PELUANG BISNIS TANAMAN HIAS

Tahun 2007, ketika tanaman hias anthurium sedang booming, saya terlanjur memborong ampai puluhan pot. Saya juga mengoleksi banyak adenium, aglaonema dan tanaman hias lain. Apakah bisnis tanaman hias masih menarik? (Wartam, Ciputat).

Secara umum, prospek bisnis tahun 2009 tidak terlalu baik, akibat krisis finansial global sejak akhir 2008, serta Pemilu Legislatif April kemarin, dan Pilpres 8 Juli mendatang. Tanaman hias, bukan merupakan kebutuhan pokok masyarakat, terlebih masyarakat lapis bawah. Namun justru di sinilah kekuatan tanaman hias. Sebab masyarakat lapis menengah ke atas, tampak sama sekali tidak terkena dampak krisis. Indikatornya, mobil baru makin banyak di jalan raya, mall dan kafe juga selalu penuh, kamar hotel, dan tiket pesawat sudah terjual habis selama liburan Juni/Juli ini.

Pasar tanaman hias adalah masyarakat kelas menengah ke atas, yang sama sekali tidak terkena imbas krisis ekonomi. Hingga sebenarnya, prospek bisnis tanaman hias tetap ada, meskipun tidak sebaik ketika terjadi booming properti pada pertengahan tahun 1990an. “Booming” anthurium tahun 2007, sebenarnya bukan benar-benar booming. Sebab tidak pernah ada permintaan jenis tanaman hias ini dalam volume banyak. Harga anthurium sampai ratusan juta juga sangat tidak rasional. Di mana pun di dunia, tidak pernah ada tanaman hias biasa, yang harganya sampai ratusan juta.

Sdr. Wartam, bisnis tanaman hias terdiri dari empat bagian. Pertama pemulia dan pembenih (breeding). Ini merupakan bisnis yang memerlukan skil sangat tinggi. Kedua, budi daya, inilah yang banyak ditekuni oleh sebagian besar pelaku bisnis tanaman hias. Ketiga trading, baik berupa kios tanaman, toko bunga, maupun jasa penyewaan tanaman. Keempat floris (perangkai bunga). Pelaku budi daya tanaman hias, juga masih terbagi menjadi beberapa komoditas.

Pertama tanaman elemen taman. Baik berupa taman rumah tangga, komplek bangunan, taman kota, maupun peneduh fasilitas umum. Jenis tanamannya cukup banyak, mulai dari cover crops (termasuk rumput), terna semusim, tanaman air, perdu, liana, maupun pohon. Bisnis jenis tanaman ini, meskipun bisnis properti sedang tidak terlalu bagus, tetap berjalan dengan intensitas sedang, sampai pelan. Para pelaku budi daya, umumnya juga pedagang, bahkan tidak jarang juga jadi pemborong untuk mengerjakan taman rumah tangga, perkantoran, maupun fasilitas umum.

Kedua bisnis tanaman hias pot, berupa tanaman hias daun (tanaman hias ruangan, indoorplant), tanaman hias bunga, dan anggrek. Bisnis inilah yang paling banyak diekspos media massa, hingga seakan-akan omsetnya paling besar. Padahal, omset paling besar, tetap berasal dari budi daya dan perdagangan tanaman hias sebagai elemen taman. Ketiga, binis bunga potong, baik bunga gunung (mawar, krisan, anyelir), anggrek, maupun daun potong (filo, dan lain-lain). Meskipun kondisi perekonomian lesu, bisnis bunga dan daun potong tetap menarik, karena pasarnya selalu ada.

Pasar bunga dan daun potong adalah hotel bintang, perkantoran mewah, event hajatan (mantu, HUT), dan kematian. Jalur bisnis bunga potong terdiri dari pelaku budi daya, pedagang pasar Rawa Belong, dan floris. Dibandingkan dengan bunga potongnya, prospek bisnis daun potong belakangan ini tampak lebih menarik. Floris, dan pedagang bunga Rawa Belong, jarang kekurangan pasokan bunga, tetapi sangat sering kekurangan daun potong. Sebelum “booming” tahun  2007, anthurium adalah salah satu komoditas daun potong. Sekarang, kembali anthurium menjadi daun potong dengan kisaran harga antara Rp 2.000 sampai Rp 5.000 per lembar.

Sdr, Wartam, sebelum terjun ke bisnis tanaman hias, Anda harus terlebih dahulu menentukan, akan memilih jalur yang mana: elemen taman, tanaman pot, atau bunga potong? Jenis komoditasnya pun juga harus Anda tentukan. Sesuai penjelasan, tampak  Anda cenderung berminat untuk bisnis tanaman hias pot. Di jalur ini, pelakunya sudah banyak, dan hampir semuanya tergabung dalam organisasi. Pelaku bisnis anggrek kumpul dalam Perhimpunan Anggrek Indonesia (PAI), tanaman hias pot bergabung dalam Perhimpunan Florikultura Indonesia (PFI), dan pelaku bunga potong mengelompok dalam Asosiasi Bunga Nusantara (Asbindo).

Booming anthurium beberapa waktu yang lalu, sebenarnya hanya berputar-putar disekitar para pelaku bisnis tanaman hias, yang tergabung dalam PFI. Mereka belanja, kemudian dijual ke sesama teman, dengan harapan harganya akan terus melambung tinggi. Ternyata, tidak pernah ada kebutuhan terhadap tanaman hias anthurium secara riil. Hingga bisnis anthurium mirip dengan bisnis gelembung sabun. Sekarang ini, sebenarnya saat yang tepat untuk mulai bisnis tanaman hias. Sebab tahun 2010, ketika perekonomian Indonesia membaik setelah terbentuk pemerintahan baru, Anda tinggal memetik keuntungannya. # # #

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s