratusan pohon pinang yang ditebang. Batang pinang itu akan diangkut ke Jakarta dan kota-kota besar lainnya, untuk dijual ke panitia tujuhbelasan. Batang pinang itu akan diserut halus, diberi palang dan lingkaran di bagian atasnya, dan di lingkaran itu digantungkan berbagai macam barang, sebagai hadiah bagi siapa saja yang mampu memanjat dan meraihnya. Ini adalah atraksi yang katanya sudah merupakan tradisi, yang wajib dihormati. Padahal kenyataannya, tidak ada yang mewajibkan acara panjat pinang ini menggunakan batang pinang. Bisa saja acara panjat pinang ini menggunakan bambu betung, batang albisia, atau kayu-kayu lainnya.

Mengapa pinang terlalu sayang untuk ditebang hanya sekadar digunakan pada event yang hanya beberapa jam tersebut? Sebab untuk mencapai tinggi 10 meter, paling sedikit diperlukan waktu 20 tahun. Pinang adalah palm yang pertumbuhannya sangat lamban. Beda dengan bambu betung yang sejak rebung, umur tiga atau empat tahun sudah bisa ditebang. Juga albisia, untuk mencapai tinggi 10 meter dengan diameter 15 cm, cukup memerlukan waktu lima sampai enam tahun. Itulah sebabnya pohon pinang sangat sayang dikorbankan, sekedar untuk digunakan dalam jangka waktu beberapa jam saja. Memang ada panitia yang menyimpan batang pinang tersebut, untuk digunakan pada tahun-tahun berikutnya. Namun biasanya, selesai acara tujuhbelasan, batang pinang itu langsung dibuang.

Panjat pinang tiap tujuhbelasan, adalah tradisi yang sangat baik. Sebab inilah pesta rakyat yang sebenarnya, dengan biaya murah, dengan level RT/RW. Namun panjat pinang tidak harus menggunakan batang pinang. Tradisi ini sebenarnya sudah berumur ratusan tahun, dan biasa dilakukan di kampung-kampung. Ketika itu, mendapatkan batang kayu yang berukuran sedang dan lurus, paling mudah dengan menebang batang pinang. Sebab pinang masih banyak tumbuh di mana-mana. Sebenarnya, batang albisia, dan bambu betung pun, juga bisa dijadikan sarana panjat pinang, dengan kualitas yang sama, dengan kemeriahan yang sama, dan dengan harga yang jauh lebih murah.

# # #

Pinang  (betel palm, betel nut, Areca catechu), sebenarnya merupakan komoditas penting. Buah pinang muda lazim digunakan untuk makan sirih. Biji pinang tua adalah bahan baku farmasi, industri pewarna, serta penyamakan kulit. Awal tahun 1990an, Taiwan masih mengimpor biji pinang dari Indonesia. Tetapi pertengahan tahun 1990an, negeri ini sudah berhasil mengekspor biji pinang ke berbagai negara. Tradisi makan sirih dengan pinang, yang pada awalnya hanya dilakukan oleh penduduk asli Formosa, sekarang sudah menyebar ke kalangan masyarakat luas, termasuk pejabat pemerintah, pengusaha, dan selebritis, termasuk ke para remaja.

Kultur makan pinang ini kemudian didukung oleh pola perdagangan sirih pinang yang sangat canggih. Pada awalnya, sekitar tahun 1980an, pola perdagangan sirih pinang ini hanya ada di sekitar Taichung, di Taiwan Tengah. Kios-kios penjual pinang ini bermunculan di di sepanjang jalan biasa (bukan jalan tol). Namun kemudian pola ini berkembang ke Touyuan dan Taipei, di kawasan utara Taiwan. Di lokasi peristirahatan jalan tol pun, kios sirih pinang ini didirikan. Kios-kios itu hanya berukuran sekitar 3 X 4 m, namun seluruhnya berdinding kaca, dengan dilengkapi lampu warna-warni, neonsign, bahkan dengan lampu vireider yang berkelap-kelip. Penjajanya gadis-gadis muda yang berdandanan mencolok, bahkan kadang sangat kelewatan untuk ukuran Taiwan sekali pun.

Gadis-gadis pedagang pinang ini, kemudian mendapat julukan sebagai betelnut beauties, dan betelnut girls. Beberapa kalangan menuduh bahwa kegiatan ini hanyalah penyamaran dari prostitusi terselubung. Namun kalangan aktivis gender membela, bahwa tidak mungkin mereka yang berada di kios seharian masih sempat untuk menjajakan dirinya. Meskipun satu dua mungkin juga ada. Yang jelas, pinang telah menjadi komoditas penting di Taiwan. Di sentra pinang di kab. Pingtung, di ujung paling selatan Taiwan, tumbuh sekitar 70 juta pohon pinang. Tiap harinya dihasilkan sekitar  65 juta biji pinang, dengan nilai 3,7 juta dolar AS. Hingga ketika ada isu bahwa makan sirih pinang bisa mengakibatkan kanker mulut, maka para petani pinang di Pingtung protes keras.

# # #

Selain Taiwan, penghasil pinang lainnya adalah Banglades, Pakistan,  dan India. Sampai sekarang, India adalah penghasil pinang terbesar di dunia. Kalau pada tahun 1950an hasil pinang India hanya sekitar 75.000 ton, maka sekarang sudah mencapai 330.000 ton per tahun, dengan areal meliputi 290.000 hektar. Di India, pinang bukan hanya bahan makan sirih, melainkan juga pemberi aroma dan rasa pada beberapa masakan. Di antaranya pada paan masala, yakni kue dengan bumbu tepung biji pinang, daun sirih, dan juga daun mint. Paan masala bukan hanya disajikan di India, melainkan juga di restoran-restoran India di Eropa, dan Afrika, terutama di Inggris. Di Inggris, paan masala sudah diproduksi secara massal, dan dijual di food shops masakan Asia.

Selain merupakan bahan makan sirih, bumbu masakan, industri farmasi, dan kosmetik, di India pinang juga merupakan sarana ritual keagamaan. Buah pinang, daun sirih, dan kapur dianggap sebagai simbol tiga dewa utama, Brahm, Wisnu, dan Syiwa. Hingga di India, tradisi makan sirih juga merupakan ritual keagamaan. Manfaat makan sirih, secara fisik memang cukup banyak, dan jauh lebih positif dibanding merokok. Pertama, daun sirih berkhasiat antiseptik, antibiotik, dan stimulan. Pinang, atau kadangkala diganti dengan gambir, bermanfaat untuk memperkuat selaput lendir rongga mulut. Dan kapur berkhasiat menetralkan rongga mulut serta lambung dari kondisi asam yang berlebihan. Itulah sebabnya para pemakan sirih pinang, tidak pernah terserang gangguan maag.

Pinang muda yang digunakan untuk makan sirih, selain mengandung tanin, arecaine, dan arecoline, juga ada unsur alkaloidnya seperti, arecaidine, arecolidine, guracine (guacine), guvacoline dan beberapa zat lain yang belum pernah diteliti secara mendalam. Zat-zat alkaloid inilah yang berfungsi sebagai stimulan, hingga mereka yang mengkonsumsinya menjadi segar dan fit. Di Indonesia, tradisi makan sirih tinggal ada di sebagian Sumatera, sedikit di Jawa, Bali, NTB, sebagian Kalimantan, sebagian Sulawesi. Tradisi makan sirih masih sangat kuat di NTT, Maluku dan terutama Papua. Di India, tempat asal-usul makan sirih, tradisi ini tidak sefenomenal di Taiwan. Di negeri pulau ini, makan sirih telah naik martabat. Sementara di Jawa, tradisi ini nyaris punah. Sementara tiap tujuhbelasan, ratusan batang pinang bertumbangan ditebang. (R) # # #

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s